bloGoblog

Bersenggama dengan layar berwarna apa, bisu kata-kata di kepala.
Jemariku dehidrasi, huruf-huruf yang tak juga bersahabat dengan malam.

Advertisements

Ibu

Ibu
Ibu.. Malam hampir ditelan pagi.
Aku sulit memejamkan mata,
kali ini aku benar-benar terjaga.
Ada engkau berupa menyerupai suara.

Ibu
Ibu.. Apakah engkau sedang meremas rindu?
Hingga membuatku disini sulit berteman dengan ketenangan?

Ibu
Ibu.. Mungkin tidak mungkin ubtuk melupakan masalalu,
aku sungguh tidak membencimu, aku-pun tidak melupakanmu.
Tapi aku sangat membenci merindukanmu!

Perlahan kau selalu hadir,
pagi, siang, senja, matahari tergulung bulan.
Kau selalu mendatangaiku,
dikala aku sedang bercermin.

Kenapa? Kenapa wajah ini menyerupaimu? Kenapa?
Kenapa aku selalu bisa melihatmu di cermin ini?
Tapi mengapa aku tidak bisa memelukmu di tubuhku?

Hamidi Asfi Hani
Kontrakan Gowongan, 22 Desember 2013
coppas: Tiga