Sewindu Gempa Jogja dan Lumpur Lapindo – 27 Mei 2014

Senja kini berwarna oranye, dengan burung gereja membentuk shaf di kabel listrik yang menggantung. Aku hanya duduk seraya bertanya, apakah mereka nyaman berada di situ? apakah tak ada ranting pohon yang lebih aman untuk dipijaki?

Di kala Jogja terlalu berisik, semakin malam semakin menjerit. Aku mencicipi kopi yang berasal dari pulau Dewata atau Bali dan ditemani selinting ganja di sela-sela jari. Bicara soal alam, Jogja dan manusia, aku teringat atas peristiwa yang tak akan begitu mudah dilupakan. Membawa imajinasiku mengungkit peristiwa sewindu yang lalu. Peristiwa yang tak mungkin begitu mudah berlalu.

Aku bertanya pada diriku sendiri, dalam ruang penuh kegelisahan. Asap dari kendaraan bermotor pun tak henti-hentinya mengoplos udara untuk dikonsumsi makhluk hidup. Nasib alam ini akan na’as. Cuaca dunia ini akan panas. Semua terampas oleh manusia yang tak pernah puas. Akibatnya banyak manusia yang meregang nyawa. Ada juga manusia yang bercoloteh tentang alam yang agar selalu dijaga. Ada pula manusia yang bertindak untuk alam tanpa berbicara. Keberagaman sifat mereka adalah kecerdasan Tuhan untuk membedakan mana sifat manusia dan mana sifat hewan.

Jogja, 27 Mei. Hari ini selasa dan tepat sewindu yang lalu, peristiwa yang membuat air mata tak terbendung terjadi. Gempa Bumi. Gempa yang meluluhlantakkan beberapa wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2006. Banyak korban jiwa dan kerugian materil yang dirasakan warga Jogja. Saat ini Jogja telah bangkit, namun bagaimana dengan Sidoarjo?
Sidoarjo pada sewindu yang lalu pun menemui mimpi buruknya. Tragedi banjir lumpur panas mulai menggenangi areal persawahan, pemukiman penduduk dan kawasan industri. Lama-kelamaan mungkin seluruh wilayah sidoarjo akan tenggelam oleh lumpur jika tak ada peran yang berarti untuk menanggulangi kejadian itu.
Semua peristiwa yang terjadi di nusantara ini adalah tanggung jawab kita semua sebagai makhluk hidup yang dibekali akal pikiran dan perasaan.

Semoga semakin bersahabat dengan alam. Jangan menjadi buta dan tuli terhadap sekitar. Namun tak bisu untuk mengomentari sekitar.

Gowongan, 27 Mei 2014
Hamidi Asfi Hani

Tentang Rasa Syukur

Ini bukan tentang lebih tua, seumuran, atau lebih muda.

Ini tentang yang menyeimbangkan hidup dan yang bisa berjalan beriringan.

Yang memberi kedamaian di hati, kenyamanan di sisi dan kasih sayang tiada henti.

Tentang tertawa bersama, saling mendukung, mendoakan satu sama lain, berbicara lepas tak berbatas tanpa berpikir ini pantas atau tidak.

Ketika dunia begitu kejam, dia menjadi tempatmu untuk selalu pulang.

Yang bisa membuatmu sangat sabar dan berusaha meski sulit.

Menerimamu apa adanya, meskipun kamu cuma seadanya.

Wajah mungkin tak rupawan tapi kebersamaan dengannya itu sesuatu yang kamu yakin harus kamu perjuangkan.

Masa lalunya tidak kamu persoalkan karena tahu itu yang membentuknya sekarang.

Kekurangan masing-masing adalah tugas bersama untuk belajar saling menerima dan memperbaiki agar jadi lebih baik.

Tentang dia yang kamu ikhlas seumur hidup menjadi makmum atau imamnya.

Membuatmu bangga menjadi ibu atau ayah dari anak-anaknya.

Change!

A word to my friends
Living on the wild side
That light which flickers far off in the distance
It just might lead you out of here someday
A crumbling afternoon intersection
I see a flock of birds without wings
Striving to survive
Still unaware of what they are
Wings burned by the sun
They can’t even fly but…
They all have one ambition
I wanna fly and keep flying
A word to my friends
Living on the wild side
What does it mean to live as yourself?
Breaking free from the shell that holds you
With every season comes a new self-discovery
I wanna change and keep changing
I wanna change!
I wanna change!
Change!

ost crows zero

Opera Sanggar Terpidana : Di Kala Senja Ku Penuhi Mimpi Dengan Cinta

Opera Sanggar Terpidana : Di Kala Senja Ku Penuhi Mimpi Dengan Cinta

Selasa, 20 Mei yang lalu di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta dipenuhi dengan para muda-mudi Jogja. Namun kebanyakan dari muda-mudi tersebut berasal dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, sisanya dari para penggiat seni, mahasiswa/i dan lain-lain. Jelas mahasiswa/i FH UII lebih banyak, acara yang dibuat oleh Sanggar Terpidana LEM FH UII ini mengangkat pementasan opera dengan tema Di Kala Senja Ku Penuhi Mimpi Dengan Cinta.

Saya pikir jika mampir ke gedung yang terletak di barat jalan Malioboro dan melihat pertunjukan opera itu bisa membuat malam saya lebih menyenangkan. Tapi kenyataannya tanpa saya pikir, saya akan tetap melihatnya. Alasannya bukan hanya musikalisasi puisi atau opera yang membuat saya ingin datang, namun beberapa mahasiswa/i UKM Sanggar Terpidana yang membuat acara ini adalah teman saya. Ya sebagai teman yang baik, selayaknya mendukung acara mereka. Yap!

Acara yang berlangsung pada malam hari itu, di mulai dari selepas Isya sampai kurang lebih jam 22.00 WIB. Saya dan Angge berangkat lebih awal dari dua rekan saya di Gowongan 204. Sebenarnya penghuni Gowongan 204 banyak, namun mereka adalah panitia acara itu. Saat masuk ke area pelataran depan gedung, ternyata belum dipenuhi oleh para penonton. Dengan jam masih menunjukan pukul enam petang, saya dan rekan saya berdiskusi ringan di gazebo dan sembari menunggu dua rekan saya, Om Aconk dan Rama.

Karena Om Aconk dan Rama belum datang, saya dan Angge sepakat untuk menunggu di dalam. Gedung yang beraroma sejarah itu memperlihatkan sisi-sisi organ dalamnya yang memang cocok untuk dijadikan tempat bagi para kawula muda memperlihatkan karya mereka. Tak lama terasa semakin sesak, para penonton pun sudah berdatangan. Karena acara itu diisi oleh beberapa teman saya, maka tak ada rasa canggung.

Sebelum mengisi buku tamu, saya bertemu dengan kawan yang sudah lama tak berjumpa, Muhsin. Muhsin ini kalau tidak salah adalah ketua dari UKM Sanggar Terpidana. Usai mengisi buku tamu, saya pun masuk ke dalam ruangan yang cukup luas dan nyaman. Di sisi selatan panggung terlihat Wulan yang bersuara merdu sedang mendendangkan beberapa syair. Akhirnya kupilih kursi deretan selatan.

Selama kurang lebih satu jam pementasan opera yang terlebih dahulu diawali dengan musikalisasi puisi, akhirnya acara keren itu harus berakhir. Saya pun tak henti-hentinya kagum atas acara yang menarik itu dan memberi selamat kepada rekan-rekan saya atas kinerja mereka yang sungguh luar biasa. Termasuk tulisan ini saya buat untuk mengapresiasikan rasa kagum saya ke mereka.

Akhirnya saya dengan mengutip tulisan teman saya, Wipti, yang juga sebagai penggiat seni di Yogya, katanya : “Saya pikir sudah seharusnya pemuda seperti ini kreatif dan menyenangkan. Berpikir soal bagaimana menjadi sarjana yang baik dan calon buruh yang teladan itu kadang jadi proyek penting, tapi jadi individu yang menyenangkan rasanya bisa jadi opsi yang lebih menggiurkan.” ~ Wipti Eta

Di Kala Senja Ku Penuhi Mimpi Dengan Cinta
Kau berhak bermimpi
Kau berhak untuk mewujudkannya
Tuhan tidak akan membencimu
Siapapun dirimu
Dan
Apapun mimpimu
Selama hal itu baik bagi sesama
Maka janganlah tunggu
Sampai senja

-foto menyusul-

Not History, this is My-story – Cinta Tak Pernah Munafik

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Banyak orang bilang kalau masa Sekolah Menengah Atas itu masa-masa indah. Entah apa yang membuat mereka berpendapat semacam itu. Pendapat seperti itu mungkin bisa kuterima, namun bagiku masa indah adalah ketika aku merasakan cinta pertama. Ya ketika aku berada saat SMP, dimana aku merasakan hangatnya cinta pertama. Hembusan cinta serta diterpa angin kasih sayang akan terus mengudara sampai kapanpun.
****
Sinar matamu yang hangat namun menyejukan, terpancar tepat di bola mataku. Detak jantungmu menggetarkan tunas cinta di hatiku yang akan berbuah kesetian untukmu. Itu semua kurasakan ketika bola mata ini memandangmu saat pertama kali.
Aku Ari. Ketika itu..

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Pada saat tahun ajaran baru, berjemur di pagi hari atau lebih populer disebut “upacara” memang sudah menjadi rutinitas sekolahku. SMP-ku jarang mengadakan upacara, beda seperti sekolah-sekolah lain. Bahkan seringkali setiap senin selama sebulan, kami tidak ada upacara. Upacara hanya pada setiap tahun ajaran baru, menjelang ujian, dan sesuai keinginan kepala sekolah…

 

Waktu itu, aku berdiri di shaf paling belakang. Walaupun mata guru tak bisa menjangkau, matahari selalu saja bisa mengawasi gerak-gerik siapapun. Kulirik jam tangan yang kulilitkan di tangan kananku.
“Set dah baru jam 8.. Lama bener deh”, gerutuku sembari menghentak-hentakan pelan kaki. Pikiranku melayang, mengambang melintasi celotehan kepala sekolah yang masih gagah memberi petuah-petuah keramatnya.

 

Ketika pikiranku masih mengudara, tiba-tiba seorang cewek yang berada dua shaf di depanku berjalan ke arah kepala sekolah. Kepala sekolah menjelaskan bahwa cewek itu adalah Hani. Seorang siswi yang sama sepertiku dan seperti siswa-siswi kelas VII lainnya, sebagai murid angkatan baru, yaitu angkatan 35 di SMP tersebut. Aku terus bertanya-tanya dalam hati, “siapa cewek ini? kenapa dia kok maju ke depan?”. Namun kulihat wajah Hani yang tak berantusias. Kembali ku bertanya dalam hati, “kenapa cewek itu kok gak seneng ye mukanya”
Pertanyaanku terjawab ketika kepala sekolah, Bapak Nur Alam mengatakan “Asfi Hani ini adalah siswi berprestasi dalam bidang bulutangkis tingkat SD se-Jakarta”. Hanya itu yang ku dengar untuk mengetahui siapakah cewek itu.

 

Tubuhnya mungil setinggi bahuku, kulitnya sedamai warna senja, dengan rambut hitam pendek senikmat kopi yang menambah kesan cantik natural pada dirinya. Aku pun kembali bertanya apakah dia sekelas denganku atau tidak. Aku memang belum terlalu mengenal teman-teman sekelasku, yang ku tahu hanya 70% saja dari seluruh penghuni kelas ku, kelas VII E.

 

Kulihat jam di tanganku, akhirnya sudah jam 08.30, upacara bendera akhirnya selesai. Aku pun memutuskan mampir sejenak ke kantin yang berada tepat disamping kelasku. Lagi asyik menikmati segelas susu putih tawar hangat dibarengi lawakan-lawakan teman-teman kelas, suara dari guru BP membuat kita kelabakan.
“Edwin, Dimas, Ari… ngapain masih di kantin, masuk kelas !!” aku mendengar ucapan itu dari mulutnya, lalu aku beserta 7 temanku langsung buru-buru kembali ke kelas. Setelah masuk kelas, betapa hatiku dikagetkan ketika cewek yang kulihat tadi saat upacara ternyata sekelas denganku. Selama berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar hingga tiba saat pulang sekolah, perhatianku tak henti-hentinya meperhatikan dia.

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Di malam yang penuh dengan kerlap-kerlip bintang di angkasa. Ketika angin menyentuh kulitku dengan lembut. Sebuah rasa yang belum pernah kurasa sebelumnya. Rasa yang lahir dari dalam hati. Rasa yang tak bisa aku pahami. Rasa itu masuk ke otakku dan bercampur aduk dengan lamunanku. Rasa itu memunculkan memori yang ku alami hari ini, menghasilkan bayang-bayang akan hadirnya sosok cewek yang kulihat tadi. Cewek yang membuat pikiranku buyar sewaktu upacara tadi.
***

 

Tak terasa sudah 5 bulan aku bersekolah dan sebentar lagi akan ada ujian semester. Namun ujian semester tak membuat aku dan teman-teman satu kegiatan ekstrakurikuler yaitu sepakbola terganggu. Dikala Senin hingga Jum’at kami masih bermain futsal selepas pulang sekolah jam 15.30. Dan hari Sabtunya ekskul sepakbola.

 

Satu bulan setelah ujian, 4 dari keseluruhan siswa kelas VII yang mengikuti ekskul sepakbola, aku salahsatu yang terpilih masuk tim futsal sekolahku untuk mengikuti turnamen futsal se-JaBoDeTaBek. Karena ekstrakurikuler futsal belum ada di sekolahku, maka para pemain diambil dari ekskul sepakbola. Senang bercampur bangga itu yang kurasa. Aku ingin membagi kebahagian ini bersama Hani, tapi aku tak tahu caranya. Ketika istirahat siang di kantin, aku dan teman satu ekskul sedang asik bercanda gurau.
“Eh ri kenapa lu merhatiin Hani terus, ternyata bener ye lu naksir.. hahaha ciyeee”, ledek Edwin yang memang terkenal jahil. Anak-anak yang lainnya pun ikut meledek aku. Aku hanya diam seraya mukaku memerah.
“Han, Hani sini dong.. Ari masuk tim futsal nih, gak mau kasih ucapan selamat..”, tambah Rezki ikut meledekku. Kulihat Hani hanya senyum membisu.
***

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Sebentar lagi kenaikan kelas dari kelas VIII ke kelas IX. Selama itu aku masih merahasiakan cintaku ke Hani. Sebenarnya bukan rahasia lagi aku cinta kepada Hani, karena di setiap puisi yang kutulis untuk mading sejak kelas VII, aku selalu menuliskan inisial namanya, AH. Asfi Hani. Aku memang rajin menulis puisi dan cerpen untuk mading. Disela waktu antara kegiatan belajar dan futsal, aku selalu gemar membaca dan menulis apa saja.
Walaupun kelas VIII aku sekelas dengannya lagi, namun aku masih tak berani mengungkapkannya. Aku dan Hani juga sudah beberapakali terlibat dalam kerja kelompok bersama. Aku tak tahu apa yang membuat hatiku ciut mengatakan cinta kepadanya, padahal menurut teman-temanku, Hani juga suka kepadaku. Ya karena Hani cewek, Ia menginginkan agar aku yang menembaknya. Karena dorongan dari ansor (anak sore) sebutan untuk kami yang selalu futsal setelah jam sekolah usai dan dorongan dari teman-teman satu gank Hani, akhirnya aku beranikan untuk menembaknya tepat sehari ketika aku mau mengikuti turnamen futsal yang diadakan salah satu tv swasta di Indonesia esok harinya.
Tepat di koridor samping lapangan futsal biasa aku berlatih yang sekaligus tempat dimana aku pertama kali melihat Hani, aku mengungkapkan semua rasa cinta kepada cinta pertamaku, Hani.
“Hani, sebenarnya sudah lama mulut ini tak mampu menahan lagi hasrat untuk ucapkan sebuah kata cinta untukmu. Setelah aku memendam perasaan selama kurang lebih 2tahun, hari ini tepat tanggal 20 April jam 16.20, aku ingin menghabiskan semua cintaku hanya untukmu. Membagi setiap dukamu untukku, dan membagi setiap sukaku untukmu. Maukah kamu jadi tujuan dimana rasa cinta ini berlabuh?”
“Terima han.. Udah terima aja han, Ari tiap hari mikirin lu tuh.. Ciyee Hani, terima dong Ari.. Terima han, si Ari tulus banget tuh.. Lu juga sayang kan han sama Ari, terima aja.. ”, sahut anak-anak ansor dan teman-teman baik Hani memberi dukungan kepadaku.
“Aku.. Aku.. Aku belum bisa kasih jawaban ke kamu ri..”, jawab Hani sekaligus meninggalkan aku.
Aku hanya bisa terdiam dan anak-anak yang lainnya pun kaget mendengar perkataan Hani. Yori, Amel, dan teman baik Hani yang lainnya tak habis pikir, kenapa Hani belum bisa menerima cintaku. Aku hanya bisa menunggu Hani untuk memberi jawaban.

 

Esok harinya, Kamis jam 10.15 aku beserta anak-anak yang ikut turnamen futsal diberi izin untuk meninggal jam pelajaran. Ku ambil perlengkapan tempur(baca: futsal) yang sudah kupersiapkan di dalam loker kelas. Sebelum meninggalkan kelas kulihat Hani, kubaca bahasa bibirnya yang mengatakan “semangat ri, sukses ya” diakhiri senyuman manis darinya. Teman sekelasku serta guru bahasa Indonesia Bu Ade, meledekku. Namun entah kenapa aku khawatir sama Hani, kulihat wajahnya pucat. Tapi aku tak mau berpikir yang jelek tentangnya.
Akhirnya tim sekolahku melaju ke babak final. Final diadakan hari Sabtu 23 April. Sekolahku akan berhadapan dengan Sekolah dari Depok. Semua teman-teman ekskul ku datang menyaksikan final, teman-teman Hani juga datang, namun belum kulihat Hani ada di dalam Gor Popki Cibubur.
“Yor, Hani mana?” tanyaku
“Gak tau ri, kemaren dia gak masuk sekolah. Gue, amel sama anak-anak yang laen udah janjian di sekolah buat berangkat bareng kesini” jawab Yori
“Iya ri, gue hubungin, tapi handphonenya juga gak aktif” sambung Amel
“Kemaren dia gak masuk? Kenapa?” tanyaku lagi
“Gak tau, kata Bu Sri sih dia izin gitu tapi gue gak tau izin karena apa” jawab Yori
Akhirnya tim futsal sekolahku berhasil memenangkan turnamen yang baru pertama kali diadakan oleh tv swasta Indonesia. Aku pun berhasil memenangkan pemain terbaik di turnamen ini. Senang memang, tapi kesenangan ini belum lengkap. Aku masih belum lega karena cewek yang kunanti belum ada kabar dan tak juga kunjung datang. Padahal penghargaan ini akan kupersembahkan untuknya.
***

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Tiba saat libur kenaikan kelas. Dan Hani masih tidak ada kabar setelah 20 April yang lalu. Bertepatan ulang tahunku, hari ini 17 Juli dan selama 3 bulan yang telah terlewati, aku masih belum tahu kabar dari Hani.
Aku tanya ke teman-teman baik dia, merekapun tak tahu. Dengar kabar burung kalau Hani sudah pindah sekolah, lalu pernah aku tanya kepada wali kelasku kalau belum ada pernyataan pindah sekolah dari orang tua Hani. Aku masih bertanya-tanya dan mencari dimana Hani berada. Rumahnya juga sudah pindah.

 

Ketika senja, aku lebih memilih untuk sekedar menikmati langit sore yang indah di tengah hiruk-pikuknya ibukota. Walau hari ini ulang tahunku, aku tak peduli. Aku hanya memikirkan dimana Hani berada. Di warung dekat lapangan 50 meter dari rumahku, aku duduk ditemani segelas es susu putih tawar dan alunan musik swing dari ipodku. Suasananya nyaman dan cukup sepi. Tidak seperti biasanya yang ramai dengan anak-anak kecil di RTku yang bermain di lapangan itu. Namun suasana ini cukup cocoklah dengan kondisi hatiku saat ini. Sama-sama sepi. Kupejamkan mata sejenak dan membiarkan angin sore berhembus menerpa tubuhku dengan lantunan mesra lagu-lagu swing yang ku dengar melalui earphone. Diriku pun terbuai oleh lagu dalam playlist yang membuat ku semakin terbang bebas entah kemana. Pikiranku pun semakin tak menentu, membuat raga ini melayang dalam kenangan bersama Hani. Kenangan hangatnya sebuah cinta pertama dalam bayang-bayang imipian yang melanglang-buana entah kemana. Yang ada di pikiranku saat ini adalah seorang cewek yang kucinta, Asfi Hani.

 

Saat aku mengaktivkan handphoneku yang dari semalam tak aku aktivkan, banyak sms masuk. Saat kubuka, ternyata dari teman-temanku yang mengucapkan selamat ulang tahun. Namun yang membuat khayalanku sore ini buyar, saat kuterima beberapa sms dari provider yang memberi tahu panggilan tak terjawab dan beberapa sms dari teman-temanku yang menanyakan keberadaanku. Sepertinya sangat penting. Ketika aku mau membalas, tiba-tiba handphoneku bergetar, tanpa melihat siapa yang menelpon, aku langsung menjawab panggilan masuk itu.
“Halo ri, lu dimana?”
“Gue di lapangan deket rumah” jawabku
“Hp kenapa baru aktiv!! Yaudah gue sekarang ke rumah lu sama anak-anak nih” sahut Yori
“Emang ada apaan sih?”
“Penting banget ini, yaudah tar aja di rumah lu ngomongnya”
“Iya, hati-hati deh lu”
Kututup telpon dari Yori.
Aku bingung kenapa suara Yori sepanik itu.
***

 

Setelah tiba di rumah sakit. Aku segera berlari menuju ruang 4a lavender, dan kuketuk. Ternyata yang kulihat?
Sesosok cewek yang kukenal sedang terbaring di ranjang. Cewek yang aku cinta dari awal SMP hingga kini.
“Ari?” sapa Ibu dari Hani
“Iya tante, Hani kenapa tan?” jawabku penasaran
“Hani sudah lama cerita sama tante tentang kamu. Kamu anak yang baik dan berprestasi di bidang olahraga ya sama seperti Hani dulu”
Aku semakin bingung
“Hani sudah lama sakit kanker hati. Kamu gak dikasih tau tentang sakitnya?” tante menjelaskan
“Kanker hati tan? Ya Allah…” jawabku lemas
Teman-teman ku yang lain pun kaget mendengar pernyataan dari Ibunya Hani.
“Iya, memang sudah lama Hani mengidap kanker hati ini, selepas dari kelas 6 SD. Oleh karena itu tante gak ngebolehin Hani bermain bulutangkis lagi dan aktivitas berat lainnya. Oiya ri, Hani menitipkan bingkisan ini ke tante untuk kamu” jelas tante lagi
Kubuka bingkisan itu, ternyata kotak sepatu dan ada secarik kertas di dalam kotak sepatu itu.

“Ari selamat ya kamu sudah bisa menembus babak final. Maaf aku gak bisa nonton. Tapi, semoga sepatu ini bisa menebus rasa ketidakhadiranku disana. Semoga kamu menang.
23 April – Asfi Hani ”
Aku tersenyum. Lalu mataku beranjak ke sepatu itu, ternyata Hani memberikan sepatu sebakbola yang mirip dengan sepatu idolaku Zinedine Yazid Zidane, yaitu Adidas Predator. Dengan bordiran di sepatu yang tertulis inisial namaku AR dan nomor punggung kesukaanku 69. AR69.
“Terimakasih Hani” bilangku dari hati

“Ri, ini jg ada surat dari Hani” sahut Ibunya Hani
Kubuka surat itu, lalu kubaca

“Dear, Ari
Ari, sebenernya tanganku ini memelukmu ketika kamu menyatakan cinta kepadaku. Ketika hati ingin menjawab cintamu, namun bibir ini membeku. Apa mungkin aku bisa menerima cintamu disaat nafas aku terengah? Apa mungkin aku bisa menerima cintamu disaat raga aku melemah? Sebenarnya aku ingin menjadi tujuan dari cintamu yang berlayar menuju pelabuhan hatiku. Tapi aku tak layak menjadi labuhan cintamu, aku tak bisa membagi dukaku untukmu. Maaf telah membuatmu menungguku. Terimakasih karena sudah mencintaiku ri, aku juga cinta kamu.”

Surat itu terjatuh dari tanganku bersamaan air menetes dari mataku, aku tak kuat berdiri. Teman-temanku langsung memelukku. Air mata masih enggan untuk berhenti. Tante membangunkan aku. Setelah aku bangun, aku duduk disamping ranjang Hani. Tak lama, Hani bangun dari tidurnya.
“Kenapa kamu gak pernah ngasih tau keadaan kamu ke aku han?” tanyaku
“Aku gak pengen liat kamu sedih ri, maafin aku yang terlalu lemah untuk mengatakan semua ini” jawab Hani

Hani pun menggenggam tanganku,
“Bila aku jauh darimu jangan bersedih ya ri, aku akan bahagia jika melihatmu bahagia. I Love You ri”
Tiba-tiba tangan Hani berubah menjadi sangat dingin dan dia pun melepas genggamannya. Aku berteriak memanggil Hani dan teman-temanku bergegas memanggil dokter. Tapi takdir berkata lain. Tuhan telah memanggilnya lebih dulu. Aku menangis histeris tak mampu untuk merelakannya. Cinta pertamaku menghembuskan napas terakhirnya tepat di hari ulang tahunku. “I Love You too han”.

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

****
“Life is Temporary, First Love are Forever”
****

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Jika engkau merasakan cinta kepada seseorang, lebih baik dikatakan. Secara jujur dan tak ada rasa ragu. Namun jika tidak, katakan secara tegas jika engkau tidak menyukainya. Jangan engkau berbohong dan mempermainkan perasaan seseorang, karena rasa cinta tak pernah semunafik itu.

 

“Bila aku jauh darimu jangan bersedih ya ri, aku akan bahagia jika melihatmu bahagia. I Love You ri”
Kata-kata yang terus terngiang dan terpatri di dalam kepalaku. Kenangan indah mencintai Hani tak mampu kuhapuskan dan jika aku mempunyai kekuatan untuk menghapus kenangan itu, aku tak akan menghapusnya.
****

 

Tiba saat aku duduk di kelas IX dan sosok Hani pun masih tetap ada dalam penglihatanku. Setelah kepergian Hani, aku semakin sering berdiam diri. Dan aku semakin sering menulis puisi serta cerpen yang kutaruh mading dan tetap ku persembahkan untuk AH, Asfi Hani. Darimu itu pasti, karya tulis ini tercipta.

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Kelas IX, dimana aku dan teman-teman seangkatanku harus fokus menghadapi UN. Kegiatan ekstra kurikuler yang diadakan tiap hari Sabtu pun harus dihapuskan untuk kelas IX, karena kami wajib mengikuti Pendalaman Materi. Walau dihapuskan, kami masih sering mencuri waktu untuk bermain futsal. Saat jam sebelum dimulai PM dan ketika sepulang PM.

 

Sudah seminggu aku menjalani rutinitas sebagai siswa paling senior di sekolah, ya siswa kelas IX. Terkadang pengkategorian senior-junior membuat hubungan antar adik kelas dan kakak kelas menjadi renggang. Bel istirahat telah berbunyi, aku bersama ansor dan sahabat-sahabat Hani berbondong-bondong menuju kantin. Obrolan santai terlempar dari bibir teman-temanku, sedangkan aku hanya diam menatap notebook dan memainkan pulpen dengan jariku.
“Ri, udah napa jangan diem terus.. semenjak Hani meninggal lu jadi pendiem banget deh”
Aku hanya diam tak menganggapi perkataan Amel.

Lalu aku beranjak pergi untuk memesan es susu putih tawar. Setelah memesan aku berbalik arah menuju meja-meja temanku, tak sengaja aku menabrak seorang cewek yang belum kukenal dan kulihat sama sekali.
“Eh sorry sorry.. lu gak apa-apa kan?”
“Gak apa-apa kok kak” jawab cewek itu sambil tersenyum
“Yaudah gue tinggal ke temen-temen gue ya” jawabku sambil meninggalkannya
“Iya kak”

“Siapa tuh ri, cantik juga..” ledek teman-temanku
“Gak tau gue, anak kelas tujuh kayanya”
Tak lama minuman ku pun datang. Kuhiraukan ledekan teman-temanku dengan menulis cerpen yang hampir selesai.

 

Keesokan harinya saat siswa/i kelas VII dan VIII sedang asik mengikuti kegiatan ekskul, aku dan teman-temanku harus berkutat dengan mata pelajaran ujian nasional. Jam telah menunjukan pukul 10.00, PM akhirnya selesai. Aku bersama ansor segera menuju lapangan, ya tentu saja untuk bermain futsal. Setelah bermain futsal, kami istirahat di koridor samping lapangan.
“Eh ri, itu kan cewek yang lu tabrak kemaren kan?” sahut Edwin
“Iya bener tuh ri, serius banget lagi kayanya ngebaca tulisan mading” sambung Jessica
Aku langsung melihat ke arah mading dan benar kata Je, cewek itu terlihat serius membaca mading.
***

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Sebulan sudah terlewati. Pagi ini aku memang sengaja sampai di sekolah lebih awal. Aku langsung menuju kantin
“Tumben ri pagi banget sampenya” sapa Mang Ade yang merupakan kios kantin langgananku
“Iya nih mang.. mang biasa ya satu” jawabku sambil memesan minum
Tak lama segelas susu putih hangat pun tiba. Sambil mendengarkan musik lewat earphone, aku dikagetkan oleh sentuhan tangan di pundakku.

“Boleh aku duduk sini kak?”
Seorang cewek yang terlihat familiar. Cewek yang beberapa waktu lalu tak sengaja tertabrak oleh ku.
“Duduk aja..” jawab ku dingin sambil bergeser tempat duduk.
Aku hanya diam sampai akhirnya cewek itu memulai pembicaraan.
“Aku Wanda, kakak namanya siapa?” ucap cewek itu dibarengi juluran tangan
“Gue Ari..” sambil menerima juluran tangannya
“Oh ini kak Ari yang sering nulis di mading ya?”
Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan tersenyum.
“Puisi sama cerpennya bagus kak, nyentuh hati banget..”
“Terimakasih ya..” jawabku
Tak lama teman-temanku datang dan langsung menuju meja kantinku. Melihatku bersama seorang cewek adalah bahan bagi mereka untuk meledekku.
“Ciyee Ari….” ledek teman-temanku yang semakin banyak menuju kantin. Aku pun langsung pergi bergegas menuju kelas.

***

 

Karena teman-temanku sudah mempunyai mempunyai bahan untuk makalah Bahasa Indonesia, maka jam istirahat hari ini aku jalani dengan banyak banyak berdiam di perpustakaan karena aku harus mengambil bahan untuk makalah. Aku menghabiskan hari dengan sibuk di perpus.

 

Keesokan harinya saat pelajaran biologi, kebetulan Bu Endang guru biologi kelas kami tak masuk hari itu. Jam biologi yang kosong itu diisi dengan beberapa cewek yang bergosip, beberapa cowok yang mengobrol tentang game online, dan sahabatku Budi, Rizal, Putra bermain bola di dalam kelas dan Amel, Nadia, Nisa yang sibuk mencatok rambut mereka. Aku hanya duduk di pojok kelas bersama Jessica sembari mendengarkan lagu. Karena jam pelajaran biologi itu sebelum jam istirahat, maka 15 menit sebelum istirahat aku mengajak Jessica bersama Amel, Nadia, Nisa, Budi, Rizal, Putra pergi ke kantin.

 

Saat jam istirahat tiba, ansor dan temanku yang cewek yang ada di kelas lain segera menuju ke tempat kami. Tiba-tiba obrolan dan candaan kami berhenti ketika Yori datang bersama Wanda. Aku dibuat heran-heran oleh teman-temanku. Mengapa mereka tiba-tiba akrab dengan Wanda. Sehari aku tak bersama mereka, sepertinya aku banyak melewati hal-hal. Aku masih bertanya-tanya dalam hati, “kok bisa Wanda akrab sama anak-anak.. masa sehari aja gue di perpus, mereka langsung akrab..”
Lamunanku buyar ketika Wanda duduk disampingku.
“Kak istirahat kemaren kemana, kok gak keliatan?” tanya Wanda
“Ciyee Wanda basa-basi aja, padahal kemaren udah dikasih tau kalo Ari di perpus” sahut Budi menjawab pertanyaan Wanda diikuti ledekan teman-temanku yang lain.
Akhirnya Yori menjelaskan kalau kemarin itu Wanda banyak menanyakan hal tentang aku. Dan Wanda juga sangat menyukai hasil-hasil karya tulisku yang terpampang di mading. Aku hanya tersenyum mendengarnya. Beberapa minggu setelah itu, Wanda jadi sering ikut nongkrong bersama kami. Walau Wanda adalah siswi kelas VII seorang diri, ia tak malu bahkan obrolan Wanda pun nyambung dengan teman-temanku.
***

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Tiga bulan terlewati, sekarang adalah hari Rabu, hari tepat 1000 hari Hani meninggal. Aku datang sekolah terlambat hingga aku disuruh berjemur di lapangan. Di kelas pun aku tak konsen mendengarkan penjelasan guru. Di kantin pun aku hanya terdiam walau teman-temanku mencoba menghiburku. Wanda yang terlihat heran menanyakan keadaanku ke teman-temanku. Jessica dan Yori menjelaskan secara detail masa-masa dimana Hani masih ada. Wanda pun bersedih, tak lama dia meneteskan air mata. Teman-temanku yang lain pun terdiam ketika Wanda menangis. Aku langsung memberi sapu tangan ke Wanda,
“Udah gak usah nangis, gue aja gak nangis”
“Iya kak..” jawab Wanda sambil mengelap air matanya
Kejadian ini adalah santapan lezat teman-temanku untuk meledekku namun karena situasinya sedang mellow, ledekan itu tak keluar dari mulut mereka.

 

Setelah pulang sekolah aku dan teman-temanku sepakat untuk ta’ziah ke makam Hani, aku pun mengajak Wanda. Setelah dari makam Hani, kami menuju rumah Hani untuk bersilaturahmi. Ketika yang lain sedang di ruang tamu, aku diajak menuju dapur dan tiba-tiba Ibunya Hani menanyakan tentang Wanda
“Ri, itu siapa? Kok tante gak pernah liat ya..”
“Oh itu Wanda tante, dia adek kelas. Gak tau tuh anak-anak tiba-tiba akrab sama dia..”
Setelah membawakan minuman dan cemilan, kami melanjutkan obrolan dengan yang lain.
“Kamu Wanda ya?” tanya Ibunya Hani
“Iya tante..”
“Kamu suka gak sama Ari?”
Sontak Wanda kaget dilemparkan pertanyaan itu. Bukan hanya Wanda yang kaget, aku dan teman-temanku pun kaget. Wanda hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu. Lalu teman-temanku mulai meledekku..
***

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Tak terasa kurang lebih dua bulan lagi ujian nasional akan tiba. Aku dan teman seangkatanku semakin sibuk mempelajari mata pelajaran yang akan diujiankan. Setelah pendalaman materi, aku buru-buru pulang. Aku segera menuju ke makam Hani, sebelumnya aku terlebih dahulu mampir ke toko bunga. Setelah tiba, aku segera mendoakannya. Air mataku pun tak mampu dibendung kelopak mata.
“Hari ini tepat ulang tahun kamu han. Aku hanya bisa ngasih mawar putih ini dan sebait doa untukmu, agar kamu tetap bahagia disana..” ucapku

 

Aku pun segera pulang ke rumah. Ketika sedang menikmati sore hari dari depan kamarku yang terletak di atas, sapaan Jhe sembari membawakan minuman mengagetkan aku.
“Lu tadi kemana, kok buru-buru pulang?” tanya Jessica
“Eh lu Jhe.. tadi gue abis dari makam, kan hari ini Hani ulang tahun”
“Oh iya ya, sekarang 20 Januari ya.. oh iya ri, tadi Wanda khawatir tuh nyariin lu terus..”
“Ngapain dia nyariin gue?” tanyaku sambil meminum es susu putih tawar bikinan Jessica
“Mana gue tau, tapi kayaknya bener deh kata nyokapnya Hani, kalo dia suka sama lu..”
***

 

Tepat hari valentine, tiba-tiba Wanda menyatakan perasaannya kepadaku,
“Kak pas dulu waktu kakak gak sengaja nabrak aku, mulai dari situ aku penasaran sama kakak. Aku denger kabar kalo kakak suka nulis dan karya kakak ditempel di mading, mulai dari situ aku sering baca tulisan-tulisan kakak. Aku juga bermimpi bisa ngejalanin hari-hari di sekolah sama kakak. Setelah sekian lama aku bareng-bareng sama kakak, hari ini pas valentine, aku mau kakak jadi pacar aku. Kakak mau gak?”
Aku hanya bisa diam mendengarkan isi hati Wanda, aku bingung mesti bagaimana. Di lain pihak, teman-temanku menyuruhku menerimanya. Mungkin teman-temanku menginginkan aku move on dari Hani..
Secara tegas aku menjawab,
“Makasih ya Wan. Tapi maaf gue gak bisa jadi pacar lu. Hati gue masih buat Hani, gue masih belom bisa ngelupain dia. Toh gue juga udah nganggep lu kaya adek gue sendiri. Gue harap lu ngerti ya Wan..”
“Tapi kakak gak marah kan aku nembak kakak? Aku cuma mau kakak ada disamping aku..”
“Gak.. Gak kok, gue gak marah. Kita masih bisa sahabatan kok..”
Suasana pun menjadi hening ketika Wanda memelukku. Aku hanya bisa mengusap kepalanya. Tak lama teman-temanku menghampiri kami dan anehnya mereka tak meledekku. Mereka memberi penjelasanan ke Wanda dan syukurnya Wanda mau menerima penjelasan itu.
***

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Akhirnya tak terasa pengumuman kelulusan tiba. Aku dan teman-teman baikku lulus semua. Kami pun merayakannya, ya Wanda pun ikut serta merayakan kelulusan kami.

Akhirnya aku dan Jhe melanjutkan SMA di Bogor. Yori dan Nisa melanjutkan SMA yang sama. Sedangkan Amel dan Nadia melanjutkannya SMA favorit di Jakarta Selatan. Budi, Putra, Edwin melanjutkan SMA di yayasan dimana SMP-ku bernaung juga. Sedangkan Rizal dan Dimas melanjutkan SMA-nya di Jakarta Timur. Kami menyebar, namun persahabatan kami tak pernah luntur. Termasuk dengan Wanda juga.

Aku tak tahu kenapa Jhe ikut melanjutkan SMA-nya di Bogor. Namun alasanku melanjutkan SMA di Bogor, karena hidup harus terus berjalan. Bukan untuk niatan menghapus kenangan tentang Hani. Karena Hani akan selalu menjadi kenangan terindah.

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

****
“Cinta itu suci, tak pantas dikotori dengan kebohongan.”
****
Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Disini, di bawah sinar rembulan. Aku selalu menunggunya, menunggu dia yang aku cintai. Walaupun ku tahu sia-sia saja penantian ini. Hanya air mata yang keluar dari mataku ketika mengingatnya. Sisi Tuhan. Dia di sisi Tuhan. Di sebuah tempat yang membuat dirinya sendiri damai.

****

 

Semenjak lulus dari SMP, banyak kebiasaan yang aku lakukan. Mulai dari begadang, merokok serta kebiasan yang tak pernah aku lakukan semenjak SMP. Aku pun tak tahu mengapa aku bisa mempunyai kebiasaan ini, mungkin ini bermula karena rasa pelarianku dari sosok yang ku cinta, Hani..

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

“Ariiiiiii banguuuun, mandi terus sekolah”

Begitulah celoteh wanita separuh baya yang selalu terngiang di telinga, ketika ruh belum kumpul ke raga ini. Ya itulah Ibuku, wanita yang tercantik di galaksi bimasakti ini. Aku memang tipe anak yang susah bangun pagi, ya jelas saja aku baru tidur ketika pujian-pujian untuk Tuhan terdengar dari surau. Bershalawat untuk mempersiapkan adzan shubuh yang mungkin tak lama lagi akan mulai terngiang di telinga. Mungkin di kehidupan nanti setelah alam dunia ini, mataku akan protes habis-habisan pada Tuhan, karena dia harus bekerja lembur untukku. Dikala para kawula muda, mereka bangga menyebut mereka insom, aku malah tak ingin mengidap penyakit itu. Penyakit yang membuat kita menjadi makhluk yang dzalim, dzalim terhadap mata, tubuh, dan semua yang merasa dirugikan oleh penyakit itu. Bagiku sesuatu hal yang merugikan itu adalah penyakit.

 

Semenjak SMP, aku memang selalu menghabiskan sisa-sisa malamku dengan menulis. Menulis apa saja semampu tangan, otak, dan mata ini berkerja. Kalau dipikir-pikir aneh juga, seorang anak muda sepertiku lebih sering berkutat dengan pensil, buku, dan lebih sering mengunjungi perpustakaan kota atau toko-toko buku dibandingkan berada di cafe atau mall dan kencan dengan pacar atau sekedar nongkrong dengan teman sebayanya. Bukan berarti aku tak pernah ke cafe atau mall untuk sekedar nongkrong, aku juga mengujungi tempat itu, apalagi jika Jessica dan sahabat-sahabatku yang memaksa untuk menemaninya, aku harus menyanggupinya.

 

Jam sudah menunjukan pukul 05.30 WIB dan aku pun sudah siap ke sekolah. Jarak rumah ku dengan sekolah itu satu jam perjalanan menggunakan bus kota, bisa dibayangkan kalau aku ke sekolah dengan jalan kaki, mungkin Ade Rai akan memintaku untuk mengajari dia bagaimana membuat otot betis menjadi besar dan kekar. Walaupun aku menggunakan transportasi umum, aku punya kendaaraan pribadi yang aku sayang yaitu vespa dan sepeda-gunungku. Dua kendaraan itu dihadiahkan kepadaku ketika aku mendapatkan SMA Negeri. Aku tak menggunakannya ke sekolah karena aku diajarkan bagaimana menghargai lingkungan dengan mengurangi polusi dan ikut serta mengurangi kemacetan.

 

Pagi itu ketika cuaca sedang sangat bersahabat, aku mulai melakukan rutinitas berseragam yang membosankan ini, ya sekolah. Dengan semangat bak pejuang kemerdekaan melawan para penjajah, entah mengapa pagi ini aku sangat bersemangat sekali, tak seperti hari biasanya. Mungkin karena aku telah melewati hari-hari terberat awal masuk SMA. Ya sebulan pertama masuk SMA, aku merasakan hari yang melelahkan. Mulai dari ospek, perkenalan teman baru, dan lain-lain.

***

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Sembari menanti bus antar kota, ku duduk diwarung kecil yang perlahan demi perlahan mulai tergeser oleh kokohnya bangunan mini market yang mulai berjangkit di setiap sudut mata. Sebatang rokok mulai ku hisap sambil menatap ke arah jalan raya akses tiga kota yang saling bertetangga. Jakarta-Depok-Bogor. Asap dari pembuangan mesin, suara bising klakson, dan celoteh pengendara penuh emosi akibat macet, menjadi tontonan wajib ku setiap pagi. Jalan ceritanya pun tak kalah seru jika dibandingkan dengan menonton sepakbola, film korea, ataupun film dewasa.

 

Begitulah pemandangan di Depok. Kota yang berperan juga sebagai penyangga ibukota, pastilah ikut merasakan efek positif dan negatifnya. Memang kota tersebut akan maju, tetapi selain itu Depok juga akan merasakan dampak dari kemajuan kotanya, contoh kecilnya macet.

 

Tatapanku akhirnya pecah saat seorang cewek menyapa,

“Permisi… boleh aku duduk disini?”

“Duduk aja”

Aku lalu bergeser dan memberi ruang kosong untuk cewek tersebut. Cewek itu lalu duduk di samping ku. Lalu mulai mengajakku berbincang

”Kok belom berangkat?” sapa hangat darinya

“Nanti” jawabku dingin

“Sekolah dimana?”

“Bogor”

Jawab ku dengan muka masih memperhatikan ke arah jalan, akhirnya cewek itu memperkenalkan dirinya seraya menjulurkan tangannya,

“Nama ku Wulan, nama kamu siapa?”

Senyuman cewek itu menyertai perkenalan, aku pun hanya menoleh dengan bibir yang membisu dan ku jabat tangannya, lagi-lagi dengan mimik wajah tanpa ekspresi. Tiba-tiba cewek itu lalu pergi dan meninggalkan secarik kertas yang dimasukannya kedalam saku kemeja ku, yang bertuliskan angka-angka nomor handphonenya. Aku melihat kertas itu seakan tak percaya, aku hisap rokok sekuat kinerja maksimal paru-paru.

“Aneh”

Hanya itu yang bisa terucap. Dan pertemuan singkat tadi diakhiri dengan perginya Wulan ke sekolah dengan bus kota, dan senyum yang dilemparkannya ke arah ku. Entah mengapa aku merasakan cewek itu beda dengan cewek-cewek lainnya. Tampak fisik, gadis itu memang memang mirip dengan Hani. Tapi, ah sudahlah..

***

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

“Oi ri tumben udah dateng lu? Eh kenapa lu cengar cengir sendirian? Abis nyimeng lu ya?” Sapa jail seorang sahabat terbaik ku sambil membawakan susu putih tawar.

“Eh lu je.. gak kok” Jawabku sambil bibir masih tersenyum lebar dan mengambil susu dari genggaman Je.

“Jangan-jangan lu udah move on ya hahaha”

Tanpa menjawab, aku pergi meninggalkan Je yang sedang onfire meledekku.

***

 

Kami menjadi semakin dekat setelah lulus SMP, perawakan Jessica juga berubah, ia semakin cantik ditambah juga pintar. Tak salah Jessica kini menjadi primadona di sekolah ku walau kami baru masuk kelas X. Kami sudah bersahabat ketika di SMP. Semenjak SMA, Je menjadi rajin membawakan ku susu putih tawar, dia tau aku peminum susu dan bisa dibilang aku kecanduan dengan susu. Dalam sehari aku  bisa menghabiskan 3-4 gelas susu putih tawar.

***

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Tak terasa sudah dua tahun aku mengenakan seragam putih abu-abu. Dua tahun yang ku jalani tanpa seorang kekasih. Hatiku masih terpatri dengan Hani. Berbeda jauh dengan Je yang sering bergonta-ganti pacar. Bukan karena Je adalah cewek bisa dikatakan player, namun karena pacar-pacar Je yang cemburu terhadap kedekatan ku ke Je. Padahal seluruh sekolah sudah tahu bahwa kami bersahabat. Ya Je walaupun Je sudah punya pacar, Je memang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan ku. Dari sekadar nongkrong dengan sahabat-sahabat SMP, ta’ziah ke makam Hani, atau hanya ‘ngafe’ tak jelas.

***

 

Saat ini kelas XII. Siang ini seluruh murid kelas XII tidak ada kegiatan belajar mengajar, dan aku pun hanya duduk-duduk di kantin yang pasti dengan Je dan dengan beberapa sahabatku. Siang itu kami habiskan sambil bercanda dan menggodai adik-adik kelas dengan dalangnya adalah Je. Dia tahu aku ini anak yang dingin jika dihadapkan dengan perempuan, dan aku lah yang lagi-lagi menjadi korban kejailan Je. Lalu  akhirnya jam menunjukan jam 3.30, bel pun berbunyi. Pulang sekolah aku selalu pulang bareng Je, namun kalau berangkat Je tidak akan mau bareng dengan ku karena aku selalu terlambat. Di tengah perjalanan,

“Hi, ke bukit pelangi yuk.. udah lama nih kita gak kesana”

“Oke”

Jawabku singkat. Lalu Je pun menancap gas mobilnya dengan cepat agar tak didahului sang surya yang bersiap untuk pergi sejenak. Aku dan Je memang sering mengunjungi bukit ini semenjak kelas X, ketika pulang sekolah atau ketika kami mulai jengah dengan masalah-masalah yang tidak ada tanggal kadaluarsanya.

 

“Ri kita kan udah kelas tiga dan dikit lagi bakalan lulus, lu masih belom tau mau kuliah dimana?”

“Belom, lu sendiri jadi masuk UI?

“Jadi dong, ayo dong lu masuk UI aja biar kita bisa sama-sama lagi, gila-gila-an lagi. Ansor sama Yori, Amel, Nisa, Nadia juga katanya mau masuk UI. Anak-anak juga beberapa ada yang mau masuk UI. Kan enak tuh, sahabat SMP sama sahabat SMA ngumpul.. ”

“Hah bareng lu lagi, bareng anak-anak lagi, makin jadi bahan ledekkan gue..”

“Iiihhh engga, kan lu sering nulis tuh, nah cocok masuk sastra, satra UI bagus ri, lu mah su’udzon terus sama kita”

“Ah alesan aja lu, tau apa lu tentang jurusan itu, kan di otak lu sekarang cuma belanja sama ngejailin gue, ya itu-itu aja”

”Daripada otak lu cuma ada si Hani”

”Yee terus deh..”

”Ri, coba deh lu ngebuka hati lu, ikhlasin aja, Hani udah bahagia di sana..”

“Kok jadi ngebahas Hani sih?”

“Abisnya gue heran sama lu, banyak cewek yang deketin lu, tapi masih aja gak mau ngebuka hati lu”

”Je lu tau kan jalan ceritanya”

”Iya gue tau”

”Nah, kalo lu di posisi gue, lu bakal ngerti apa yang gue rasain”

”Tapi kan ri bukan berarti lu harus bersikap kaya gini sama cewek yang mau deket sama lu, yang jelas-jelas mereka nunjukin kalo mereka itu suka sama lu”

”Sikap gimana?”

”Lu itu terlalu dingin ri.. Eh tunggu tunggu, tapi lu masih normal kan?”

”Maksud lu?”

“Abisnya gue gregetan sama lu, lu itu homo apa bajingan sih? Apa emangnya lu nafsunya sama cowo?”

“Ahahaha ngehe lu Je. Lu sendiri kenapa sering gonta-ganti pacar?”

“Mereka aja yang cemburuan, udah tau kita sahabatan, masih aja cemburu sama lu.. Lagi pula dengan gonta-ganti pacar gue tau mana yang terbaik buat gue, yang terbaik buat jadi imam gue. Kan pernikahan itu lebih indah rasanya jika hanya dilakukan satu kali dalam seumur hidup”

Jawab Je dengan sok bijak

“Tapi kan Je, jodoh itu kan di tangan Tuhan”

“Emang lu kira Tuhan itu biro jodoh, lah Dia juga punya urusan lain selain ngurusin lu, itu sebabnya ada kata BE.RU.SA.HA, mengerti dek Ari?”

“Hahaha udah udah, males gue ngebicarain hal ini”

“Ah selalu deh ngalihin pembicaraan terus…”

Petang itu kita habiskan dengan menikmati matahari terbenam hingga bulan datang dengan gagahnya, kita pun pulang.

***

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Suara ipod yang keluar dari speaker, segelas susu, dan beberapa batang rokok adalah teman setia saat menikmati bintang yang sedang berkumpul seperti anak stm mau tawuran. Ya malam itu egois, kenapa hanya malam yang bisa memberikan rasa tenang nan damai. Tanpa ku sadari, ibuku sudah ada di samping ku. Tak biasanya Beliau ke atas kecuali ada pembicaraan yang sangat penting. Dan itu benar.

“Ri ibu mau bicara kamu udah tau mau nerusin kuliah dimana?”

“Belum bu”

“Kamu ini gimana sih, kalo gitu kamu kuliah di Jogja aja”

“Hah?? Kenapa mesti di Jogja bu?”

“Gapapa, jadi bisa sering-sering nengokin nenek kamu yang ada di Klaten dan Madiun”

“Aaaahhhh bu, tapi kan…”

“Sudah jangan ngebantah, ibu kan jarang pulang kampung jadi ibu mau kamu yang rutin wakilin ibu”

Ibu pun pergi meninggalkan aku yang masih belum percaya percakapan kita tadi.

***

 

Sampai pada saatnya pengumuman kelulusan pun tiba, dan Je lulus dengan nilai terbaik disusul dengan ku di peringkat selanjutnya. Terlihat muka bahagia sepanjang mata memandang, berbanding kontra denganku.

“Ri lu kenapa kok diem aja? Kita lulus dengan nilai terbaik ri, ayo kita rayain sama anak-anak”

Rangkulan Je membuat lamunanku buyar. Je pun menarik tanganku untuk masuk ke  keramaian perayaan kelulusan. Tapi aku masih saja tak seceria mereka, ya alasannya adalah pokok percakapan aku dengan ibuku malam itu.

***

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Satu minggu setelah pengumuman kelulusan, aku masih saja dirundung situasi yang dilematis. Di saat mereka sudah menentukan kemana mereka akan melanjutkan masa depannya melalui sistem perkuliahan, aku masih saja tak yakin. Aku ini gagak dan tidak ada yang salah dengan seekor gagak, dibandingkan burung yang terkurung dalam sangkar, gagak jauh lebih baik, bisa menjadi seperti gagak sudah cukup bagiku. Namun apa mungkin aku menjadi gagak?

***

 

“Ri! lu beneran mau kuliah di Jogja??”

Je pun datang dengan mimik muka yang tak sedap dipandang.

“Tau dari mana lu gue disini?”

“Tadi gue kerumah lu, mau ngajak nyari sarapan. Eh kata nyokap lu, daritadi pagi udah keluar, yaudah gue ngobrol-ngobrol dulu. Nah pas dengerin cerita nyokap lu, gue yakin lu pasti kesini”

“Oh” jawabku singkat

“Lu kenapa gak bilang ke gue kalo mau kuliah di Jogja?”

“Gak tau Je, gue juga bingung”

Je pun langsung memberikan pengertian dengan sesekali mengajak bercanda, bermaksud membuatku tak lagi bermurung durja.

“Ayo ah makan nyok, udah laper nih gue. Lu juga belom makan kan?!”

***

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Dan akhirnya tiba saat dimana aku akan memulai hidup yang baru, hidup jauh dari sahabat-sahabatku, jauh dari orangtua ku

“Ri, baik-baik ya disana.. gue pasti bakal main kok kesana sesering mungkin”

“Udah ah jangan nangis, kaya nganter gue ke pemakaman aja lu”

Aku, kakakku dan kedua orangtuaku pun tertawa kecil, dan akhirnya Je ikut tertawa juga.

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

****

“Perpisahan adalah akhir. Namun akhir dari sesuatu adalah awal dari yang baru”

****

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Dalam perjalanan dalam kereta, entah mengapa aku tiba-tiba teringat akan Wulan. Cewek yang kurang lebih sudah tiga tahun tak pernah bertemu lagi.

Ku coba membuka notebook, dan puji syukur aku masih bisa melihat lagi secarik kertas dengan tulisan yang bisa menyejukan mata jika membacanya. Semenjak bertemu sampai sekarang aku belum pernah menghubunginya, toh kalau aku menghubunginya, aku pun bingung mau bicara apa. Akhirnya ku urungkan niatku.

****

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Sampai akhirnya aku tiba di stasiun Tugu Yogyakarta, ku hirup dalam-dalam udara kota ini yang cukup menyegarkan dibandingkan kota kelahiranku. Walaupun senja sudah menyelimuti kota ini tapi tetap saja segar ku rasakan. Sembari menunggu sepupu untuk menjemput, aku langsung menuju angkringan  samping stasiun ini, ku pesan es susu dan beberapa gorengan yang sudah siap menggoda untuk disantap. Jam pun sudah menunjukan pukul 20.00, tapi Lutvi tak kunjung datang. Lutvi itu anak dari adik ibuku, perbedaan umur kami hanya terpaut satu tahun. Lutvi kuliah jurusan psikologi di salah satu universitas yang namanya diambil dari salah satu nama panglima perang yang sangat berpengaruh pada saat kerajaan Majapahit. Selama dia kuliah, Lutvi ngekost di Jl.Kaliurang. Jalan yang jika kita menuju arah utara, kita akan sampai dengan Gunung Merapi. Tapi nantinya kita akan mengontrak satu rumah.

 

Tak lama Lutvi pun datang,

“Sorry ri, lama ya?”

“Gapapa, darimana aja emangnya lu?”

“Tadi cowok gue minta anterin beli kado buat keponakannya”

“Oh yaudahlah, eh kost-an lu jauh Vi dari sini?”

“Ya lumayan. Udah makan belom lu?”

“Belom, cuma gorengan aja”

“Ayo makan yu”

Di perjalanan, kami ngobrol banyak mulai dari kampus, hubungan Lutvi sama pacarnya, sampai kehidupan di Jogja.

***

 

Kami pun sampai di salah satu warung nasi goreng yang ramai di datangi muda-mudi Jogja.

“Mas nasi gorengnya 2 ya, minumnya es jeruk sama es su..”

“Air mineral aja mas”

Sambung ku.

“Tumben lu gak mesen susu”

“Gak ah, tadi udah di angkringan”

Sehabis makan, kami langsung pulang.

 

Esok paginya aku daftar kuliah di universitas yang sama dengan Lutvi namun aku mengambil Sastra Indonesia. Setelah semua administrasi selesai, kami langsung mencari rumah yang sedia dikontrakan.

***

 

Sudah seminggu kami mencari rumah yang dikontrakan dan akhirnya kami dapat rumah yang cukup nyaman. Tak terasa langit pun mulai berwarna orange kemerah-merahan.

“Ri, ke Djendelo dulu yu”

“Apaan tuh? Ngapain?”

“Enak deh tempatnya, gue yakin lu suka. Sekalian mau ketemuan sama temen gue, gue lupa kalo ada janji”

Lutvi memacu kebut mobilnya. Sampai disana, ternyata tempatnya nyaman untuk menulis ditambah toko buku di bawah cafe Djendelo ini. Sepertinya aku menemukan tempat yang bagus untuk menghabisi hari jika nanti aku muak dengan segala urusan.

 

Kami pun sampai juga di Djendelo, langsung kami menuju lantai atas.

“Hai Wid, gimana kepengurusan panitia ospek minggu depan?”

“Udah siap ko Vi, nih gue bawa rincian kepengurusannya”

“Oiya Wid, kenalin dulu nih sepupu gue, dia baru dateng dari Jakarta”

“Widya”

“Ari”

“Ri, Wid, gue tinggal ke toilet dulu ya”

Lutvi langsung bergegas ke toilet

“Kamu mau mesen apa, biar aku pesenin” tawar Widya

“Es susu ada?”

“Ada kok”

“Mbak, es susunya satu sama hot chocolate satu ya”

“Ada lagi mbak?” Sahut pramusaji

“Oh ga, itu aja dulu”

“Baik, tunggu sebentar ya mbak” Jawab ramah pramusaji

Ketika sedang menunggu minuman datang, Widya mulai membuka percakapan

“Kamu liburan Ri”

“Ah gak kok, gue kuliah di sini mbak”

“Panggil nama aja Ri. Oh kuliah dimana?”

***

 

Widya pun banyak bertanya, mungkin ini cara dia agar lebih mudah adaptasi dengan orang lain, mungkin juga menganut paham Tak Kenal Maka Tak Sayang. Tapi terserah bagaimana cara dia dalam berkenalan, toh aku tetap saja masih mengidap penyakit tak banyak bicara jika berhadapan dengan perempuan.

Widya adalah sahabat Lutvi. Mereka sudah bersahabat sejak awal masuk bangku perkuliahan.

***

 

Sampai akhirnya Lutvi kembali ke meja kita dan disusul dengan pelayan yang membawakan pesanan.

“Kayanya seru nih ngobrolnya, lagi ngobrolin apaan sih?”

Sambung Lutvi seperti penyidik sedang menginterogasi tersangka.

“Mau tau aja apa mau tau banget?” Ledek Widya sambil menyeruput hot chocolate-nya

“Iiihhhh Widya apa sih” Jawab Lutvi sambil menyeritkan alisnya.

“Ri makan yu?”

“Oh jadi gue gak di ajak nih Wid..”

Sahut Lutvi sambil memasang muka bete.

“Ih apaan sih Vi, marah-marah terus, lagi pms ya? Ya sama lu juga lah”

Kami pun langsung menuju warung makan lesehan dekat kampus kami.

 

“Ri lu pulang sendiri ya, nih kuncinya”

“Emang lu mau kemana?” Tanyaku heran

“Gue nginep kostnya Widya, sekalian mau ngurusin susunan acara buat ospek nanti”

“Oh yaudah” jawabku singkat

Setelah selesai makan, kami pun pulang berbeda arah. Aku pun mampir dahulu di salah satu minimart 24jam untuk membeli rokok dan susu. Setibanya di kost, aku langsung membuka laptop dan mulai ber-skype ria dengan Je. Malam aku habiskan dengan ngobrol ngalor-ngidul dengan Je.

***

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Kuliah sudah dimulai dan sudah hampir satu bulan. Karena aku belum mempunyai kendaraan, untuk sementara aku masih nebeng dengan Lutvi. Namun karena Lutvi sering diantar-jemput oleh pacarnya, maka mobilnya aku pakai sementara.

 

Setelah pulang kuliah, aku mampir dahulu ke kampus psikologi untuk menjemputnya. Karena sudah setengah jam Lutvi tak muncul, aku telepon dia.

“Dimana lu? gue di foodcourt kampus lu nih”

“Ari? Ini aku Widya, kita udah di kontrakan”

Aku pun langsung mematikan ponsel ku. Perasaan kesal, bete, capek, campur jadi satu. Rasanya ingin murka. Tiba di kontrakan, ku lihat Lutvi yang sedang tertidur dan murkaku perlahan hilang.

“Lutvi kenapa Wid?” Tanyaku heran

“Ssstttt, dia tadi pingsan di kampus” Jawab Widya dengan bisik-bisik

Tak lama Lintang pun datang. Lintang adalah pacarnya  Lutvi. Mereka telah berpacaran semenjak mau masuk semester 2.

“Lutvi kenapa Ri?” Tanya Lintang

“Gak tau juga gue Tang. Kata Widya pingsan”

“Kayanya dia kecapean deh, tugas dari kampus emang lagi gila-gilaan nih”

Widya menjelaskan kronologinya.

“Tang lu jagain Lutvi ya, soalnya gue mau pulang dulu sekalian nyari bahan buat tugas”

“oke oke Wid, thank ya” sahut Lintang

“Ri anterin mau gak?” Pinta Widya

Aku pun mengantar Widya mencari bahan tugas. Dari terik sang surya hingga langit menjadi gelap.

***

 

Mulai saat itu, Widya sering memintaku untuk menemani dia. Mulai mencari tugas atau hanya untuk makan saja. Widya juga sering menginap di kontrakan. Kontrakan kami memang ada 3 kamar tidur, 2 di bawah dan kamarku di atas. Ya 1 kamar itu memang tak kita isi, akhirya digunakan untuk keluarga jika datang ke Jogja atau jika ada yang mau menginap. Ditambah 2 kamar mandi, dapur, ruang keluarga, dan garasi, juga ada balkon depan kamarku.

***

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Suatu malam ketika kita sedang di ruang tamu menonton film.

“Vi, si Widya kenapa sih?”

“Kenapa apanya?”

“Iya apa-apa minta temenin gue, makan aja minta temenin, lama-lama mandi juga minta temenin gue”

“Hahaha goblok” Jawab Lutvi sambil mendorong kepalaku

“Dia itu suka sama lu kali Ri, masa lu ga sadar sih” Sambung Lintang

“Ah ngaco lu Tang, gue aja sama Widya baru kenal”

“Lah emang kenapa kalo baru kenal, lu jomblo nah si Widya juga jomblo. Kita pasti dukung kok, iya ga Vi?”

“Iya bener tuh Ri. Widya orangnya baik ko Ri, gue kenal dia semenjak ospek. Cocok deh sama lu” sahut Lutvi meledekku

“Ah tau ah, lu berdua emang ngehe ye kalo nyomblangin orang” Jawabku sambil meninggalkan mereka

“Eh mau kemana lu Fi? filmnya belom abis nih”

Aku pun langsung pergi tanpa menghiraukan mereka

***

 

Ketika sedang skype dengan Je, aku dikejutkan oleh suara yang tiba-tiba muncul.

“Kamu ngapain disini Ri?” Sahut Widya tiba-tiba

“Gak ngapain-ngapain kok”

“Aku ganggu gak?” Jawabku datar

Widya lalu duduk di sampingku, dia kaget melihat seorang wanita di layar laptop ku

“Je, kenalin nih Widya. Dia temennya Lutvi. Wid kenalin itu Je” sahutku memperkenalkan mereka

“Hay Je”

Lagi-lagi dengan sok kenal sok deket atau kata lainnya tak kenal maka tak sayang, Widya mulai melontarkan pertanyaan perkenalan ke Je.

“Je, nanti kalo gue udah di rumah, gue telpon”

“Okee, bye Ri bye Wid”

Je menutup skypenya

 

Ketika ku tutup laptopku, Widya langsung melontar pertanyaan yang aneh

“Itu pacar kamu ya Ri?”

“Oh bukan kok Wid, itu sahabat gue dari SMP”

“Hhmmm bagus deh”

“Hah? Apa Wid?” Jawabku meminta pengulangan

“Oh gapapa kok. Jadi sekarang pacar kamu siapa Ri?”

“Gak ada, kenapa?”

“Hhmm,, aduh gimana ya bilangnya..”

“Bilang apaan Ry?”

“Gak jadi deh”

“Oh yaudah. Oiya lu kesini sama siapa?”

“Tadi dari Amplaz, terus kata Lutvi kamu lagi di Dolce Vita, yaudah aku mampir”

“Lutvi liat nanti ye” Jawabku dalam hati

“Gue mau pulang, mau bareng gak?”

“Iya mau”

“Yaudah tunggu gue bayar dulu ya”

Aku pun mengantar Widya pulang ke kost-annya.

***

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Setiba aku di rumah, ternyata Lintang sudah pulang dan Lutvi lagi memakai krim malam, aku hampiri dia.

“Eh cumi ngapain lu ngasih tau Widya kalo gue di DV?”

“Hahahaa emang kenapa?

“Ya gapapa sih, cuma males aja gue”

“Nah gak usah marah-marah dong kalo gitu”

Aku pun beranjak dari kasur menuju kamarku.

“Eh Ri bentar, ada yang pengen gue omongin”

“Apaan?”

“Udah sini duduk dulu”

Lutvi pun bercerita mengenai perasaan Widya beberapa minggu terakhir ini yang lebih ceria.

“Ri lu tau kan si Widya suka sama lu?”

“Gak. Emang iya apa?”

“Ah ga peka banget lu jadi cowok”

***

 

Hari ini aku libur kuliah, ya apalagi selain bangun siang. Aku langsung ke lantai bawah, ternyata banyak sekali teman kampusnya Lutvi di ruang tamu dan ada beberapa yang sedang masak di dapur. Tanpa mempedulikan mereka, aku masuk ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Inilah rutinitasku, kalau hari libur aku memang tak mandi hanya cuci muka dan gosok gigi. Pada hari libur aku memang tak mengenal istilah mandi, cuci muka dan gosok gigi itu sudah lebih dari cukup. Setelah segar,

“Ri, sini dulu kenalin nih temen-temen gue”

“Bentar, gue pake baju sama ambil roko dulu di kamar”

 

Aku pun turun menghampiri mereka dan berkenalan. Ternyata salah satu dari mereka ada Wulan, aku pun terkejut.

“Eh ketemu lagi”

Sapa Wulan dengan diakhiri senyum yang manis

Aku hanya diam membisu. Walaupun kami hanya sekali tatap muka bahkan telpon atau sms pun tidak, namun dia masih mengenaliku. Aneh pun terucap lagi dalam hati.

“Hah lu kenal sama Ari, Lan?”

Sambung Lutvi

“Oh Ari namanya. Ari siapa lu kak?”

Tanya Wulan ke Lutvi

“Dia ini sepupunya Lutvi Lan, mahasiswa baru juga sama kaya lu”

Jawab Widya yang ikut nimbrung

“Eh Ri mau kemana lu?”

“Handphone gue bunyi deh kayanya, mungkin ada yang nelpon Vi, bentar-bentar ya”

 

Aku pun langsung ke kamar untuk mengalihkan pembicaraan. Aku dengar dari atas, Wulan menceritakan pertama kalinya kita ketemu, dan mereka tertawa. Entah mereka menertawai apa. Lalu tak beselang lama Widya menyusul ke atas.

”Ri turun yu, makanan udah siap”

”Iya iya nanti gue turun, duluan aja”

Lalu Widya pun ke bawah

”Kak Widya, lah Ari mana?”

”Bentar lagi turun kok Lan”

”Yaelah Wid masih aja manggil Ari, dia mah gak bakal makan kalo abis bangun tidur” sambung Lutvi

”Lah kok bisa gitu kak?” Tanya Wulan

”Gue juga gak tau Lan, emang aneh tuh anak”

***

 

Lalu aku pun turun ke bawah,

”Tuh Ari kak, Ari ayo makan bareng-bareng yuu”

”Duluan deh.. Oiya Vi susu di kulkas kok gak ada, abis ye?”

”Hehehe gue minum tadi Ri, lu beli lagi aja ya, nih duitnya”

”Ah kebiasan lu ye”

”Ri ikut dong, aku juga mau beli sesuatu” Pinta Widya

”Yaudah ayo”

Aku pun langsung pergi bersama Widya.

***

 

“Kak, Ari itu pacarnya Kak Widya ya?” Tanya Wulan

“Hah? Hahaha gak kok Han, belom aja mungkin” jawab Lutvi

“Oh belom”

“Kenapa lu suka juga ya sama Ari?”

“Hheeeemmm gak kok” Jawab Hani dengan gugupnya.

 

Akhirnya aku dan Widya pun pulang. Aku langsung menuju kamar,

“Eh Ri, sini dulu” suruh Lutvi

“Ngapain?”

“Sini aja udah”

Aku pun bergabung dengan Lutvi cs. Aku hanya diam memperhatikan obrolan mereka. Tetapi mataku berhenti pada Wulan, aku perhatikan dia dengan seksama. Hari mulai petang, mereka mulai pulang.

 

Malamnya, aku langsung menelpon Je dan ku ceritakan dari waktu  aku senyum sendiri sampai aku bertemu dia lagi di Jogja. Sialnya aku malah diceramahin habis-habisan oleh Je. Bahkan apabila dia nanti ke Jogja, dia ingin bertemu dengan yang namanya Wulan.

***

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

Tiba saat aku tak senang melihat kalender, bulan dimana aku dilahirkan. Aku memang tak suka ulang tahun.

 

Saat itu tiga hari sebelum ulang tahunku,

“Vi bentar lagi kan Ari ulang tahun ya?” Tanya Widya

“Oh iya ya sampe lupa gue”

“Menurut lu gimana Vi kalo gue nembak Ari?”

“Hah yakin lu?”

“Yakin banget gue, gue sayang banget sama Ari ”

“oh yaudah, gue cuma bisa bantu support sama doa aja Ry”

***

 

Malam hari sebelum esok hari ulang tahunku, aku hanya menghabiskan waktu di terowongan benteng bekas peninggalan Belanda. Langitpun semakin gelap dan cuaca semakin dingin, aku berniat untuk pulang. Sesampainya di kontrakan, aku di kejutkan oleh Widya yang membawakan kue ulang tahun diiringi Lutvi, Lintang, dan beberapa anak-anak. Tapi aku tak melihat Wulan.

 

Tak lama selesai prosesi pemotongan kue, tiba-tiba yang paling membuat aku terkejut, muncul Je dan Wulan dari dalam rumah. Aku langsung menghampiri Je, dari ku peluk sampai ku tempeleng kepalanya.

“kok bisa disini lu Je?”

“panjang ceritanya, kenapa pasti kangen banget ya Ri sama gue?”

Belum puas aku melampiaskan kerinduan dengan Je,tiba-tiba Widya menyatakan cintanya. Jangankan menjawab, bersikap saja aku tahu. Aku langsung melihat Je, Wulan dan Lutvi. Je hanya senyum disertai bahasa bibir dari Lutvi yang menyuruh aku untuk menerimanya. Namun yangmembuat aku heran adalah mimik muka dari Wulan, dia hanya tertunduk tak mau melihat aku…

 

Projek Cerpen #1 – Cinta Tak Pernah Munafik

 

BERSAMBUNG

Insya Allah jika ingat, disambung lagi

 

 

 

Untuk Ke-Enam Kalinya

dicumbuikata.wordpress.com

dicumbuikata.wordpress.com

Setiap malamku ada rasa rindu
Setiap siangku ada rasa sayang
Setiap nafasku menghembuskan cinta
Mengalir bersama aliran darah di dalam denyut nadi

Setiap cahaya pada purnama, kutemui paras cantik wajahmu
Aku pun larut di buai pelukan purnama yang merona.
Setiap kabut yang menyelimuti, kutemui kesejukan jiwamu
Aku pun pasrah dibuai balutan selendang kabut yang hening

Tunggu aku di dermaga rindu, di bahtera cinta yang kita hantam dengan dengan asmara
Karena aku masih berlayar menyebrangi samudra rindu

Selamat untuk yang ke-enam kalinya

Yogyakarta, 11 Mei 2014
Hamidi Asfi Hani