Opera Sanggar Terpidana : Di Kala Senja Ku Penuhi Mimpi Dengan Cinta

Opera Sanggar Terpidana : Di Kala Senja Ku Penuhi Mimpi Dengan Cinta

Selasa, 20 Mei yang lalu di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta dipenuhi dengan para muda-mudi Jogja. Namun kebanyakan dari muda-mudi tersebut berasal dari Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, sisanya dari para penggiat seni, mahasiswa/i dan lain-lain. Jelas mahasiswa/i FH UII lebih banyak, acara yang dibuat oleh Sanggar Terpidana LEM FH UII ini mengangkat pementasan opera dengan tema Di Kala Senja Ku Penuhi Mimpi Dengan Cinta.

Saya pikir jika mampir ke gedung yang terletak di barat jalan Malioboro dan melihat pertunjukan opera itu bisa membuat malam saya lebih menyenangkan. Tapi kenyataannya tanpa saya pikir, saya akan tetap melihatnya. Alasannya bukan hanya musikalisasi puisi atau opera yang membuat saya ingin datang, namun beberapa mahasiswa/i UKM Sanggar Terpidana yang membuat acara ini adalah teman saya. Ya sebagai teman yang baik, selayaknya mendukung acara mereka. Yap!

Acara yang berlangsung pada malam hari itu, di mulai dari selepas Isya sampai kurang lebih jam 22.00 WIB. Saya dan Angge berangkat lebih awal dari dua rekan saya di Gowongan 204. Sebenarnya penghuni Gowongan 204 banyak, namun mereka adalah panitia acara itu. Saat masuk ke area pelataran depan gedung, ternyata belum dipenuhi oleh para penonton. Dengan jam masih menunjukan pukul enam petang, saya dan rekan saya berdiskusi ringan di gazebo dan sembari menunggu dua rekan saya, Om Aconk dan Rama.

Karena Om Aconk dan Rama belum datang, saya dan Angge sepakat untuk menunggu di dalam. Gedung yang beraroma sejarah itu memperlihatkan sisi-sisi organ dalamnya yang memang cocok untuk dijadikan tempat bagi para kawula muda memperlihatkan karya mereka. Tak lama terasa semakin sesak, para penonton pun sudah berdatangan. Karena acara itu diisi oleh beberapa teman saya, maka tak ada rasa canggung.

Sebelum mengisi buku tamu, saya bertemu dengan kawan yang sudah lama tak berjumpa, Muhsin. Muhsin ini kalau tidak salah adalah ketua dari UKM Sanggar Terpidana. Usai mengisi buku tamu, saya pun masuk ke dalam ruangan yang cukup luas dan nyaman. Di sisi selatan panggung terlihat Wulan yang bersuara merdu sedang mendendangkan beberapa syair. Akhirnya kupilih kursi deretan selatan.

Selama kurang lebih satu jam pementasan opera yang terlebih dahulu diawali dengan musikalisasi puisi, akhirnya acara keren itu harus berakhir. Saya pun tak henti-hentinya kagum atas acara yang menarik itu dan memberi selamat kepada rekan-rekan saya atas kinerja mereka yang sungguh luar biasa. Termasuk tulisan ini saya buat untuk mengapresiasikan rasa kagum saya ke mereka.

Akhirnya saya dengan mengutip tulisan teman saya, Wipti, yang juga sebagai penggiat seni di Yogya, katanya : “Saya pikir sudah seharusnya pemuda seperti ini kreatif dan menyenangkan. Berpikir soal bagaimana menjadi sarjana yang baik dan calon buruh yang teladan itu kadang jadi proyek penting, tapi jadi individu yang menyenangkan rasanya bisa jadi opsi yang lebih menggiurkan.” ~ Wipti Eta

Di Kala Senja Ku Penuhi Mimpi Dengan Cinta
Kau berhak bermimpi
Kau berhak untuk mewujudkannya
Tuhan tidak akan membencimu
Siapapun dirimu
Dan
Apapun mimpimu
Selama hal itu baik bagi sesama
Maka janganlah tunggu
Sampai senja

-foto menyusul-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s