Football Without Supporters is Nothing !

cn69

cn69

CN 69 coreo.

“Tidak ada TV-industri yang tampaknya peduli tentang para pendukung/tifosi, perlu diketahui bahwa tanpa gemuruh kerumunan para suporter, sepakbola bukanlah apa-apa. Sepakbola adalah gairah, dan akan selalu begitu. Tanpa gairah, sepakbola akan mati, yang ada hanya 22 orang yang berlarian di lapangan dan menendang bola. Itu omong kosong. Suporter lah yang menjadikan sepakbola menjadi sesuatu yang ISTIMEWA.”

SempreInter.com

Advertisements

hai haters :(:

and I really want to thank you
I call you hater
only because of your actions
but you give me satisfaction
because I know that if I don’t have you, I’m not doing a damn thing
it’s like paul wall without the bling
alicia without the keys
tank without him begging please on his knees
and you don’t even know much I love you hating on me
you make it so clear to see
now I see why I’m hot
it is only because of you
so thank you, my haters
keep doing what you do

just do weed ~ happy 420

Halo.. Namaku Manusia.
Secara kodrat aku memiliki sistem endocannabinoid dalam tubuh, secara universal dan dari Tuhan. Aku memilih memanfaatkan sistem yang alami ini untuk menjadi lebih sehat dan lebih baik. Tapi ada manusia lainnya yang percaya bahwa mereka memiliki “hak” atau “kewajiban” untuk mencegahku kembali ke hal yang alami. Tapi, sebagai makhluk yang pengetahuan, akal, cinta damai dan kebebasan untuk berpikir, aku percaya bahwa tidak seorangpun berhak untuk menjauhkan orang lain dari kodratnya. Aku manusia. Dan aku lebih memilih ganja untuk pengobatan secara fisik dan ketajaman batin. Alami dan tidak beracun. Dan yang terpenting adalah tidak mematikan. 0 kematian dan banyak kebahagiaan. Saya cinta ganja dan hukum atau opini tidak akan membunuh kodratku.

Hai.. Aku Ganja.
Aku bukan pembunuh atau perusak generasi muda. Aku hanya tanaman yang diciptakan Tuhan dengan sejuta manfaat. Zat THCku mungkin bisa membuatmu melayang dan serasa berada di surga. Tapi tahukah kamu, disaat THCku itu mengalir dalam darahmu, aku berusaha membantumu berfikir lebih terbuka, menajamkan daya ingatmu dan membuat darahmu kebal dari berbagai penyakit.
Aku juga bisa membuat hatimu senang dan damai. Lalu aku bisa membuat hidup lebih berkualitas bagi orang-orang yang difonis kanker atau HIV Aids, bahkan aku bisa membunuh penyakit tersebut. Tapi aku tahu, bahwa kamu tidak pernah tahu tentangku sedikitpun. Ya kan?
Bukan cuma itu kawan, aku masih punya banyak manfaat lain yang Tuhan takdirkan untukku. Aku bisa menjadi pelindungmu dengan rumah yang ramah lingkungan. Aku bisa menghangatkan tubuhmu 7x lebih hangat dibanding dari kaos katun yang biasa kamu kenakan. Bahkan aku bisa kamu konsumsi dan membuat tubuhmu sehat dan bergizi dengan sejuta protein yang ada pada tubuhku. Itulah aku.. Ganja.
Jangan pernah dengar apa yang orang-orang katakan tentangku. Mereka semua adalah orang-orang yang dibayar oleh perusahaan-perusahaan alkohol. Yang takut bangkrut jika aku dilegalkan di negeri ini, Indonesia. Padahal aku sudah lama hidup di Aceh. Jika aku manusia, aku adalah saudara sebangsamu. Maka bebaskanlah aku sayang. Hiduplah denganku. Dengan kebahagiaanku.. *repost tantemerry*

Selamat Menikah :’)

bukan hanya untuk mempersatukan kedua keluarga
tapi atas nama kehidupan, cinta
dan untuk surga atau neraka

perkataan bersejarah diakadkan
jika nanti terluka tak apa, kalian akan bertahan
untuk merubah perbedaan menjadi sebuah harapan yang akan menjadi kenyataan

kini,
kalian akan berjalan seiring dunia yang menua
bersama pasangan temukan asa
melangkah jalan dengan penuh tawa

Selamat Menikah (mas) Yusuf dan (mbak) Nurul
:’)

IMG_9157

IMG_9070

SAM_1185

 

27042014680

Hamidi Asfi Hani
Kediaman (mbak) Nurul
Sabtu, 19 April 2014

WANI NGALAH LUHUR WEKASANE

Pepatah Jawa tersebut secara harfiah berarti “berani mengalah, akan mulia di kemudian hari”.

Orang boleh saja menganggap remeh atau bahkan mencemooh pepatah yang sekilas memperlihatkan makna tidak mau berkompetisi, pasrah, dan penakut. Namun bukan itu sesungguhnya yang dimaksud.
Wani ngalah sesungguhnya dimaksudkan agar setiap terjadi persoalan yang menegangkan, orang berani mengendorkan syarafnya sendiri atau bahkan undur diri. Lebih-lebih jika persoalan itu tidak berkenaan dengan persoalan yang sangat penting.
Pada persoalan yang sangat penting pun jika orang berani mengalah (sekalipun ia jelas-jelas berada pada posisi benar dan jujur), kelak di kemudian hari ia akan memperoleh kemuliaan itu. Bagaimana kok bisa begitu? Ya, karena jika orang sudah mengetahui semua seluk beluk, putih-hitam, jahat-mulia, culas-jujur, maka orang akan dapat menilai siapa sesunggunya yang mulia itu dan siapa pula yang tercela itu. Orang akan dapat menilai, menimbang: mana loyang, mana emas.
Memang, tidak mudah bahkan teramat sulit dan nyaris mustahil untuk bersikap wani ngalah itu. Lebih-lebih di zaman yang semuanya diukur serba uang, serba material, hedonis, dan wadag semata seperti zaman ini. Namun jika kita berani memulai dari diri sendiri untuk bersikap seperti itu, dapat dipastikan kita akan beroleh kemuliaan di kemudian hari sekalipun sungguh-sungguh kita tidak mengharapkannya, karena kemuliaan itu sendiri tidak bisa diburu-buru atau diincar-incar seperti orang berburu burung. Kemuliaan didapatkan dengan laku serta keikhlasan. Jika kita mengharap-harapkannya, maka semuanya justru akan musnah. Kemuliaan itu sekalipun berasal dari diri kita sendiri namun orang lain lah yang menilainya. Bukan kita. Kita tidak pernah tahu apakah kita ini mulia atau tidak. Orang lain lah yang bisa menilai itu atas diri kita.
Kita belum mati kan? Ya kita masih bernyawa. Masih bisa melihat, merasa, meraba dan kita masih berakal kan? Tapi terkadang itu semua menguap, menghilang dalam hanyutan keegoisan. Karena sering kali jika kita berada dalam zona nyaman, kita enggan beranjak. Ya kita manusia bukan mesin. Terlepas dari bicara soal mesin, apa kita terlalu penakut untuk menerima sebuah cobaan dan tantangan, makanya kita enggan keluar dari zona nyaman tersebut?
Oke, setiap (kita) orang dalam kehidupan pribadinya pasti pernah mengalami pergulatan. Entah itu masalah cintanya, masa depannya, keluarga dan sebagainya. Jika mengutip kata George Bernard, “Life isn’t About finding yourself, life is about creating yourself”, karena kita hidup berdasarkan keputusan yang kita ambil dan itu akan berproses agar kita menjadi manusia terus menerus seperti itu hingga mati. Kita tidak akan pernah menemukan jati diri, kita hanya bisa menciptakan dari apa yang telah kita putuskan.

Hamidi Asfi Hani
Gowongan, 12 April 2014
*wiptivavainternet*

Tuan Yang Merasa Keranjingan Main Perasaan

“Tua itu Pasti, Dewasa itu Pilihan”
Sebuah jargon yang kerap kali terbang di atas kepala tetapi bersarang di hati.

Ketika mulut selalu tersumbat oleh sampah; bualan yang lebih pantas dimasukan ke dalam truk oranye diiringi lalat-lalat hijau yang bergembira di atas truk.

Stok kesabaran selalu dikuras oleh bising suara, namun Tuhan selalu menggosok voucher sabar dan mengisikannya ke dalam jiwa.

Lalu mulut selalu menetaskan kata maaf dibarengin air yang mendadak terhenti di kantung mata.
Oke semua baik-baik saja.

Baik? Tapi tak benar saat jiwa yang lelah menampilkan potret hidup yang (sepertinya) bahagia.

Negoisasi bukan jalan keluar, karena sebuah negoisasi hanya menjadi sebuah obsesi birahi. Ketika habis semua mani, semua begitu saja terlewati.

Semua hanya celoteh belaka. Demi pribadi hingga tak ingat generasi nanti; anak cucu apakah bisa berdikari?

Sementara hari terus berganti, harus tetap berjalan walau tak ada yang menemani.

Pernahkah susah dan terperangkap sunyi dan digilas waktu? Coba sesekali rasakan, maka akan ketagihan jika perasaan selalu dipupuki kesabaran dari Tuhan.

Ini bukan proses pengukuhan posisi agar sebuah eksistensi tidak menguap dan hilang dikikis presepsi akademisi.

Bahagia itu sederhana, melihat (dan membayangkan jadi) anak kecil yang selalu tersenyum dan tertawa karena tak ada beban di dalam hati dan kepala.

Manusia Dikutuk Untuk Menjadi Bebas

Sifat manusia menjadi sebuah pajangan yang semakin lama terasa semakin penuh dengan kekosongan dan jauh dari esensi kemanusian

Hantu berwujud manusia melontarkan sesuatu yang memaksa aku dengan segala realita dunia

Jika berbicara tentang kepedulian sosial, manusia seketika menjelma menjadi Tuhan. Seperti kekuasaan pramuparkir atas kendaraan yang datang pergi bergantian

Aku sudah tak peduli jika hatiku terpenjara lagi, karena hidup di negeri ini diperlukan energi yang berjejalan dengan emosi

Nyaman bukan lagi sebagai zona aman untuk sebuah perasaan. Belas kasihan selalu dipupuk agar enggan beranjak. Apakah perlu hipokrit menjadi sebuah cara untuk bertahan?

Ibu pertiwi terus saja menangisi namun tak ada sesuatu yang bisa dia beri. Matahari pun sudah muak menerangi. Hati telah sepi untuk pribadiku sendiri

Kearifan berteman kemunafikan. Kejujuran melahirkan kebohongan. Karena ini zaman dimana Tuhan menenggak alkohol oplosan di pinggir jalan karena dikecewakan oleh manusia yang selalu memberi cobaan

Mata masih terjaga menyaksikan segala prahara. Manusia memang selalu banyak perintah yang berkamuflase disetiap penyakit yang bernama lupa, walau itu disengaja

Semoga tulisan mampu mengukirkan goresan di penglihatan mereka. Semoga perubahan bukan hanya harapan.