Sewindu Gempa Jogja dan Lumpur Lapindo – 27 Mei 2014

Senja kini berwarna oranye, dengan burung gereja membentuk shaf di kabel listrik yang menggantung. Aku hanya duduk seraya bertanya, apakah mereka nyaman berada di situ? apakah tak ada ranting pohon yang lebih aman untuk dipijaki?

Di kala Jogja terlalu berisik, semakin malam semakin menjerit. Aku mencicipi kopi yang berasal dari pulau Dewata atau Bali dan ditemani selinting ganja di sela-sela jari. Bicara soal alam, Jogja dan manusia, aku teringat atas peristiwa yang tak akan begitu mudah dilupakan. Membawa imajinasiku mengungkit peristiwa sewindu yang lalu. Peristiwa yang tak mungkin begitu mudah berlalu.

Aku bertanya pada diriku sendiri, dalam ruang penuh kegelisahan. Asap dari kendaraan bermotor pun tak henti-hentinya mengoplos udara untuk dikonsumsi makhluk hidup. Nasib alam ini akan na’as. Cuaca dunia ini akan panas. Semua terampas oleh manusia yang tak pernah puas. Akibatnya banyak manusia yang meregang nyawa. Ada juga manusia yang bercoloteh tentang alam yang agar selalu dijaga. Ada pula manusia yang bertindak untuk alam tanpa berbicara. Keberagaman sifat mereka adalah kecerdasan Tuhan untuk membedakan mana sifat manusia dan mana sifat hewan.

Jogja, 27 Mei. Hari ini selasa dan tepat sewindu yang lalu, peristiwa yang membuat air mata tak terbendung terjadi. Gempa Bumi. Gempa yang meluluhlantakkan beberapa wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2006. Banyak korban jiwa dan kerugian materil yang dirasakan warga Jogja. Saat ini Jogja telah bangkit, namun bagaimana dengan Sidoarjo?
Sidoarjo pada sewindu yang lalu pun menemui mimpi buruknya. Tragedi banjir lumpur panas mulai menggenangi areal persawahan, pemukiman penduduk dan kawasan industri. Lama-kelamaan mungkin seluruh wilayah sidoarjo akan tenggelam oleh lumpur jika tak ada peran yang berarti untuk menanggulangi kejadian itu.
Semua peristiwa yang terjadi di nusantara ini adalah tanggung jawab kita semua sebagai makhluk hidup yang dibekali akal pikiran dan perasaan.

Semoga semakin bersahabat dengan alam. Jangan menjadi buta dan tuli terhadap sekitar. Namun tak bisu untuk mengomentari sekitar.

Gowongan, 27 Mei 2014
Hamidi Asfi Hani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s