Akal dan Rasa

Pergulatan rasa semakin menipu
Otak dan hati terus bersiteru
Kau hadir di saat hampa
Dimana malam kehilangan mahkotanya
Aku panggul cintaku mengelilingi semesta
Angin kendaraanku cahaya jalanku
Menuju keagungan tuhan yang maha esa
Tanda kasih tersebar sejagat raya
Aku bersimpuh di atas otak dan hatiku
Hanya kau maha penguasa akal dan rasa
Dan semua hanyalah cintaan

Wayang Ukur, 31 Oktober 2013

Idul Adha 1434 H

Di tahun kelima saya semenjak di Jogja, ini adalah shalat Idul Adha pertama saya di kota ini ketika jauh dari keluarga. Ini sangat spesial dikarenakan saya tak perlu begadang untuk menunggu waktu shalat, karena saya adalah tipikal orang yang sulit bangun pagi. Tadi malam saya putuskan untuk tidur lebih awal, dan Alhamdulillah efeknya saya bisa bangun dua jam sebelum waktu shalat ied dilaksanakan.  Dan saya putuskan untuk shalat di alun-alun utara Jogja.

815260035

Jam 6.15 saya sudah berada di titik nol kilometer Jogja. Di sini sudah ramai oleh masyarakat yang bermukim di Jogja untuk berbondong-bondong shalat di alun-alun utara. Mulai dari warga asli Jogja atau pun warga pendatang. Para pengemis musiman pun telah bersiap mengais rezeki dari para jamaah. Tiba-tiba mata ini tertuju pada spanduk berukuran 2×1 meter bertuliskan “Sampah Sisa Koran Letakan Di Keranjang” yang berada di samping gedung BNI 46. Saya tak mengerti maksud dari spanduk itu, koran? keranjang? sampah?

Awalnya saya pikir hanya ada satu keranjang saja di bawah spanduk itu, namun setelah saya berjalan ke arah selatan terdapat lebih dari lima keranjang yang saya lihat dan mungkin lebih jika saya mengitari alun-alun utara ini. Saya pun paham akan maksud dari spanduk itu. Spanduk itu mengisyaratkan para jamaah agar alas koran yang digunakan sehabis shalat Idul Adha tak ditinggal begitu saja, tapi diletakan ke keranjang-keranjang yang sudah disiapkan oleh para panitia shalat Idul Adha di alun-alun utara. Sebelum shalat dimulai, salah satu panitia sudah mengajak para jamaah untuk tak meninggal sisa-sisa koran itu begitu saja, namun diletakan di keranjang. Tentu saja terdengar oleh semua jamaah, panitia itu berbicara lewat pengeras suara masjid di sebelah barat alun-alun utara.

815270677

Selesai shalat Idul Adha saya tak langsung pulang, ada khutbah yang merupakan syarat rukun Idul Adha. Saya perhatikan ada beberapa jamaah yang langsung pulang, namun mata saya langsung tertuju pada tangan-tangan para jamaah yang pulang itu. Rasa lega saya rasakan karena melihat ada yang membawa alas koran itu untuk ditaruh di keranjang. Beberapa dari mereka pun banyak yang langsung pulang dan memilih untuk berfoto-foto daripada meluangkan beberapa detik dari waktu mereka untuk menaruh alas koran itu. Oh mungkin mereka tuli, oleh karena itu mereka tak mendengar kalau sudah diberitahukan ajakan dari panitia tadi. Oh mungkin mereka buta, oleh karena itu mereka tak melihat spanduk besar yang sudah dibuat oleh panitia. Atau mungkin mereka tuli dan buta.

815273513

 

Syukurlah ada beberapa orang berusia renta yang setia memunguti alas-alas koran itu. Mereka memunguti koran di seluruh area alun-alun utara hingga ke persimpangan nol kilometer. Padahal jika manusia yang lebih memilih foto-foto daripada sejenak menaruh alas koran ke keranjang, mungkin pekerjaan kakek pemungut alas koran sedikit terbantu. Walaupun sedikit yang kamu lakukan, banyak membantu kakek itu.

815273956

 

Ya namanya juga manusia, terkadang…

(Sumber Foto : Wahid)

 

Bisakah Kamu Hidup Tanpa Aku?

Ada sepasang kekasih yang sudah cukup lama menjalin kisah cinta. Selama mereka berpacaran, tak ada kata bahkan perilaku yang saling menyakiti satu sama lain.

Ketika suatu hari, wanita itu memberikan tantangan kepada pacarnya.
“Sayang, bisa gak kita gak berkomunikasi dan hidup tanpa aku seharian? Kalo kamu bisa, aku bakal mencintai kamu selamanya.”
Dan pria itu pun menyutujui tantangan dari pacarnya yang sangat dicintainya. Selama sehari pria itu tak bertemu bakan menghubungi pacarnya.

Tanpa sang pria ketahui bahwa pacarnya hanya memiliki waktu 24 jam untuk hidup karena penyakit kanker yang sudah stadium akhir.

Keesokan harinya, pria itu pergi ke rumah sang wanita. Sampai di rumah wanita, tiba-tiba air mata pria itu tak mampu lagi terbendung dan turun membasahi pipi pria itu. Dilihatnya wanita yang sangat dicintainya sudah terbaring kaku dengan sebuah catatan kecil di samping jenazahnya. Catatan yang tertulis pesan singkat “Kamu berhasil sayang, kamu bisa lakukan itu setiap hari didalam hidupmu. I love you..”

****
Don’t ever lost contact with someone you care, you’ll never know what’s gonna happen the next day, or the day after that….

Even a single “hi” or a “good morning” before you know that someone is no longer there….

RA 69

Gambar

Tampil sangat cantik dengan balutan dress biru dengan cardigan hitam membuat semua mata para pengunjung ambarukmo plaza terpaku kepadanya, ditambah heels hitam, semakin mempermanis aksi panggungnya. Tak hanya kaum adam yang menikmati  suara dan aksi panggungnya, kaum hawa pun banyak yang terhipnotis. Sebanyak sepuluh lagu yang dibawakan, membawa perasaanku ke destinasi yang ditentukan oleh rasa yang paling hangat dari sesuatu yang bernama kagum.

Gambar

Malam ini sejenak lupa pada keadaan  hidup yang tak jelas. Namun ketika suaranya menghiasi telingaku, sekejap membuat hidupku tak lagi abstrak. Entah puja-puji apa lagi yang bisa kutulis untuknya. Disetiap aku mencari kesalahan-kesalahan aksi panggungnya, yang kutemui hanyalah kekaguman dari aksi panggungnya. Keadaan Jogja malam itu memang masih agak ramai karena dibeberapa ruas terdapat acara musik juga. Tempat yang kupilih ini memang menyenangkan, karena hanya lewat alunan suara gadis itu yang pantas dinikmati ketika hidup ini terasa tak menyenangkan. Aku tak menyesal.

Gambar

Terimakasih Raisa Andriana

 

Hamidi Asfi Hani

Ambarukmo Plaza, 13 Oktober 2013 : 21.00 WIB

No Bra Day !!!

Entah kapan dimulainya gerakan No Bra Day. Gerakan yang diperingati setiap tanggal 13 Oktober ini mengajak agar kaum hawa sadar akan bahaya kanker payudara. Karena membangkitkan kesadaran tentang sesuatu demi kebaikan memang perlu adanya dilakukan. Kanker payudara merupakan salah satu penyakit paling mematikan di kalangan perempuan. Tidak heran, kewaspadaan mengenai penyakit ini terus-menerus didengungkan. Kanker payudara adalah sesuatu yang harus ditanggapi serius, dan Anda perlu memeriksakan diri mengenai potensi penyakit ini.

Unik?
Mungkin kata itu yang cocok menggambar kegiatan bermisi edukasi kesehatan ini. Cara unik ini diperuntukan untuk mencuri perhatian kaum hawa tentunya (dan mungkin juga kaum adam hahaha). Kegiatan dari gerakan ini yaitu dengan tidak menggunakan bra atau kutang atau bh atau apapun sebutan lainnya selama 24 jam atau seharian penuh, sebagai simbol betapa berharganya memiliki payudara yang sehat. “Ladies, tak peduli apakah bentuk payudara Anda paling indah di dunia, atau apakah sudah kendur. Payudara Anda butuh bernafas. Pada tanggal ini, mari kita gunakan 24 jam yang ada untuk melepas payudara yang hebat tersebut dari perangkap payudaranya”. Di masa lalu, sikap para perempuan untuk tidak mengenakan bra sempat menjadi kontroversi. Pada akhir tahun 1960-an sempat terjadi aksi pembakaran bra sebagai penolakan atas persepsi yang terbangun terhadap tubuh perempuan dan tuntutan sosial. Pada tahun ’70-an, kebebasan untuk tidak memakai bra terjadi di mana-mana, terlepas dari pandangan politik mereka. Namun pada tahun ’80-an dan ’90-an, ada persinggungan pesan mengenai bra sebagai simbol profesionalisme, dan simbol kebebasan seksual. Pada tahun 1999, pesepakbola Amerika Brandi Chaisten melemparkan kausnya setelah tendangan pinaltinya yang menghasilkan kemenangan di final Women’s World Cup. Sport bra-nya menjadi simbol karakter perempuan yang baru, yaitu yang atletis, kuat, dan percaya diri.

Nah!
Yang menjadi permasalahannya adalah, apakah gerakan ini dapat diterima oleh masyarakat Indonesia yang adat-istiadatnya ketimuran dan jelas berbeda dengan kubu negara yang adat-istiadatnya kebaratan.
Apakah kegiatan ini memenuhi nilai-nilai etika yang ada di masyarakat?
Apakah para wanita di negeri ini “pantas” jika mengikuti kegiatan ini ?
Tak semua para wanita sepakat dengan ajakan untuk going bra-less. Sekarang, bra menjadi pakaian pelengkap yang selalu kita kenakan saat beraktivitas sehari-hari. Beraktivitas dan bekerja sendiri saat ini menjadi suatu kebebasan yang dilawan oleh para pembakar bra di tahun ’60-an silam. “Inilah yang selalu kukatakan pada perempuan muda yang meminta nasihat mengenai karier padaku. Aku selalu mendorong mereka untuk selalu memakai bra,” ujar Tina Fey, aktris, komedian, penulis, dan produser, yang meraih banyak penghargaan di bidang film tersebut. “Bahkan ketika Anda merasa tidak membutuhkannya, pakai saja. Anda tak pernah akan menyesalinya.”

Oke..
Kalau kita mengikuti agama mayoritas di Indonesia, kegiatan ini memang tidak cocok diadakan di negara ini. Namun mengingat Indonesia adalah negara yang menganut sistem demokrasi, kebebasan menyalurkan aspirasi-aspirasi sekaligus berpendapat dan bersuara, memang sah-sah saja.

Ya,
Seperti yang kita ketahui, kiblat perilaku (beberapa) masyarakat Indonesia memang dari sana. Banyak juga yang mengikuti kegiatan-kegiatan yang berasal dari kubu barat yang diikuti oleh masyarakat Indonesia. Dibalik keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan-kegiatan dari luar Indonesia itu, ada yang paham dan ada yang hanya ingin dibilang keren. Masalahnya masyarakat yang paham itu bisa dibilang followers. Mengapa mereka tidak menjadi pencetus saja? Toh bangsa kita ini jumlahnya jauh lebih banyak dari jumlah bangsa pencipta trend-trend yang sedang “in”. Siapa tahu jika pencetusnya dari bangsa sendiri yang mengikuti norma-norma yang berlaku, mungkin tidak akan ada lagi perdebatan.

Ya lakukan yang menurut anda benar. Tak usah memprovokasi sekitar anda, memangnya anda lebih benar dari yang anda provokasi?

Hamidi Asfi Hani
Gowongan, 13 Oktober 2013

5.5

16.485.120 detik

Wulan, apa kabarmu disana? Semoga kau selalu baik-baik saja. Semoga engkau masih menunggku di pelataran teras rumah mu.

Pertanyaan singkat tadi hanyalah sebuah doa kecil dari aku ketika papan huruf ini bergerak secara tak ramah. Walaupun aku disini, di tempat yang jauh dari keberadaanmu.

Aku merindukanmu, aku merindukan masa dimana kita saling bertukar kata. Walaupun botol bir ini dan beberapa batang rokok tak akan mampu mengganti kehadiranmu, aku masih saja menzinahi mereka karena hanya dengan itu aku bisa menyampaikan salam rinduku kepadamu. Namun relakah kamu jika aku bertukar liur dengan botol bir itu? Dalam hati aku berharap kau segera memecahkannya dan kulum bibirku dengan penuh gairah.

Wulan, sebentar lagi mentari akan melahirkan pagi tapi aku disini masih menggendong rindu yang tak terasa ringan. Kau yang tak pernah enyah dari hati, karena kamu bukan lagi orang asing dalam hidupku. Jika kamu bertanya alasan apa yang membuat aku sayang kepadamu, aku tak bisa menjawab pertanyaanmu. Ini semua tulus.

1980 hari jemariku telah mengisi ruang diantara jemarimu. Kamu yang selalu sadarkan aku dari jerat putus asa ketika aku kehilangan akal pikiran. Kamu yang selalu mengantar emosiku pulang ke hati yang penuh kerendahan ketika aku mabuk dengan alkohol oplosan pinggir jalan. Kamu adalah cahaya silau yang menusuk mataku yang kecil namun tatapanmu mampu meneduhkanku. Kamu tahu mengapa aku selalu menulis? Karena tulisan ini adalah media satu-satunya ketika tanganku sedang rehat memelukmu ketika jarak memisahkan kita. Cinta kita ini sederhana sayang, karena cinta sejati itu tak rumit.

Hamidi Asfi Hani
Gowongan, 11 Oktober 2013
Teruntuk spesial Wulan Aprilia S