Tuan Yang Merasa Keranjingan Main Perasaan

“Tua itu Pasti, Dewasa itu Pilihan”
Sebuah jargon yang kerap kali terbang di atas kepala tetapi bersarang di hati.

Ketika mulut selalu tersumbat oleh sampah; bualan yang lebih pantas dimasukan ke dalam truk oranye diiringi lalat-lalat hijau yang bergembira di atas truk.

Stok kesabaran selalu dikuras oleh bising suara, namun Tuhan selalu menggosok voucher sabar dan mengisikannya ke dalam jiwa.

Lalu mulut selalu menetaskan kata maaf dibarengin air yang mendadak terhenti di kantung mata.
Oke semua baik-baik saja.

Baik? Tapi tak benar saat jiwa yang lelah menampilkan potret hidup yang (sepertinya) bahagia.

Negoisasi bukan jalan keluar, karena sebuah negoisasi hanya menjadi sebuah obsesi birahi. Ketika habis semua mani, semua begitu saja terlewati.

Semua hanya celoteh belaka. Demi pribadi hingga tak ingat generasi nanti; anak cucu apakah bisa berdikari?

Sementara hari terus berganti, harus tetap berjalan walau tak ada yang menemani.

Pernahkah susah dan terperangkap sunyi dan digilas waktu? Coba sesekali rasakan, maka akan ketagihan jika perasaan selalu dipupuki kesabaran dari Tuhan.

Ini bukan proses pengukuhan posisi agar sebuah eksistensi tidak menguap dan hilang dikikis presepsi akademisi.

Bahagia itu sederhana, melihat (dan membayangkan jadi) anak kecil yang selalu tersenyum dan tertawa karena tak ada beban di dalam hati dan kepala.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s