Antara Aku Kau dan Dia

***

Kepada Cinta
Kata maaf selalu tertuju
Kepada Cinta
Aku kan bertahan

Tetesan air membasahi taman kecil yang berada di depan kamar sebuah rumah kontrakan mahasiswi di pusat kota Yogyakarta. Hawa dingin merayap masuk melewati ventilasi. Alunan merdu terdengar dari percikan hujan yang menghantam lantai teras samping taman depan kamarnya. Tak ada kegiatan berarti yang dilakukan Rahayu. Ia hanya diam menatap bulir-bulir air yang jatuh dari langit lalu merosot halus melalui dedaunan. Di tempat yang berbeda, tanpa Rahayu sadari tetesan air pun ikut jatuh dari matanya dan merosot melalui pipinya yang halus. Beberapa menit kemudian isak tangis Rahayu mengalahkan alunan merdu hujan. Tangis lelah dari hubungan yang Ia jalani selama sepuluh bulan. Lelah dengan sikap kekasihnya -mahasiswa dengan tambahan status pekerja paruh waktu di sebuah kantor yang bergerak dibidang kuliner- yang seakan tidak memperdulikannya.

jejak-hujan-9

Hujan akhirnya reda dan tak lama langit dihiasi pelangi. Rahayu melihat jam yang tertera di ponsel pintarnya yang menunjukan jam16:20 WIB. Tertera pula empat panggilan tak terjawab dari Asfi dan sebuah pesan masuk. Pesan yang berisi,

From : Asfi
Masih marahan sama Setya? Terus Kamis besok lu jadi ikut gue pulang ke Jakarta?

Rahayu tak membalas, air matanya kembali mengucur. Hanya berharap Prasetya membalas pesannya yang Ia kirimkan sejak siang tadi.

17:15 saat matahari mulai bersiap melambaikan tangan untuk sejenak pergi membawakan hangatnya kepada belahan bumi lainnya, Rahayu mendengar Vira yang sedang berbicara dengan seseorang di depan pintu. Tak lama ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dengan langkah gontai Rahayu membuka pintu kamarnya.
“Nih ada bingkisan Yu..”
Sebuah hiasan dinding berbahan bunga melati harum nan wangi.
Matanya terbelalak tak percaya, seolah bertanya, “Untuk aku Vir? Dari siapa?” Tapi Vira sudah lebih dulu menyerahkan kartu ucapan bertuliskan Jasmine for Rahayu dengan emoticon senyum di akhirnya.
Seketika Rahayu tersenyum, Ia bagai dimabuk kepayang seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Melati pertama untuknya. Lalu Ia langsung menuju kamar dan mengambil ponselnya yang ternyata sudah ada balasan dari Setya.

From : Prasetya ❤
Maafin aku sayang.
Lusa kamu mau pulang ke Jakarta?
Sabtu besok kakak aku nikah, Ibu mau kamu ke Bandung hari Jumat. Kamu bisa mampir ke Bandung dulu kan?
Pulang ke Jakartanya nanti aku antar.

Semua niatan untuk memutuskan hubungan ini sirna sudah. Semua amarah terganti menjadi senyum tak mau usai. Bukan karena sang Ibu yang meminta untuk ke Bandung tapi karena Setya yang mau mengantar pulang.

To : Prasetya ❤
Iya, see you soon :*

***

“Aduh, nanti mau mampir ke Bandung dulu ya, Fi?”
“Iya, Bu. Kan, perginya sama Asfi. Diizinin, kan, Bu?”
“Si Ayu tuh mau ketemu temennya ya disana? Nginep gak?” Terdengar suara Ibu tampak ragu seiring banyaknya pertanyaan yang diutarakannya.
“Kayaknya sih iya, Bu. Biar Ibu nggak khawatir, malemnya suruh nginep di rumah Sanu aja Bu. Ibu hubungin Ceu Edoh aja, Bu.” Asfi memberi saran agar Ibu menghubungi istri dari adik kandungnya yang juga tinggal di Bandung. Dahulu Asfi adalah kakak kelas Sanu di SMP, dikarenakan mereka satu kegiatan ekstrakurikuler yaitu sepakbola, mereka pun akrab. Sanu adalah anak pertama dari Encang Japran dan Ceu Edoh. Encang Japran adalah adik kandung dari ibu.
“Oh iya, bener juga kamu, Fi. Yaudah, Ibu izinin. Hati-hati, ya kalian!”
Ponsel pun diberikan kembali ke Rahayu.
“Bu, aku diizinin kan?”
tanya Rahayu dengan sedih memelas.
“Iya, hati-hati ya.”

***

“Kamu jadi berangkat kapan Fi?”
“Besok abis shubuh, Bun.”
“Kata Bu Rasti, kamu mau mampir ke Bandung dulu ya, Fi?” ucap Bunda di ujung telepon.
“Iya, sekalian nganterin Ayu, Bun.”
“Kok berangkatnya Kamis, apa gak kelamaan di jalan ya?”
“Gak kok Bun, ini udah waktu yang ideal kok” dibarengi Asfi yang tertawa
“Oh yasudah, hati-hati bawa mobilnya.”
Lalu Asfi menutup teleponnya, dibarengi Bunda yang mengelus dada turut merasakan kepedihan yang entah bagaimana tak pernah dirasakan Asfi. Yang bisa Bunda lakukan hanya menggeleng kepala melihat putra bungsunya hobi sekali menghabiskan waktu di luar rumah.

***

16765153848_f6f8672954_z

Sejauh-jauhnya aku melangkahkan kaki
Kamulah jalan terdekat menuju hidup yang aku harapkan
Dan andai kau mau ikut aku berjalan
Ada satu yang harus kau buang jauh
Ragu

Karena mereka akan pergi pagi buta, malam hari sebelumnya, Rahayu menginap di kontrakan Asfi. Semburat oranye masih memenuhi ufuk timur saat Asfi dan Rahayu bersiap untuk perjalanan jauh mereka. Lalu Asfi membantu Rahayu memasukkan Jansport dan Dr.Martens mereka ke jok belakang.
Kamis manis akan segera dimulai. Asfi tersenyum.

Matahari sudah terik dan membuat Rahayu terlonjak. Tadi pagi, saat berangkat dari rumah, warna oranye masih memenuhi langit. Sebuah selimut yang tersampir di tubuh Rahayu membuat keringat keluar dari kedua telapak tangannya. Rahayu merasakan dengan jelas, betapa tangannya telah basah berkeringat. Sebegitu mengantuknya sampai Rahayu lupa kapan dia memakai selimut ini.
“Yu kita makan siang dulu ya.”
Asfi menyadari Rahayu yang baru saja membenarkan posisi duduknya sambil mengucek mata.  Rahayu sama sekali tak ingin makan. Tapi Asfi berkali-kali menawarkan apakah ia lapar dan ingin makan. Tidak ada sahabat yang seperhatian Asfi. Rahayu yakin itu. Apalagi, semua kesamaan yang dimiliki mereka membuat keduanya makin tersambung.
Asfi mengambil CD album kompilasi lagu folk akustik dan membiarkan volumenya terputar pada skala maksimal. Asfi mulai bersenandung. Tak lama terjadilah karaoke dadakan di dalam Datsun SSS itu.
Pacar dan sahabat. Rahayu merasa menjadi orang paling bahagia sedunia.

“Oi, bangun!” Asfi menarik selimut dari dekapan Rahayu. Entah berapa menit setelah karaoke bersama, Rahayu tertidur lagi.
“Hah?” Rahayu terkesiap dan mendapati Asfi tengah bergeleng- geleng menatapnya.
“Ya ampun, dasar Rahayu sleepy head! Maafin aku!” rutuk Rahayu pada dirinya sendiri. Asfi tertawa, lalu menepuk-nepuk puncak kepalanya beberapa kali.
“Enggak apa-apa.”
Sikap Asfi barusan membuat Rahayu mematung. Asfi memanjakannya seperti seekor anak kucing piaraan. Rahayu  merasakan ada yang tidak beres, apalagi dengan hatinya. Tiba-tiba ada debar tak jelas yang berdetak keras di dalam sana. Ia tak mengerti apa artinya. Ia malah merasa takut, dan terus menerus menghadirkan bayangan Setya agar tak sedikit pun berpikiran macam-macam.
Asfi mungkin membaca raut wajah Rahayu yang menegang. Buru-buru ia membetulkan posisi kembali menghadap setir. Matanya menoleh kian kemari ke arah jalan.

***

Rahayu tertidur ketika mereka mulai perjalanan dari Wates. Kebiasaan Rahayu tidur di mobil tidak pernah berubah. Asfi melirik sekali lagi lewat kaca spion depan. Kepala Rahayu yang miring kiri sudah cukup untuk memberikan kesimpulan bahwa ia sedang merajut mimpinya.
Hobi menjelajah tempat-tempat baru dan seringkali tidur di mobil membuat Asfi selalu meninggalkan selimut di jok belakang. Diambilnya selimut itu, lalu disampirkan sebisa mungkin di atas tubuh Rahayu sambil tetap memegang kemudi.
Asfi senang jika Rahayu tertidur. Di saat gadis itu tertidur, ia tidak perlu sembunyi-sembunyi melirik lewat kaca spion untuk menatap Rahayu. Ia bisa menatapnya berlama-lama. Rahayu terbangun. Ada hal yang membuatnya terbangun. Ups, blitz kamera ponsel Asfi lupa dimatikan.
“Yu kita makan siang dulu ya.” Asfi bertanya sok santai sambil berharap Rahayu tidak menyadari kejadian tadi. Butuh beberapa menit sebelum Rahayu benar-benar terbangun. Alisnya bertaut menatap jam yang tertera di smartphonenya.
“Ini masih jam sepuluh, Fi. Belum masuk waktu makan siang.” Benar juga. Asfi malah bersikap bodoh di depan Rahayu. Diam-diam ia membatin, semoga Rahayu tidak berpikiran macam-macam.
Biasanya juga begitu. Suasana yang terlalu hening membuat Asfi menjadi salah tingkah. Buru-buru diraihnya CD akustik folk kompilasi kesukaannya, yang awalnya adalah kesukaan Rahayu.

10784891_568793169931298_493064937_n

Membangunkan Rahayu ternyata susah sekali. Tapi, Asfi menikmatinya. Kira-kira sudah ada belasan foto wajah Rahayu berpose tertidur yang sudah diambilnya pagi ini. Ada energi yang bisa menjadi bahan bakarnya dari wajah berambut sebahu itu. Ada yang hangat yang menjalar di tubuh Asfi jika menatap Rahayu, membuatnya ingin terus berlama-lama berada di dekat gadis itu, yang terkadang membuat akal sehatnya berhenti dan kalah dikuasai sisi egoisme kejantanannya.
Ketika sudah puas menjepret, Asfi lalu mulai membangunkan Rahayu dengan menarik selimutnya. Bersikap seratus delapan puluh derajat berbeda. Jauh lebih dingin dari Asfi yang biasanya.
“Oi, bangun!”
Rahayu langsung terkesiap sambil mengerjapkan mata beberapa kali, dan itu lucu.
“Ya ampun, dasar Rahayu sleepy head! Maafin aku!” Rahayu memarahi dirinya sendiri, yang mungkin secara langsung adalah permintaan maaf kepada Asfi. Tapi Asfi malah merasa pemandangan itu sungguh menggemaskan. Demi Tuhan, impuIs refleks dari otaknya yang membuatnya menepuk-nepuk kepala Rahayu. Ia tahu, ia tidak seharusnya melakukan itu. Ia tahu, tidak seharusnya ia menunjukkan perasaannya. Ia seharusnya sadar, bahwa Rahayu, teman SMA-nya, sekarang sudah dewasa dan dimiliki orang lain.
Asfi melirik pada Rahayu yang masih mematung. Jauh di dalam hati Asfi, ia memberontak dan memaki dirinya sendiri. Perasaan ini memang sejak awal seharusnya dihanguskan. Ia tidak seharusnya mencintai gadis yang sudah cinta mati pada laki-laki lain.

***

Setelah melakukan perjalanan yang jauh dan menyenangkan, mereka tiba di Bandung, keesokan harinya, Juma’at. Terlalu lama waktu yang dihabiskan untuk perjalanan Yogyakarta menuju Bandung. Tapi disitulah hobi Asfi berperan, dia lebih memilih berangkat lebih awal agar tidak dikejar waktu dan barangkali di tengah perjalanan, mereka menemukan tempat bagus untuk sekedar mengagumi ciptaan Yang Maha Esa.

“Setya nunggu di jalan mana?”
Tak ada hal lain yang bisa dilakukan Asfi untuk menghapus rasa bersalah mencintai gadis yang sudah cinta mati pada laki-laki lain, selain menanyakan di mana keberadaan Setya; setidaknya, sebagai tanda bahwa ia masih ingat bahwa Rahayu adalah kekasih orang lain.
Rahayu lalu menelpon Setya. Dan mendengar Rahayu berkomunikasi dengan Setya selalu membuat hati Asfi terasa nyeri.
“Iya, Yang. Aku udah sampai di Jalan Cilaki, yang ada Kantor Pusat Museum Pos Indonesia itu. Deket Gedung Sate”

2pdzt3-l-610x610-shorts-girl-swag-pin-blouse-denim-denim+shorts-dc-dc+martens-doc-martens-boots-tumblr-car-cars-glasses-sun-summer-drmartens-shirt

Tak lama kemudian, sebuah Vespa LXV150 3V muncul di depan Holden Asfi. Setya belum membuka helm saat Rahayu menghampirinya.
Lalu, Rahayu menarik lengan Setya untuk menghampiri Asfi yang sedang menghisap rokok dan sibuk dengan ponselnya.
“Ini yang namanya Asfi, Sayang. Dia sahabat aku dari SMA. Baik banget orangnya.” Ujar Rahayu sumringah sambil melongok lewat jendela mobil.
“Fi, kenalin ini Setya!” Setya menyodorkan tangan ke arah Asfi dengan wajah sangat bersahabat.
Dengan langkah berat, Asfi keluar mobil dan menyambar uluran tangan cowok bertubuh tinggi itu.
“Thanks, ya, udah mau nganterin cewek gue. Maaf ngerepotin.”
Asfi membalasnya dengan senyum yang sama ramahnya.
“Enggak apa-apa….” Asfi yakin ada gelombang besar yang bergejolak di hatinya saat bersikap pura-pura baik kepada Setya. Asfi juga tahu benar saat Rahayu menarik lengan Setya dan bermaksud mengenalkannya pada Asfi. Sedetik kemudian Asfi langsung membakar rokok dan pura-pura sibuk dengan ponselnya
Asfi lalu pamit setelah menyerahkan Rahayu kepada pemiliknya. Rahayu melambaikan tangan dengan gembira pada sahabatnya, sambil sebelah tangannya lagi menggandeng tangan kanan Setya.

Tapi, seperti yang selalu diinginkannya, mencintai saja sudah cukup.
Setelah berpamitan, Asfi lalu berputar balik. Di mobil, ia melihat-lihat ulang foto Rahayu yang tadi diambilnya. Lalu tersenyum- senyum sendiri. Setelah foto terakhir, kemudian muncul foto sebuah hiasan dinding bermelati cantik yang tiga hari lalu dikirimkannya untuk Rahayu. Setidaknya, hiasan dinding itu bisa membuat hubungan mereka akur kembali.
Asfi  tersenyum,  sambil  terus  melaju  mencari  tol  menuju Jakarta.
Aku benar-benar beruntung, batinnya bahagia.

Ini tembakau dan itu abu
Mari berpadu melepas rindu
Kau jauh dari cintaku
Aku mencinta tetap membisu
Sebab hanya dalam bait-bait sajak aku bisa merasakan kehilangan tanpa pernah memiliki saat punggungmu melambai di kejauhan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s