Satu Dekade, Rasa Yang Palsu

Tak menarik untuk diungkapkan. Cinta biasa ini biarlah hanya menjadi cinta biasa, yang tak akan menjadi cinta indah nan istimewa seperti yang teman-temanku lihat dan dengar. Aku mencintainya dari sisi kebodohanku, kebodohan karena aku membiarkan dia lepas dari jangkauanku. Aku tak bisa menggapainya, dia terlalu jauh untuk ku raih. Aku pun tenggelam dalam rasa ini. Aku hanya bisa mengagumi dan memandanginya dari jauh. Walaupun ada beberapa kejadian yang memberiku kesempatan untuk dekat denganmu, aku lebih memilih diam dan mencuri-curi pandang padamu.

Dalam kurun waktu hampir dua tahun, aku dan dia tak pernah bertegur sapa. Bahkan melempar senyum pun tak pernah. Hanya senyuman kecil yang ku lontarkan ketika kami tak sengaja beradu mata. Dan dia hanya membuang muka dari hadapanku. Aku terjerambab dalam cinta palsu ini. Ingin aku petik cintanya namun terlalu tinggi untuk aku gapai.
***
“Ke kantin yuk Ri..” ajak Alvira sahabatku.
Di kantin kulihat dirinya yang selama ini ku cinta sedang duduk di salah satu warung kantin di sekolah kami. Ketika aku melewatinya, tak kulewatkan kesempatan untuk memandangnya walau hanya sekilas, ya aku pun tak menaruh harap kalau dia menyadari bahwa aku melewati meja yang dia diami dengan beberapa teman-temannya.

Selama di kantin, dan selama itu pula aku mencuri pandang ke arahnya. Memperhatikan dia yang terlalu manis untuk ku lihat. Dia yang memberi warna di hariku, memberikan gairah di setiap langkah mimpiku, dan dia juga yang memberi mimpi palsu dalam anganku.

Masih dengan cinta palsu ini, ku pandang dia yang di seberang sana tertawa kecil bersenda gurau dengan sahabatnya. Tawanya yang khas membuatku tersenyum kecil kala itu. Sembari ku tinggalkan kantin, tak lepas pandanganku melihat dia yang aku cinta, dia yang berada di kepalsuan.
***
Ketika class-meeting, di sela-sela pertandingan, pandanganku selalu mengintai dia yang kucinta. Dia sosok mungil yang selama ini menuntunku masuk ke dalam kepalsuan yang aku perbuat sendiri. Sangat bahagia memandangnya sejelas ini, tak ada rasa canggung untuk memandangnya selama mungkin.

Di penghujung pertandingan futsal, ku lihat wajah khawatir keluar darinya. Entah apa yang membuatnya sebegitu khawatir. Dia tiba-tiba masuk ke lapangan dan langsung merangkul seorang lelaki yang ternyata berasal dari kelas 7 bahasa. Kelas yang merupakan lawan dari kelas ku di pertandingan futsal class-meeting ini. Kelas 9 D.
Lelaki yang dirangkul oleh perempuan yang kucinta ternyata cedera. Cedera akibat hantaman keras dari teman sekelasku. Alhasil lelaki itu digantikan posisinya. Kaget, tercengang, itulah yang kurasakan karena melihat perempuan yang kucinta sedang menenangkan kesakitan sang lelaki yang cedera itu dari pinggir lapangan.
***
“Kenapa gak lu bilang aja sih Ri kalo lu sayang sama dia?” Ucap Alvira padaku, yang masih setia menemaniku dari awal pertandingan hingga usai.
“Enggak deh Ra. Gak berani gue. Lagipula gue udah bahagia kok ngeliat dia senyum kaya gitu.” Jawabku pasrah, dalam ketidak berdayaan ini. Dan Alvira pun masih setia menemaniku untuk memandangi perempuan yang kucinta dari kejauhan.

Perempuan itu duduk di samping lelaki yang cidera tadi, sembari merangkul pundaknya. Dengan senyuman manis khas darinya, perempuan itu mencoba menenangkan dia dari rasa sakit.
Aku tak tahu bagaimana aku harus bersikap karena melihat ini, aku hanya bisa memandangnya. Perempuan itu mencoba mengobatinya, mengompres kaki lelaki itu dengan handuk basah.
Seharusnya itu aku, aku yang sedang ditemaninya, dirawat olehnya. Namun kenyataannya itu bukan aku, aku masih disini, di selasar masjid sekolahku. Duduk diam sembari menatap mereka di bawah naungan kanopi halaman masjid, dalam tawa dan kebersamaan. Hati ini kacau saat melihat mereka nampaknya bahagia dalam suasana itu, dan mungkin suasana dimana mereka penuh cinta dan kebersamaan. Miris rasanya, namun apa daya tak ada hal lain yang bisa kuperbuat.

Alvira tahu akan dia yang aku cinta sedang menemani dan mengobati cedera adik kelasnya. Alvira hanya mengelus pundaku, menandakan dia mencoba memberiku semangat untuk tak menggoyahkan cinta yang diselimuti kepalsuan ini.
***
Aku dan dia masih sering berjumpa walau tak lagi sekelas, seperti biasa dalam kekosongan perjumpaan seolah aku ingin sekali bertegur sapa denganmu. Namun kecanggungan ini menahan aku. Hanya pandangan yang berbicara akan rasa yang tak pernah terungkap, dan tak pernah terbaca.
Mungkinkah dia rasa yang sama? Itulah persaan yang terus menghantuiku, mencoba menelaah di suatu sisi kehidupannya. Aku hanya bisa mengikuti alur kisah ini. Mencoba menerima kenyataan akan keegoisanku karena tak ada niat baikku untuk mencairkan kebekuan di antara kami berdua. Keegoisan itu sampailah saat ini, saat dimana aku tak bisa menamai lagi hal ini keegoisan. Karena hal ini lebih dari keegoisan besar.

Dia yang ku cinta, dia menghianati kepalsuan cinta ini. Tak pantaslah aku menyebut dia penghianat. Namun semua ini telah terjadi, aku sakit hati, sakit yang begitu sakit, membuatku seolah jatuh dan tak bisa berdiri, dan aku menangis dalam kesendirianku karena dia yang ku cinta. Dia menorehkan pedih dan luka dalam hati ini. Aku kecewa, kecewa yang seharusnya tak pantas aku limpahkan semua kekecewaan ini kepadanya. Karena dia bukan siapa-siapaku, dia hanya sebatas sosok yang selama ini aku cinta tanpa kehadirannya.

Waktu terus berputar, hari demi hari ku lewati, pagi siang dan malam terus berganti. Hingga kini telah tiba di penghujung semester dua, dimana masa-masa terakhir kami di sekolah. Aku yang masih setia mencintai dia yang aku cinta dalam kepalsuan. Semakin bergantinya hari semakin aku merasa cinta ini tak memihak ku. Tak ada hal lain selain aku mengagumi dan mencintai diam-diam. Tak pernah ada kesempatan untukku bisa meraih dan menggapai hatinya, seolah waktu dan kesempatan tak memihakku untuk bisa lebih dekat dengannya. Kepalsuan besar ini membawaku dan membiarkan hatiku terhanyut akan dalamnya cinta.
***
Semua telah terjadi, aku menahan perih ini selama hampir sepuluh tahun. Meski pun ku tahu, aku tak bisa berpura-pura untuk tak ingin dia mengerti. Alvira memberi tau semua kabar tentang dia, termasuk kekecewaan ini dan sebuah cerita kecewa yang baru. Nyatanya inilah yang terjadi, dia yang ku cinta kini sudah menjadi milik lelaki itu, ya lelaki yang ditolongnya saat lelaki itu cedera. Lelaki yang diobati dan dikompres memarnya oleh perempuan yang ku cinta telah menjadi sepasang kekasih walau tak lama.
Namun sebuah cerita kecewa yang baru membuatku semakin menyesal karena aku masih menyimpan egoku untuk tak mencairkan hubungan ku dengan dia, karena perempuan yang kucinta saat ini sedang menjalani kisah cintanya yang sudah berlangsung selama kurang lebih tujuh tahun. Mereka telah menjadi sepasang kekasih dalam ikatan cinta.

Aku tak tahu lagi, aku tak kuasa lagi menerima kepalsuan cinta ini. Hingga kuputuskan untuk mengakhiri rasa cinta ini, cinta yang terlanjur begitu dalam kurasakan. Menorehkan luka yang dalam pula.

Waktu kembali bergulir, hari jam menit dan detik terlewati. Hembusan angin yang membawa cinta pun terlewati, setelah lama aku putuskan untuk tak mencintainya lagi. Kini ku coba mengenalnya sebagai teman, teman satu perjuangan di sekolah ini. Sekolah yang mengajariku bersikap santun, bijak dan memberiku petunjuk dengan ilmu yang ku peroleh, dan juga sekolah ini yang mengajariku bagaimana cinta palsu ini berlangsung.
***
Masih ku jumpai dia lewat media sosial, dia kini sudah berjalan berdua beriringan bersama lelaki yang dia jalin hubungan cintanya selama tujuh tahun. Pahit rasanya, aku hanya bisa menghembuskan nafas dalam-dalam, menundukan kepalaku akan kekecewaanku ini,. Penyesalan karena keegoisanku untuk merelakannya dimiliki lelaki lain. Namun apa daya semua itu telah terjadi. Dia yang aku cinta kini telah berganti menjadi sebuah kenangan terindah.

Walau ada masa ketika kami sudah saling bertegur sapa tanpa bertatap muka, sapaan dia, perempuan yang kucinta, menenggelamkanku kembali dalam tatapan dan senyumnya yang manis terbayang jelas di otak kanan.

Namun, kepalsuan ini kini telah lenyap, karena aku, Ari Asfi Ananto yang selama ini mencintai Resti Jasmin Rahayu kami berdua telah menjadi teman, dan mungkin akan menjadi sahabat. Meskipun terkadang penyesalan itu masih ada, dan kini aku merelakan Resti memilih lelaki itu.
***
Terkadang cinta itu penuh kepalsuan, hingga akhirnya aku merelakan dia bersama rasa itu lenyap dalam kenyataan yang harus kuterima. Kenyataan bahwa aku bahagia melihat senyumnya terpancar ketika melihat mata lelaki pujaannya.
Ini menjadi kisah cinta yang mungkin hanya aku dan mereka yang ku percayai mengetahuinya, menjadikan ini lembaran kenangan di sepuluh tahun yang lalu.

Selesai

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s