Not History, this is My-story – Dewa Di Bumi

DEWA DI BUMI

Aku berjalan seiring dunia yang menua.
Bersama kawan baik ku temukan asa.
Melangkah jalan dengan penuh tawa.
Tak  lupa semangat kubesarkan dalam dada.
***

Dewa berpakaian manusia.
Saat senja jatuh, ada cahaya yang lahir. Cahaya jingga yang tiap senja gemar mengetuk untuk masuk jendela yang menghadap arah barat. Menerangi sisi gelap kamar sang pemuda. Kamar yang berisi ratusan tulisan tangan pemuda itu dan artikel-artikel menarik dari majalah yang melekat pasrah di dinding kamar. Seorang pemuda duduk terpaku di depan layar laptop yang membelakangi jendela dengan rokok yang hampir menjadi abu di asbak yang terletak samping laptop dan ditemani sebuah cangkir berisikan susu tawar yang hangatnya perlahan hilang. Pemuda itu adalah aku, Hamidi Asfi Hani.

Orang tuaku memiliki dua buah hati. Buah hati pertamanya adalah laki-laki. Mungkin beberapa orang tua berharap memiliki buah hati laki-laki dan perempuan yang membuat orang tua itu puas bahagia. Mungkin orang tuaku juga mengharapkan buah hati berjenis kelamin perempuan, namun yang lahir ke dunia seorang laki-laki. Mungkin dari situlah namaku beraroma nama perempuan : Hani.

Kalian adalah dewa dan dewi utusan Tuhan
Kalian adalah cinta tak akan habis dibicarakan
Kalian adalah harta yang tak bisa terjabarkan oleh suatu nilai
Kalian yang paling paham di saat yang lain tak mengerti

“tolol, jangan dulu gunakan amarahmu. Simpan saja amarahmu di semak-semak. Kau beruntung masih berlogika.” Tertulis satu kalimat di layar laptop yang menghipnotisku untuk menuruti tulisan tersebut.

“namun aku juga manusia, aku hanya ingin mereka menerima ‘isi’ku, bukan kain yang aku kenakan.” Bentakku kepada layar laptop agar tak selalu menghipnotisku.
***

“Ham! Ngapain kamu ngomong sama laptop?” sapaan pemuda bertato mata di lengan kiri sontak membangunkan aku dari pengaruh hipnotis sebuah komputer jinjing. Aku hanya membalas sapaannya dengan senyuman.

Senja semakin hilang, gelap pun bersiap datang. Aku bergeser dari tempat dudukku untuk memberi ruang duduk kepada Dewa. Agar Dewa bisa melihat tulisan-tulisan yang telah ku torehkan pada benda elektronik ini. Dewa adalah teman satu kontrakan denganku. Dia selalu menuangkan hal-hal berarti lewat sifatnya yang dingin.

“gimana tugas fotografi dasar lu?” tanyaku
“gagal, langitnya cerah banget”
“lah bukannya bagus ya moto langit di kala senja?”
“bagus emang, tapi kan aku udah ada foto langit senja. Nah aku pengen moto langit pas lagi mendung, gerimis-gerimis romantis gitu deh”
“oh gitu. Yaudah ngopi aja yu wa di atas” ajakku
“ayo, kamu naik aja duluan bro, biar aku yang bikin kopi” sahut Dewa dengan logat yang begitu berbeda dari anak seusianya
“serius nih?” jawabku untuk sekadar basa-basi

Aku pun naik terlebih dahulu ke lantai atas rumah kontrakan kami, disusul dengan Dewa lima menit kemudian. Malam ini terasa begitu damai ketika kami berdiskusi tentang apa saja yang menyangkut dari hidup kami. Mulai dari hal percintaan, kegiatan menulis ataupun memotret, urusan kampus dan lain-lain. Sementara aku dan Dewa berdiskusi di atas, di teras depan kamar teman satu kontrakanku juga yaitu Hapi, teman-temanku yang lainnya berada di ruang tengah. Ruang dimana aku beserta teman satu kontrakan menghabiskan sisa-sisa waktu dari kesibukan kami. Entah itu kita menghabiskannya dengan bercanda, menonton film, mendengarkan lagu, tidur, atau dengan sibuk sendiri bersama gadgetnya masing-masing.

Aku sering menulis apa saja, entah itu tentang suka ataupun duka. Sering juga aku memakai gambar dari jepretan kamera Dewa untuk menulis, agar lebih meyakinkan pembaca untuk terjun langsung ke dalam  cerita yang kubuat. Jika Dewa berbica lewat foto, maka aku berbicara lewat sebuah karya tulis. Jika Dewa perlu alat yang cukup banyak dan mahal untuk foto, aku hanya perlu kertas dan sebuat pensil  untuk menulis. Dewa memang perlu, karena jurusan kuliahnya adalah seni fotografi di salah satu institute seni di kota ini. Sedangkan aku adalah mahasiswa teknik informatika yang lebih menggemari dunia sastra(kata kerennya) dibandingkan dengan komputer. Dan aku memang berada dalam jurusan yang salah untuk kuliah.

“sudah berapa cerpen yang kamu selesaikan Ham?” tanya Dewa dengan tangan memegang kamera dan memotret beberapa objek yang ada di sekitar kami
“gak tau Wa, gak pernah gue itungin. Tapi ya cukup banyak kayanya, kenapa emang Wa?” tanyaku heran
“gak coba kamu terbitin aja Ham, jadiin buku gitu?”
“ngapain ah Wa! Gue aja nunjukin tulisan gue cuma ke beberapa orang aja. Lagipula gue malu Wa”
“kamu mau omonganmu didengar gak? Percuma kamu nulis tapi orang lain gak tau. Aku ingin omonganku didengar lewat fotoku, makanya aku jika ada waktu selalu ikut beberapa perlombaan foto”
“hhmmm iya juga sih, yaudah nanti gue coba deh wa”
“gitu dong, nanti aku bantuin untuk foto ilustrasi dari tulisanmu itu”

Aku tak ada komoditi agar datang si realisasi.
Ini semua yang kumiliki hanya fantasi dan imajinasi.
Kata lain, prahara sebagai jawaban atas mimpi, ambisi, dan obsesi.
Kata menang dan bebas tak ada dalam diksi maupun  linguisi.

Beberapa hari setelah pembicaraan, aku beranikan diri untuk menaruh tulisan-tulisanku ke penerbit yang ada di kota pelajar ini. Dari banyak penerbit yang aku kirim, hampir semua menolak tulisannku. Di saat asaku hampir putus, aku dihubungi editor senior dari penerbit terkemuka di Jogja dan kami sepakat bertemu di Djendelo, sebuah cafe yang menyatu dengan toko buku.

“kamu Hamidi ya?” sapa seorang perempuan berkacamata
“iya, kamu siapa ya?”
“kenalkan, nama aku Putri Senja Buana. Kamu bisa panggil aku Ana”
“oh iya mbak, aku Hamidi Asfi Hani” diikuti tanganku yang membalasa uluran tangannya untuk berjabat
“panggil Ana saja Ham. Aku ini seorang editor dari sebuah penerbit yang kamu kirimi tulisanmu. Aku sempat membaca tulisanmu itu dan aku tertarik sekali atas ceritamu”
“ya terus?”
“aku yakin kamu punya potensi, passion kamu di dunia ini. Kalau boleh aku mau mengajarkan atau lebih tepatnya saran lah agar kamu lebih paham tentang dunia yang kamu gemari ini”
“wah terima kasih mbak, aku bersedia..”  tanpa pikir dua kali aku langsung menerima tawarannya

Setelah percakapan itu dan ditambah percakapan yang lain agar kita akrab, aku langsung menuju tempat kerja Dewa bersama Ana juga. Dewa memang mengisi waktu luang kuliahnya untuk berkerja di studio foto milik dosennya. Karena kebetulan tak jauh dari tempat kerjaan Dewa ada sebuah coffe shop, maka kami janjian di sana. Dewa adalah sahabatku yang pertama yang kuberi tahu. Serta tak lupa kuperkenalkan juga dengan Ana.

Sembari aku menyelesaikan skripsiku, aku tetap belajar dari Ana. Tak terasa dua bulan sebelum akhir tahun telah tiba. Bulan dimana aku akan meninggalkan kota ini. Kota yang banyak memberikan pengalaman hidup. Pengalaman hidup yang sangat berarti bagiku. Seperti teman-temanku yang sangat berarti bagiku. Setelah sebulan aku tak di kota itu, kota Jogja. Aku kini mencari pekerjaan di kota kelahiranku, Jakarta.

Lima tahun telah berlalu dan kini aku berkerja di salah satu perusahaan milik sepupuku, saudara dari garis keturunan ayahku. Sudah sekian lama itulah aku tak bertemu dengan sahabatku Dewa dan Ana. Kini aku telah menikah dengan orang yang setia menemaniku sebelas tahun lamanya, sejak dari seragam putih-abu-abu. Dewa dan Ana pun tak datang ke pernikahanku. Merekalah jalan yang diberikan Tuhan untuk kesuksesanku. Hingga kini aku berhasil membuka perpustakaan sederhana berukuran sepuluh kali sepuluh meter yang dibangun tepat sebelah rumahku. Perpustakaan itu aku peruntukan untuk anak-anak agar gemar membaca sebagaimana perintah Tuhan kepada Baginda Nabi SAW yaitu Iqra. Dan kini aku juga sudah menerbitkan dua buah buku, novel dan kumpulan cepen yang kutulis semenjak kuliah.

Setiap minggu di perpustakaanku memang aku adakan pembacaan dongeng, yang menceritakan dongeng itu aku namun ketika aku sedang ada urusan kerja, istriku tercintalah yang menggantikan aku. Wulan Aprilia.

Ketika hari minggu di minggu kedua di bulan ke tujuh, aku tiba di Jakarta setelah dari hari Jum’at aku pergi rapat untuk sebuah proyek di kota pahlawan; Surabaya. Setibanya aku di depan rumah, kulihat seorang pria sedang memotret anak-anak yang sedang terpaku kagum mendengar seorang perempuan yang sedang membacakan dongeng. Tak lama kemudian istriku menghampiri mereka dengan membawakan minuman dan cemilan untuk pria dan perempuan itu serta untuk anak-anak. Istriku pun melihatku

“mas Hani” teriak istriku

Pria dan perempuan itupun menoleh kepadaku. Aku kaget melihat mereka. Mereka adalah Dewa dan Ana. Segera lari untuk menghampiri mereka.  Ku peluk mereka dengan rasa rindu yang amat dalam. Akhirnya dongeng dari Ana dilanjutkan oleh keponakanku, buah hati dari kakakku dan istrinya, yang memang aku suruh menjaga istriku ketika aku sedang di luar kota. Aku, istriku, Dewa dan Ana menuju teras depan rumah untuk berbincang panjang lebar, menumpahkan air rindu yang telah penuh terisi di cawan hidupku. Dari cerita mereka, Dewa dan Ana akan segera menikah. Walau umur mereka terpaut lima tahun lebih tua Ana, namun itu tak mengubah rasa cinta Dewa ke Ana. Mereka spesial datang menghampiriku untuk mengundang aku dan istriku ke pernikahan mereka. Dewa juga sudah memiliki studio foto professional dan kini Dewa mengajar di sekolah fotografi yang ia buat. Sedangkan Ana sudah resign sebagai editor dan sekarang terjun mengurusi studio foto Dewa sebagai pengganti Dewa dalam hal mengurusi karyawan studionya.

Lupakan semua perih karena sekarang pelangi dan kupu-kupu menanti untuk pergi membawa ke dunia dimana bisa kita temukan kesenangan. Biarkan dahulu redup diantara genangan penyesalan atas luka yang dibuat di masa lalu.
Terimakasih Tuhan untuk suara yang tertahan.
*******

Hamidi Asfi Hani

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s