Lala takkan Lara

image

Boleh kupotong kelingkingmu?”,
ah~kalimat yang seringkali terucap belakangan ini.
Frustasi rasanya kalau ingat bahwa beberapa bulan lagi akan ditinggalkan.
Janji nikah memang lebih kuat daripada janji kelingking (katanya).

***

Awal aku ketemu dia sekitar 1 tahun yang lalu di kota Paris-nya Indonesia saat pernikahan temanku, dibulan Januari tahun 2015. Awalnya aku memang tidak punya rasa apapun dengan dia. Aku dan dia juga sama-sama cuek.

Di akhir tahun 2014, aku mendapat kabar baik bahwa teman lamaku, Nagayu, akan melangsungkan pernikahan. Sontak akupun bahagia mendengarnya.
“Undangan kirim lah Yu ke Jogja, baru deh gue dateng hehe”.
Dengan nada bercanda aku meminta undangannya harus sampai di kontrakanku di Jogja. Walau undangan tak sampai di Jogja, akupun tetap akan mengusahakan datang.
Ya waktu itu aku masih bermukim di kota yang sangat istimewa.
Beberapa hari kemudian, ada sebuah paket tertulis namaku tergeletak di meja ruang tamu. Ternyata benar, isinya adalah undangan pernikahan Nagayu dan Arief. Aku pun langsung bergegas ke stasiun, memesan tiket untuk keberangkatan dua hari sebelum hari pernikahan mereka.

Hari Kamis siang aku sudah berada di stasiun untuk menunggu kereta yang akan membawaku ke kota yang menjadi asal mula dari kisahku ini.

Di tiket kereta yang kutumpangi jadwal tiba pukul 23:00 WIB. Namun jam 19:00 keretaku mengalami masalah, karena perjalanan ke Bandung itu menanjak, lokomotif tidak kuat menarik gerbong-gerbong. Maka diganti dengan lokomotif yang berkekuatan lebih, tapi yang dihasilkan kereta akan terlambat sekitar 2 jam karena proses pergantian tersebut.
Karena pergantian lokomotif terjadi bukan di stasiun tetapi di tengah-tengah sawah, sinyalpun tak ada dan aku pun susah memberi kabar ke Nagayu. Karena Nagayu dan calon suaminya, Arief, merekalah yang akan menjemputku di stasiun. Setelah kereta sudah normal kembali dan mulai jalan, aku langsung memberi kabar.

Sekitar jam 01:00 dini hari aku sampai di stasiun. Sembari aku menyalakan rokok, kepalaku menengok kanan dan kiri mencari keberadaan Nagayu. Tak lama, ada suara memanggil ku.
“Fiaaaas, fiii..”
Akupun langsung menuju ke sumber suara itu.
Setelah bertemu Nagayu dan dikenalkan kepada calon suaminya, kami bertiga sempat berbincang sedikit, namun kubilang nanti saja mengobrolnya di rumah Nagayu. Karena mereka sudah lelah menungguku. Segera kumatikan rokok yang baru ku bakar dan kami langsung masuk ke mobil.

“Huh bau rokok. Abis ngerokok ya..”
Ternyata ada seorang perempuan di bangku belakang.
Kehadiranku di dalam mobil disambut kata-kata kurang mengenakan di telingaku. Aku diamkan saja dia tanpa mengeluarkan sepatah kata bahkan tak menengok ke arahnya. Di perjalanan menuju rumah Nagayu, aku menyibukan diri dengan melihat-lihat kota Bandung saat malam hari. Sesekali mengobrol dengan Nagayu dan Arief.
Di tengah perjalan kami berhenti di sebuah mini market. Karena cuaca yang dingin, aku pun langsung membeli kopi dan rokok untuk persediaan besok lalu kutunggu mereka samping mobil sambil aku meneruskan sisa rokok yang kumatikan tadi sembari menyeruput kopi.

“Lu kok minum kopi sih, emang udah makan?”.
Perempuan itu berdiri di sampingku, ikut menunggu Nagayu dan Arief yang masih berbelanja.
“Udah tadi”.
Dia pun bertanya kembali, namun aku tetap menjawabnya dengan singkat dan dingin, sedingin cuaca Bandung yang kurasakan.
Tak lama kemudian, Nagayu dan Arief kembali dan kami langsung menuju rumah Nagayu.
Akhirnya kami pun sampai juga. Dan ternyata disana sudah ada temanku juga, Kuncoro dan Rahmah, yang sejak kemarin sudah menginap.

Sudah jam 03:00 dan seisi rumah sudah tidur, terkecuali aku dan perempuan yang tadi bersikap kurang bersahabat di awal jumpa.
Aku belum bisa tidur karena di kereta sudah tidur ditambah sudah 3 gelas kopi yang kuhabiskan dalam waktu kurang dari 24 jam.
Sedangkan perempuan itu belum bisa tidur karena risih terhadap suara dengkuran dari Rahmah. Ya kami berempat -Aku, Kuncoro, Rahmah, dan perempuan itu- tidur bersama di ruang tamu dengan posisi bershaf.
Aku mulai membaca buku dengan harapan aku tertidur sembari membaca dan masih tak kupedulikan perempuan itu. Ketika asik membaca, kulirik perempuan itu yang dengan fokus melihat judul buku yang sedang kubaca. Aku pun langsung menaruh buku itu dan karena manusia adalah makhluk sosial, kumulai bertegur sapa dengannya.

“Gak bisa tidur juga?”.
Kumulai membuka obrolan.
“Belum bisa, nih suara ngoroknya Rahmah kenceng banget. Nah lu kenapa belum tidur?”.
“Belum ngantuk, kebanyakan ngopi kali”.
Kami pun mengobrol panjang lebar hingga adzan shubuh mulai berkumandang. Dan hingga akhirnya kutahu nama perempuan itu adalah Lala.
Pagi harinya jam 09:00 aku sudah bangun. Sebuah kebetulan kenapa aku bisa bangun, padahal aku baru tidur jam 04:30.

Sore hari, teman-teman ku dari Jakarta yang juga ikut diundang sudah tiba di rumah Nagayu. Apink dan pacarnya serta Yani dan suaminya. Kami pun mengobrol hingga malam menjelang. Disaat kami semua berkumpul, tak sengaja aku tertidur di lengan Lala. Mungkin karena aku tadi pagi tidur hanya kurang dari 5 jam, jadi langsung ketiduran, dan tak direncanakan bisa tidur di lengan Lala. Mungkin perilaku ku tersebut menimbulkan sebuah pertanyaan dibenak mereka. Tak berapa lama, aku dibangunkan untuk makan malam. Tiba-tiba Rahmah pun dengan bercanda mengejekku. Aku heran, dan akhirnya kutahu aku tertidur di lengan Lala. Aku merasa tak enak hati. Aku tak sengaja. Lala pun tak enak hati membangunkan ku karena katanya aku tertidur pulas sekali.

Hari pernikahan pun telah tiba. Aku diminta untuk menjadi pagar bagus. Dan entah kenapa bersama Lala. Perempuan yang dari awal sudah membuat aku malas bertegur sapa. Tapi entah kenapa, sejak malam kami bercerita panjang lebar, aku merasa dia orang yang enak diajak ngobrol serius ataupun bercanda.
Setelah pesta pernikahan usai, kami pun langsung pulang ke Jakarta. Aku tak langsung pulang ke Jogja, aku sempatkan liburan di Jakarta. Selama liburan dadakan di Jakarta, aku sempat menginap di rumah tantenya Lala. Keadaan itulah yang membuat aku semakin dekat dengannya (nanti).
Setelah beberapa hari aku pindah-pindah tempat tinggal untuk liburan dadakan, akhirnya tiba aku pulang ke Jogja.

Satu bulan berselang setelah pertemuanku dengan Lala, selama satu bulan itu juga hubungan kami semakin dekat. Apapun kesibukan kami saat itu tidak menghalangi komunikasi kami. Kami sering berbagi cerita, sering kirim pesan lewat sms saat terbangun tidur sampai menjelang tidur.

Bulan Februari. Bulan yang dikatakan bulan penuh cinta. Lala bersama Kuncoro liburan ke Jogja. Sewaktu di Bandung, Kuncoro memang mau mengunjungi Jogja, dan kami sudah bahas itu. Selama tiga hari, kami habiskan hari dengan bahagia, walaupun ada insiden yaitu aku telat menjemput mereka di stasiun yang membuat Lala marah dan juga malam harinya asma Lala kambuh, tapi tidak menghalangi kebahagiaanku dengan adanya kehadiran Lala.

Bulan Maret. Bulan penuh arti bagi Lala. Bulan dimana seorang perempuan cantik nan dewasa hadir di bumi. Aku memang jauh darinya, tak bisa memberi sebuah kado istimewa untuknya. Hanya sebuah video sederhana yang kukirimkan padanya. Respon baik kuterima, dia suka dan terharu.

Bulan Mei Lala kembali lagi ke Jogja, namun kali ini dia sendiri. Aku khawatir, namun karena aku harus kerja dan tidak bisa cuti, maka dengan berat hati aku relakan Lala pergi mengunjungiku seorang diri. Selama Lala di Jogja, selama itulah hari-hari bahagia kurasa. Dari ke pantai, kebun buah hingga hutan pinus.

Bulan Juli 2015. Bulan dimana aku merasa paling bahagia. Karena di bulan tersebut adalah bulan dimana aku dilahirkan dan di tanggal kelahiranku bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Karena kuyakin itu adalah hari yang baik, maka aku nyatakan cinta dan sebuah komitmen untuk bersama Lala.
Setelah shalat Ied dan bersilaturahmi ke masyarakat, aku pergi mengunjungi kediaman Lala. Setelah bertemu keluarga Lala, kami pun sepakat mengunjungi teman-teman kami. Kami lalu pergi mengunjungi rumah Joko. Kebetulan rumahnya tak jauh dari rumah Lala. Setelah dari rumah Joko, kami pergi ke rumah Kuncoro. Cukup lama kami disana. Mataharipun ingin pamit, maka kami putuskan juga pamit. Setelah shalat maghrib, kami mampir ke sebuah warung sate padang dekat rumah Lala. Kami bercengkrama, bercanda dan akhirnya ngobrol serius. Di tepi jalan rawa belong, sebuah daerah padat di baratnya Jakarta, di sebuah warung sate padang, aku menyatakan cinta. Memang tak romantis. Mungkin pria lain bisa lebih romantis jika berada di posisi aku. Tapi bagiku, sebuah keromantisan bukan dari tempat ataupun sebuah hadiah, tapi kesungguhan kita menyatakan perasaan. Tepat di hari ulang tahun dan bertepatan juga puncak hari raya umat Islam, kami menjalin hubungan cinta.

Bulan Oktober, Lala kembali ke Jogja. Namun bukan Jogja tujuan dia. Kami memang bersepakat mau ke  Semarang. Menghadiri event musik yang belum tentu diadakan setahun sekali. Maka Lala beserta Alvino (teman ku yang juga temannya Lala) pergi ke Jogja terlebih dahulu, harusnya Kuncoro ikut serta namun karena dia harus menggarap skripsi, maka dia tak bisa ikut. Setelah mereka sampai di Jogja, keesokan harinya kami pun berangkat ke Semarang. Setelah dari acara usai dan kamipun kembali ke Jogja. Beberapa hari penuh bahagia kembali kurasakan.

Setelah bulan-bulan di tahun 2015 yang penuh cerita, di awal 2016 aku kembali ke Jakarta. Berharap kebahagian lebih kurasa. Namun harapan tetaplah harapan.
Lala ternyata sudah merencanakan untuk menikah dengan pria pilihannya. Dan akan dilangsungkan di bulan Oktober 2016. Dengan berat hati aku harus mengikhlaskannya.

Entah mengapa setelah Lala bilang padaku bahwa dia mau menikah, hubungan kami tiba-tiba renggang. Jujur, aku memang belum ikhlas mendengar kabar ini, tapi aku tetap mendoakaan dia bahagia dengan pilihannya dan aku kuat menjalaninya.
Hubungan kami benar-benar putus. Silaturahmi pun pudar. Semua akun media sosial ku dihapus olehnya, entah apa alasannya. Apa dia benar-benar tak ingin kenal lagi denganku atau tidak.

Pada bulan Maret, Kuncoro menikah. Dan aku datang ke pesta pernikahannya. Aku datang sebelum pesta itu usai. Dan disana aku bertemu Lala setelah sebulan lebih sejak dia mengatakan ingin menikah, aku tak bertemu dengannya.
Aku ingin sekali bertegur sapa dengannya, namun disana dia ditemani calon suaminya. Aku bisa saja menegurnya, namun aku yakin dia pasti risih dan calon suaminya (yang kutahu posesif) pasti marah ke Lala. Jadi kuurungkan niatku, hanya agar Lala tak berantem dengan calon suaminya.

Dan hingga sekarang, sudah tiga bulan setelah aku tahu kabar bahagia pernikahan Lala, aku tetap berusaha untuk bersilaturahmi dengannya.
Walau tak ada hasilnya.
Aku hanya berharap, hubungan cinta saja yang kandas, tetapi silaturahmi sebagai teman tetap berjalan.
Tetapi itu harapanku, harapannya (mungkin) tidak.

Dan aku akan selalu ingat masa-masa berharga nan indah ketika aku bersamamu, Lala.

***

Rasanya saat-saat itu kami menghabiskan waktu seharian untuk berjalan.
Aku bahagia sekali.

Namun kini saatnya aku harus melepaskan dia untuk selama-lamanya…

Sebentar lagi dia akan menikah.
Oh tidak..
Rasanya aku tak pernah membayangkan hal ini,tapi ternyata kejadian ini benar-benar terjadi dan menimpaku.

Aku bingung harus bersikap bagaimana…
Menangis tersedu-sedu
Meratapi nasib
Atau marah-marah semua itu tak akan menyelesaikan masalah.

Cinta dan benci adalah bagian dari perasaan.
Keduanya merupakan manifestasi dari kecenderungan seseorang.
Dengan cinta manusia cenderung untuk mendekati serta menyenangi.
Dengan cinta seseorang akan melakukan aktifitas dengan ikhlas dan penuh pengorbanan.
Namun sebaliknya
Dengan benci seseorang akan cenderung untuk meninggalkan dan menjauhi.

Perbuatan apapun yang dilakukan karena cinta pastinya akan berbeda kualitasnya bila di banding dengan perbuatan yang dilakukan tanpa dasar cinta dan suka apalagi hanya sekedar melakukan legitimasi untuk menunaikan kewajiban.
Sebaliknya
Perbuatan yang di tinggalkan karena benci akan sangat berbeda dengan perbuatan yang di tinggalkan tanpa adanya perasaan benci dan ketidaksukaan.

Saatnya aku harus meminta fatwa pada hatiku sendiri
Karena kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hati ini tenang.
Semua orang pastinya menginginkan kebahagiaan
Cara orang mengejar kebahagiaanpun berbeda-beda
Akibatnya berbeda pula kualitas kebahagiaannya
Ada yang semu dan ada yang sejati.

Sisi luar dari kebahagiaan memang relative dan tak bisa di sama ratakan.
Kebahagiaan itu ada di hati dan disitulah kebahagiaan bisa di ukur
Apakah semu atau sejati.

Aku kan berusaha untuk tidak memoles sisi luar sebuah kebahagiaan
Karena dengan menyalahi atau melanggar suara hati justru hanya akan menimbulkan
Kesenjangan
Split personality
Dan juga kebahagiaan yang sangat kabur serta semu.

Saatnya bagiku untuk mendengarkan suara hati dengan
Tulus
Jujur
Dan penuh kelapangan.

Suara hati kita
Nurani kita
Kata hati kita
Adalah jati diri keaslian kita
Akankah kita menghianatinya?

Aku ingin melepaskannya dengan senyum bahagia
Karena senantiasa aku ingin melihat dia bahagia
Saat mengetahui berita itu pun aku tidak marah
Walaupun rasanya hatiku meneteskan air mata
Aku hanya bersedih mengapa saat kutemukan bahagia bersamanya
Saat kuyakinkan hati tuk memilihnya
Ternyata semua itu berbeda tak sesuai dengan apa yang selama ini aku impi-impikan.

AKU RELA MELIHAT KAU DENGANNYA 

Tuhan tidak memberi apa yang aku harapkan, namun tuhan selalu memberi apa yang aku perlukan. Kadang aku sedih, kecewa. Namun diatas segalanya Tuhan sedang merajut yang terbaik untuk kehidupanku. Semoga aku termasuk golongan orang yang bersyukur”

Ijinkan aku belajar melupakanmu. 
Aku yakin, kau pasti menginginkan aku mempelajari itu.
Namun aku ragu, benarkah tidak ada setitik cinta pun di hatimu terhadapku.
Setelah semua kenangan yang kita ciptakan.
Setelah semua memoriku terisi oleh namamu.
Maafkan aku jika membuatmu tersakiti.
Katakan saja jika memang iya
Karena aku bukan orang yang mampu mengerti letak dimana salahku.
Mengapa hanya diam. Mengapa hanya mengacuhkan. Atau memang begitu caramu untuk mencampakkan?
Aku sadar.
Mungkin dalam perjalanan panjang kita pun engkau telah tersadar.
Aku tak pantas untukmu.
Aku hanyalah serpihan debu yang tak berarti
Tapi bagiku engkau laksana puteri.
Jujur, aku selama ini tersilau dengan sikapmu kepadaku.
Kau pergi meninggalkan aku seolah tak pernah terjadi apa-apa diantara kita.
Semudah itukah kau melupakan.
Jujur, jalan pikiranmu tak pernah kumengerti.
Sekarang, ijinkanlah aku belajar melupakan. 
Melupakan semua kenangan yang ada dalam memori ini.
Melupakan semua tawamu
Melupakan semua kebaikanmu
Melupakan semua tatapan itu
Melupakan saat aku selalu mengepuk-epuk dan membelai saat menjelang tidurm
Melupakan saat kau menangis dalam pelukanku
Melupakan semua impian serta harapanku untuk memiliki secara utuh dirimu. 
Ijinkanlah aku buyar dalam hitam pekat tak bermasa yang kan aku jalani kini.
Dulu, kau menarikku dari kesepian
Sedikit demi sedikit membimbingku
Mengingatkanku
Serta merubah apa yang tidak baik dengan perilaku ku.
Engkau ibarat cahayaku dalam kegelapan.
Sekarang
Setelah takdir kita selesai
Aku kan kembali berada dalam gelapku tanpa cahayamu.
Haruskah aku menjadi paranoid dalam cinta?
Belajar dari kisah bahwa cinta hanya ada untuk menyakiti. Belajar untuk menyakiti dahulu agar aku tak tersakiti?
Jujur aku tak pernah menginginkan itu.
Cukuplah aku yang berlinang air mata
Tetapi jangan engkau.
Kubiarkan engkau datang dan pergi sesukamu
Tahukah kamu apa itu lelaki matahari?
Sudahkah aku menceritakan kepadamu?
Nanti, tunggulah nanti aku akan menceritakannya.
Tunggulah saat itu agar engkau mengerti.
Di sini
Aku terus menunggumu
Yaitu mengundangku di acara akad nikahmu
Karena aku ingin benar-benar sadar bahwa engkau telah menemukan lentera hidupmu
Aku akan berusaha untuk selalu bertahan disini
Menunggu sembari aku meringkuk dalam sepi.
Sembari mengucapkan doa agar engkau bahagia.
Kejarlah mimpimu Lala.
Aku akan selalu mendukungmu.
Bahkan jika kelak engkau ingin meruntuhkan langit yang menaungi kita
Aku juga akan turut berperang bersamamu.
Bahkan jika memang bulan Oktober nanti engkau telah berhasil melaksanakan ijab dengan pria yang duduk di sampingmu
Meski jika pria itu bukan aku
Aku tetap akan selalu mendukungmu selama cinta ini masih di dalam hatiku.
Selama engkau masih menganggapku ada.
Jujur, aku tak ingin lagi mengganggumu.
Aku sudah berusaha, tetapi selaksa rindu menyerangku. 
Maafkan aku yang terlalu mencintaimu.
Maafkan aku yang tak sanggup menahan serangan itu.
Tetapi Lala
Aku akan belajar.
Aku akan belajar bagaimana cara agar aku tak mengganggumu lagi.
Maka
Ijinkan lah aku melupakanmu. Ijinkan aku belajar melupakan semua kenangan tentang kita. Melupakan semua kisah yang pernah terjadi.
Saat aku menulis tulisan ini, aku masih sangat mencintaimu walau ku tahu engkau tak lagi mengharapkannya.
Wahai engkau yang melumpuhkan hatiku.
Maafkan aku untuk semua salahku dan ijinkanlah aku belajar melupakanmu.
Andaikan aku boleh memilih
Aku ingin kita tetap bersama.
Membangun lembaran baru serta aku ingin menikahimu
Tetapi sudahlah
Aku rasa engkau tak akan mau. 
Ada pria yang lebih pantas untukmu dari pada aku.
semoga engkau bahagia.
Aku selalu berharap yang terbaik untukmu.
Belajar melupakan.
Semoga ini mudah…