Untitled #4

Diantara kegelapan malam hari, dimana sebuah kerinduan itu datang. Sebuah rasa yang tak tahu entah datangnya darimana. Sebuah angin yang berhembus ke dalam tulang, suara rintikan hujan.  Hujan yang membuat rasa rindu ini ada, rasa yang tak bisa dipungkiri, rasa yang selalu ingin berada di dekap pelukan hangat tubuhmu. Tapi disaat ini aku sadar bahwa aku tidak lagi berada di dekatmu bahkan tidak sama sekali di pikiranmu, karena detik yang berlalu sudah mengajarkan arti kebersamaan (dulu). Walau dengan cara yang berbeda, percayalah Tuhan selalu ada bersamamu.

Karya : Rafika Nurmala Koesmadji, 29 Okt 2016, 22:27 WIB

Advertisements

Lala takkan Lara

image

Boleh kupotong kelingkingmu?”,
ah~kalimat yang seringkali terucap belakangan ini.
Frustasi rasanya kalau ingat bahwa beberapa bulan lagi akan ditinggalkan.
Janji nikah memang lebih kuat daripada janji kelingking (katanya).

***

Awal aku ketemu dia sekitar 1 tahun yang lalu di kota Paris-nya Indonesia saat pernikahan temanku, dibulan Januari tahun 2015. Awalnya aku memang tidak punya rasa apapun dengan dia. Aku dan dia juga sama-sama cuek.

Di akhir tahun 2014, aku mendapat kabar baik bahwa teman lamaku, Nagayu, akan melangsungkan pernikahan. Sontak akupun bahagia mendengarnya.
“Undangan kirim lah Yu ke Jogja, baru deh gue dateng hehe”.
Dengan nada bercanda aku meminta undangannya harus sampai di kontrakanku di Jogja. Walau undangan tak sampai di Jogja, akupun tetap akan mengusahakan datang.
Ya waktu itu aku masih bermukim di kota yang sangat istimewa.
Beberapa hari kemudian, ada sebuah paket tertulis namaku tergeletak di meja ruang tamu. Ternyata benar, isinya adalah undangan pernikahan Nagayu dan Arief. Aku pun langsung bergegas ke stasiun, memesan tiket untuk keberangkatan dua hari sebelum hari pernikahan mereka.

Hari Kamis siang aku sudah berada di stasiun untuk menunggu kereta yang akan membawaku ke kota yang menjadi asal mula dari kisahku ini.

Di tiket kereta yang kutumpangi jadwal tiba pukul 23:00 WIB. Namun jam 19:00 keretaku mengalami masalah, karena perjalanan ke Bandung itu menanjak, lokomotif tidak kuat menarik gerbong-gerbong. Maka diganti dengan lokomotif yang berkekuatan lebih, tapi yang dihasilkan kereta akan terlambat sekitar 2 jam karena proses pergantian tersebut.
Karena pergantian lokomotif terjadi bukan di stasiun tetapi di tengah-tengah sawah, sinyalpun tak ada dan aku pun susah memberi kabar ke Nagayu. Karena Nagayu dan calon suaminya, Arief, merekalah yang akan menjemputku di stasiun. Setelah kereta sudah normal kembali dan mulai jalan, aku langsung memberi kabar.

Sekitar jam 01:00 dini hari aku sampai di stasiun. Sembari aku menyalakan rokok, kepalaku menengok kanan dan kiri mencari keberadaan Nagayu. Tak lama, ada suara memanggil ku.
“Fiaaaas, fiii..”
Akupun langsung menuju ke sumber suara itu.
Setelah bertemu Nagayu dan dikenalkan kepada calon suaminya, kami bertiga sempat berbincang sedikit, namun kubilang nanti saja mengobrolnya di rumah Nagayu. Karena mereka sudah lelah menungguku. Segera kumatikan rokok yang baru ku bakar dan kami langsung masuk ke mobil.

“Huh bau rokok. Abis ngerokok ya..”
Ternyata ada seorang perempuan di bangku belakang.
Kehadiranku di dalam mobil disambut kata-kata kurang mengenakan di telingaku. Aku diamkan saja dia tanpa mengeluarkan sepatah kata bahkan tak menengok ke arahnya. Di perjalanan menuju rumah Nagayu, aku menyibukan diri dengan melihat-lihat kota Bandung saat malam hari. Sesekali mengobrol dengan Nagayu dan Arief.
Di tengah perjalan kami berhenti di sebuah mini market. Karena cuaca yang dingin, aku pun langsung membeli kopi dan rokok untuk persediaan besok lalu kutunggu mereka samping mobil sambil aku meneruskan sisa rokok yang kumatikan tadi sembari menyeruput kopi.

“Lu kok minum kopi sih, emang udah makan?”.
Perempuan itu berdiri di sampingku, ikut menunggu Nagayu dan Arief yang masih berbelanja.
“Udah tadi”.
Dia pun bertanya kembali, namun aku tetap menjawabnya dengan singkat dan dingin, sedingin cuaca Bandung yang kurasakan.
Tak lama kemudian, Nagayu dan Arief kembali dan kami langsung menuju rumah Nagayu.
Akhirnya kami pun sampai juga. Dan ternyata disana sudah ada temanku juga, Kuncoro dan Rahmah, yang sejak kemarin sudah menginap.

Sudah jam 03:00 dan seisi rumah sudah tidur, terkecuali aku dan perempuan yang tadi bersikap kurang bersahabat di awal jumpa.
Aku belum bisa tidur karena di kereta sudah tidur ditambah sudah 3 gelas kopi yang kuhabiskan dalam waktu kurang dari 24 jam.
Sedangkan perempuan itu belum bisa tidur karena risih terhadap suara dengkuran dari Rahmah. Ya kami berempat -Aku, Kuncoro, Rahmah, dan perempuan itu- tidur bersama di ruang tamu dengan posisi bershaf.
Aku mulai membaca buku dengan harapan aku tertidur sembari membaca dan masih tak kupedulikan perempuan itu. Ketika asik membaca, kulirik perempuan itu yang dengan fokus melihat judul buku yang sedang kubaca. Aku pun langsung menaruh buku itu dan karena manusia adalah makhluk sosial, kumulai bertegur sapa dengannya.

“Gak bisa tidur juga?”.
Kumulai membuka obrolan.
“Belum bisa, nih suara ngoroknya Rahmah kenceng banget. Nah lu kenapa belum tidur?”.
“Belum ngantuk, kebanyakan ngopi kali”.
Kami pun mengobrol panjang lebar hingga adzan shubuh mulai berkumandang. Dan hingga akhirnya kutahu nama perempuan itu adalah Lala.
Pagi harinya jam 09:00 aku sudah bangun. Sebuah kebetulan kenapa aku bisa bangun, padahal aku baru tidur jam 04:30.

Sore hari, teman-teman ku dari Jakarta yang juga ikut diundang sudah tiba di rumah Nagayu. Apink dan pacarnya serta Yani dan suaminya. Kami pun mengobrol hingga malam menjelang. Disaat kami semua berkumpul, tak sengaja aku tertidur di lengan Lala. Mungkin karena aku tadi pagi tidur hanya kurang dari 5 jam, jadi langsung ketiduran, dan tak direncanakan bisa tidur di lengan Lala. Mungkin perilaku ku tersebut menimbulkan sebuah pertanyaan dibenak mereka. Tak berapa lama, aku dibangunkan untuk makan malam. Tiba-tiba Rahmah pun dengan bercanda mengejekku. Aku heran, dan akhirnya kutahu aku tertidur di lengan Lala. Aku merasa tak enak hati. Aku tak sengaja. Lala pun tak enak hati membangunkan ku karena katanya aku tertidur pulas sekali.

Hari pernikahan pun telah tiba. Aku diminta untuk menjadi pagar bagus. Dan entah kenapa bersama Lala. Perempuan yang dari awal sudah membuat aku malas bertegur sapa. Tapi entah kenapa, sejak malam kami bercerita panjang lebar, aku merasa dia orang yang enak diajak ngobrol serius ataupun bercanda.
Setelah pesta pernikahan usai, kami pun langsung pulang ke Jakarta. Aku tak langsung pulang ke Jogja, aku sempatkan liburan di Jakarta. Selama liburan dadakan di Jakarta, aku sempat menginap di rumah tantenya Lala. Keadaan itulah yang membuat aku semakin dekat dengannya (nanti).
Setelah beberapa hari aku pindah-pindah tempat tinggal untuk liburan dadakan, akhirnya tiba aku pulang ke Jogja.

Satu bulan berselang setelah pertemuanku dengan Lala, selama satu bulan itu juga hubungan kami semakin dekat. Apapun kesibukan kami saat itu tidak menghalangi komunikasi kami. Kami sering berbagi cerita, sering kirim pesan lewat sms saat terbangun tidur sampai menjelang tidur.

Bulan Februari. Bulan yang dikatakan bulan penuh cinta. Lala bersama Kuncoro liburan ke Jogja. Sewaktu di Bandung, Kuncoro memang mau mengunjungi Jogja, dan kami sudah bahas itu. Selama tiga hari, kami habiskan hari dengan bahagia, walaupun ada insiden yaitu aku telat menjemput mereka di stasiun yang membuat Lala marah dan juga malam harinya asma Lala kambuh, tapi tidak menghalangi kebahagiaanku dengan adanya kehadiran Lala.

Bulan Maret. Bulan penuh arti bagi Lala. Bulan dimana seorang perempuan cantik nan dewasa hadir di bumi. Aku memang jauh darinya, tak bisa memberi sebuah kado istimewa untuknya. Hanya sebuah video sederhana yang kukirimkan padanya. Respon baik kuterima, dia suka dan terharu.

Bulan Mei Lala kembali lagi ke Jogja, namun kali ini dia sendiri. Aku khawatir, namun karena aku harus kerja dan tidak bisa cuti, maka dengan berat hati aku relakan Lala pergi mengunjungiku seorang diri. Selama Lala di Jogja, selama itulah hari-hari bahagia kurasa. Dari ke pantai, kebun buah hingga hutan pinus.

Bulan Juli 2015. Bulan dimana aku merasa paling bahagia. Karena di bulan tersebut adalah bulan dimana aku dilahirkan dan di tanggal kelahiranku bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Karena kuyakin itu adalah hari yang baik, maka aku nyatakan cinta dan sebuah komitmen untuk bersama Lala.
Setelah shalat Ied dan bersilaturahmi ke masyarakat, aku pergi mengunjungi kediaman Lala. Setelah bertemu keluarga Lala, kami pun sepakat mengunjungi teman-teman kami. Kami lalu pergi mengunjungi rumah Joko. Kebetulan rumahnya tak jauh dari rumah Lala. Setelah dari rumah Joko, kami pergi ke rumah Kuncoro. Cukup lama kami disana. Mataharipun ingin pamit, maka kami putuskan juga pamit. Setelah shalat maghrib, kami mampir ke sebuah warung sate padang dekat rumah Lala. Kami bercengkrama, bercanda dan akhirnya ngobrol serius. Di tepi jalan rawa belong, sebuah daerah padat di baratnya Jakarta, di sebuah warung sate padang, aku menyatakan cinta. Memang tak romantis. Mungkin pria lain bisa lebih romantis jika berada di posisi aku. Tapi bagiku, sebuah keromantisan bukan dari tempat ataupun sebuah hadiah, tapi kesungguhan kita menyatakan perasaan. Tepat di hari ulang tahun dan bertepatan juga puncak hari raya umat Islam, kami menjalin hubungan cinta.

Bulan Oktober, Lala kembali ke Jogja. Namun bukan Jogja tujuan dia. Kami memang bersepakat mau ke  Semarang. Menghadiri event musik yang belum tentu diadakan setahun sekali. Maka Lala beserta Alvino (teman ku yang juga temannya Lala) pergi ke Jogja terlebih dahulu, harusnya Kuncoro ikut serta namun karena dia harus menggarap skripsi, maka dia tak bisa ikut. Setelah mereka sampai di Jogja, keesokan harinya kami pun berangkat ke Semarang. Setelah dari acara usai dan kamipun kembali ke Jogja. Beberapa hari penuh bahagia kembali kurasakan.

Setelah bulan-bulan di tahun 2015 yang penuh cerita, di awal 2016 aku kembali ke Jakarta. Berharap kebahagian lebih kurasa. Namun harapan tetaplah harapan.
Lala ternyata sudah merencanakan untuk menikah dengan pria pilihannya. Dan akan dilangsungkan di bulan Oktober 2016. Dengan berat hati aku harus mengikhlaskannya.

Entah mengapa setelah Lala bilang padaku bahwa dia mau menikah, hubungan kami tiba-tiba renggang. Jujur, aku memang belum ikhlas mendengar kabar ini, tapi aku tetap mendoakaan dia bahagia dengan pilihannya dan aku kuat menjalaninya.
Hubungan kami benar-benar putus. Silaturahmi pun pudar. Semua akun media sosial ku dihapus olehnya, entah apa alasannya. Apa dia benar-benar tak ingin kenal lagi denganku atau tidak.

Pada bulan Maret, Kuncoro menikah. Dan aku datang ke pesta pernikahannya. Aku datang sebelum pesta itu usai. Dan disana aku bertemu Lala setelah sebulan lebih sejak dia mengatakan ingin menikah, aku tak bertemu dengannya.
Aku ingin sekali bertegur sapa dengannya, namun disana dia ditemani calon suaminya. Aku bisa saja menegurnya, namun aku yakin dia pasti risih dan calon suaminya (yang kutahu posesif) pasti marah ke Lala. Jadi kuurungkan niatku, hanya agar Lala tak berantem dengan calon suaminya.

Dan hingga sekarang, sudah tiga bulan setelah aku tahu kabar bahagia pernikahan Lala, aku tetap berusaha untuk bersilaturahmi dengannya.
Walau tak ada hasilnya.
Aku hanya berharap, hubungan cinta saja yang kandas, tetapi silaturahmi sebagai teman tetap berjalan.
Tetapi itu harapanku, harapannya (mungkin) tidak.

Dan aku akan selalu ingat masa-masa berharga nan indah ketika aku bersamamu, Lala.

***

Rasanya saat-saat itu kami menghabiskan waktu seharian untuk berjalan.
Aku bahagia sekali.

Namun kini saatnya aku harus melepaskan dia untuk selama-lamanya…

Sebentar lagi dia akan menikah.
Oh tidak..
Rasanya aku tak pernah membayangkan hal ini,tapi ternyata kejadian ini benar-benar terjadi dan menimpaku.

Aku bingung harus bersikap bagaimana…
Menangis tersedu-sedu
Meratapi nasib
Atau marah-marah semua itu tak akan menyelesaikan masalah.

Cinta dan benci adalah bagian dari perasaan.
Keduanya merupakan manifestasi dari kecenderungan seseorang.
Dengan cinta manusia cenderung untuk mendekati serta menyenangi.
Dengan cinta seseorang akan melakukan aktifitas dengan ikhlas dan penuh pengorbanan.
Namun sebaliknya
Dengan benci seseorang akan cenderung untuk meninggalkan dan menjauhi.

Perbuatan apapun yang dilakukan karena cinta pastinya akan berbeda kualitasnya bila di banding dengan perbuatan yang dilakukan tanpa dasar cinta dan suka apalagi hanya sekedar melakukan legitimasi untuk menunaikan kewajiban.
Sebaliknya
Perbuatan yang di tinggalkan karena benci akan sangat berbeda dengan perbuatan yang di tinggalkan tanpa adanya perasaan benci dan ketidaksukaan.

Saatnya aku harus meminta fatwa pada hatiku sendiri
Karena kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwa dan hati ini tenang.
Semua orang pastinya menginginkan kebahagiaan
Cara orang mengejar kebahagiaanpun berbeda-beda
Akibatnya berbeda pula kualitas kebahagiaannya
Ada yang semu dan ada yang sejati.

Sisi luar dari kebahagiaan memang relative dan tak bisa di sama ratakan.
Kebahagiaan itu ada di hati dan disitulah kebahagiaan bisa di ukur
Apakah semu atau sejati.

Aku kan berusaha untuk tidak memoles sisi luar sebuah kebahagiaan
Karena dengan menyalahi atau melanggar suara hati justru hanya akan menimbulkan
Kesenjangan
Split personality
Dan juga kebahagiaan yang sangat kabur serta semu.

Saatnya bagiku untuk mendengarkan suara hati dengan
Tulus
Jujur
Dan penuh kelapangan.

Suara hati kita
Nurani kita
Kata hati kita
Adalah jati diri keaslian kita
Akankah kita menghianatinya?

Aku ingin melepaskannya dengan senyum bahagia
Karena senantiasa aku ingin melihat dia bahagia
Saat mengetahui berita itu pun aku tidak marah
Walaupun rasanya hatiku meneteskan air mata
Aku hanya bersedih mengapa saat kutemukan bahagia bersamanya
Saat kuyakinkan hati tuk memilihnya
Ternyata semua itu berbeda tak sesuai dengan apa yang selama ini aku impi-impikan.

AKU RELA MELIHAT KAU DENGANNYA 

Tuhan tidak memberi apa yang aku harapkan, namun tuhan selalu memberi apa yang aku perlukan. Kadang aku sedih, kecewa. Namun diatas segalanya Tuhan sedang merajut yang terbaik untuk kehidupanku. Semoga aku termasuk golongan orang yang bersyukur”

Ijinkan aku belajar melupakanmu. 
Aku yakin, kau pasti menginginkan aku mempelajari itu.
Namun aku ragu, benarkah tidak ada setitik cinta pun di hatimu terhadapku.
Setelah semua kenangan yang kita ciptakan.
Setelah semua memoriku terisi oleh namamu.
Maafkan aku jika membuatmu tersakiti.
Katakan saja jika memang iya
Karena aku bukan orang yang mampu mengerti letak dimana salahku.
Mengapa hanya diam. Mengapa hanya mengacuhkan. Atau memang begitu caramu untuk mencampakkan?
Aku sadar.
Mungkin dalam perjalanan panjang kita pun engkau telah tersadar.
Aku tak pantas untukmu.
Aku hanyalah serpihan debu yang tak berarti
Tapi bagiku engkau laksana puteri.
Jujur, aku selama ini tersilau dengan sikapmu kepadaku.
Kau pergi meninggalkan aku seolah tak pernah terjadi apa-apa diantara kita.
Semudah itukah kau melupakan.
Jujur, jalan pikiranmu tak pernah kumengerti.
Sekarang, ijinkanlah aku belajar melupakan. 
Melupakan semua kenangan yang ada dalam memori ini.
Melupakan semua tawamu
Melupakan semua kebaikanmu
Melupakan semua tatapan itu
Melupakan saat aku selalu mengepuk-epuk dan membelai saat menjelang tidurm
Melupakan saat kau menangis dalam pelukanku
Melupakan semua impian serta harapanku untuk memiliki secara utuh dirimu. 
Ijinkanlah aku buyar dalam hitam pekat tak bermasa yang kan aku jalani kini.
Dulu, kau menarikku dari kesepian
Sedikit demi sedikit membimbingku
Mengingatkanku
Serta merubah apa yang tidak baik dengan perilaku ku.
Engkau ibarat cahayaku dalam kegelapan.
Sekarang
Setelah takdir kita selesai
Aku kan kembali berada dalam gelapku tanpa cahayamu.
Haruskah aku menjadi paranoid dalam cinta?
Belajar dari kisah bahwa cinta hanya ada untuk menyakiti. Belajar untuk menyakiti dahulu agar aku tak tersakiti?
Jujur aku tak pernah menginginkan itu.
Cukuplah aku yang berlinang air mata
Tetapi jangan engkau.
Kubiarkan engkau datang dan pergi sesukamu
Tahukah kamu apa itu lelaki matahari?
Sudahkah aku menceritakan kepadamu?
Nanti, tunggulah nanti aku akan menceritakannya.
Tunggulah saat itu agar engkau mengerti.
Di sini
Aku terus menunggumu
Yaitu mengundangku di acara akad nikahmu
Karena aku ingin benar-benar sadar bahwa engkau telah menemukan lentera hidupmu
Aku akan berusaha untuk selalu bertahan disini
Menunggu sembari aku meringkuk dalam sepi.
Sembari mengucapkan doa agar engkau bahagia.
Kejarlah mimpimu Lala.
Aku akan selalu mendukungmu.
Bahkan jika kelak engkau ingin meruntuhkan langit yang menaungi kita
Aku juga akan turut berperang bersamamu.
Bahkan jika memang bulan Oktober nanti engkau telah berhasil melaksanakan ijab dengan pria yang duduk di sampingmu
Meski jika pria itu bukan aku
Aku tetap akan selalu mendukungmu selama cinta ini masih di dalam hatiku.
Selama engkau masih menganggapku ada.
Jujur, aku tak ingin lagi mengganggumu.
Aku sudah berusaha, tetapi selaksa rindu menyerangku. 
Maafkan aku yang terlalu mencintaimu.
Maafkan aku yang tak sanggup menahan serangan itu.
Tetapi Lala
Aku akan belajar.
Aku akan belajar bagaimana cara agar aku tak mengganggumu lagi.
Maka
Ijinkan lah aku melupakanmu. Ijinkan aku belajar melupakan semua kenangan tentang kita. Melupakan semua kisah yang pernah terjadi.
Saat aku menulis tulisan ini, aku masih sangat mencintaimu walau ku tahu engkau tak lagi mengharapkannya.
Wahai engkau yang melumpuhkan hatiku.
Maafkan aku untuk semua salahku dan ijinkanlah aku belajar melupakanmu.
Andaikan aku boleh memilih
Aku ingin kita tetap bersama.
Membangun lembaran baru serta aku ingin menikahimu
Tetapi sudahlah
Aku rasa engkau tak akan mau. 
Ada pria yang lebih pantas untukmu dari pada aku.
semoga engkau bahagia.
Aku selalu berharap yang terbaik untukmu.
Belajar melupakan.
Semoga ini mudah…

“What’s in a name?” Hamidi Asfi Hani (?)

William-Shakespeare-quote1
“Pembicaraan di atas, latar belakangnya adalah dialog Romeo dengan Juliet saat membahas kisah cinta mereka. Dan Romeo mempertanyakan, Apa sih arti nama Capulet (nama keluarganya) yang justru membuat perselisihan.”


Mula dari nama terakhir saya, Hani. Banyak yang tidak mempercayai bahwa seorang pria yang berwajah dihiasi rambut-rambut tipis di bawah hidung, dagu dan pipi, mempunyai nama seperti umumnya nama perempuan. Namun jika digabungkan dengan nama depan saya, terlihat kelaki-lakian dari nama saya. Hamidi Asfi Hani.

Entah dari mana mulainya, saya pun dipanggil Hani yang terdengar kewanitaan. Kenapa tidak dipanggil Hamidi atau Asfi yang terdengar lebih netral dan juga tidak kodian. Mungkin karena anak sulung dari orang tua saya adalah laki-laki, maka anak bungsunya yaitu saya diharapkan lahir dengan berjenis kelamin perempuan karena orang tua saya sudah menyiapkan nama seperti nama perempuan.

Cukup janggal terdengar di telinga orang yang baru pertama kali berkenalan.

Hamidi Asfi Hani. Saya pikir Hamidi adalah nama yang diambil dari kata Hamid yang dalam bahasa Arab mempunyai arti terpuji. Kalau Asfi mungkin hanya sebuah kata dari rangkaian huruf yang dipakai untuk memisahkan nama Hamidi dan Hani, agar terdengar lebih irama. Dan Hani mungkin sama seperti sebagian orang yang mengartikannya dengan sayang.

Tetapi menurut situs pencarian google yang mengacu ke alamat nama.crazyartzone, bayilelakiku, carinamabayi, arti nama saya berbeda dari perkiraan saya.

Hamidi yang diambil dari sebuah bahasa karakteristik memiliki arti “Menikmati kompetisi. Berkeinginan kuat dan bertujuan. Senang di rumah, pekerja keras. Selalu diberkati. Dapat diandalkan, bertanggung jawab. Idealis, humanis.”

Asfi yang artinya adalah “Saat kelimpahan.” menurut alamat web, arti nama Asfi tersebut diambil dari nama bayi laki-laki Kristen.

Hani yang diambil dari bahasa Arab mempunyanyi arti ganda, yang pertama jika untuk laki-laki Islami mempunyai arti “Yang mengucapkan selamat.” Dan jika untuk laki-laki Arab mempunyai arti “Bahagia.”

Entah apapun arti dari nama saya, sedikit banyak saya menyukai nama yang diberikan oleh orang tua saya.  Hamidi Asfi Hani. Cukup filosofis. Dan saya pun tidak menanyakan arti nama saya kepada orang tua saya. Biar menjadi misteri bagi saya. Karena dalam nama sendiri terkandung do’a dan harapan orang tua kepada anaknya. Akan tetapi kalau nama itu hanya membuat perselisihan saja, maka nama itu tidak akan berarti apa-apa.

To My Nieces

Although you may be to young
to understand
and too beautiful to comprehend.
I will tell you about this world
this world i live in.

This world you will live in.

This world is not sweet.
This world is the enemy some
and the death of many.

This world has no patience for tears,
no compassion for the unhealthy.

This big onion of a world has
its folds
and as we peel the folds
we cry,
we cry for the death of many
and the impatience of the tears.

Antara Aku Kau dan Dia

***

Kepada Cinta
Kata maaf selalu tertuju
Kepada Cinta
Aku kan bertahan

Tetesan air membasahi taman kecil yang berada di depan kamar sebuah rumah kontrakan mahasiswi di pusat kota Yogyakarta. Hawa dingin merayap masuk melewati ventilasi. Alunan merdu terdengar dari percikan hujan yang menghantam lantai teras samping taman depan kamarnya. Tak ada kegiatan berarti yang dilakukan Rahayu. Ia hanya diam menatap bulir-bulir air yang jatuh dari langit lalu merosot halus melalui dedaunan. Di tempat yang berbeda, tanpa Rahayu sadari tetesan air pun ikut jatuh dari matanya dan merosot melalui pipinya yang halus. Beberapa menit kemudian isak tangis Rahayu mengalahkan alunan merdu hujan. Tangis lelah dari hubungan yang Ia jalani selama sepuluh bulan. Lelah dengan sikap kekasihnya -mahasiswa dengan tambahan status pekerja paruh waktu di sebuah kantor yang bergerak dibidang kuliner- yang seakan tidak memperdulikannya.

jejak-hujan-9

Hujan akhirnya reda dan tak lama langit dihiasi pelangi. Rahayu melihat jam yang tertera di ponsel pintarnya yang menunjukan jam16:20 WIB. Tertera pula empat panggilan tak terjawab dari Asfi dan sebuah pesan masuk. Pesan yang berisi,

From : Asfi
Masih marahan sama Setya? Terus Kamis besok lu jadi ikut gue pulang ke Jakarta?

Rahayu tak membalas, air matanya kembali mengucur. Hanya berharap Prasetya membalas pesannya yang Ia kirimkan sejak siang tadi.

17:15 saat matahari mulai bersiap melambaikan tangan untuk sejenak pergi membawakan hangatnya kepada belahan bumi lainnya, Rahayu mendengar Vira yang sedang berbicara dengan seseorang di depan pintu. Tak lama ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dengan langkah gontai Rahayu membuka pintu kamarnya.
“Nih ada bingkisan Yu..”
Sebuah hiasan dinding berbahan bunga melati harum nan wangi.
Matanya terbelalak tak percaya, seolah bertanya, “Untuk aku Vir? Dari siapa?” Tapi Vira sudah lebih dulu menyerahkan kartu ucapan bertuliskan Jasmine for Rahayu dengan emoticon senyum di akhirnya.
Seketika Rahayu tersenyum, Ia bagai dimabuk kepayang seperti ABG yang sedang jatuh cinta. Melati pertama untuknya. Lalu Ia langsung menuju kamar dan mengambil ponselnya yang ternyata sudah ada balasan dari Setya.

From : Prasetya ❤
Maafin aku sayang.
Lusa kamu mau pulang ke Jakarta?
Sabtu besok kakak aku nikah, Ibu mau kamu ke Bandung hari Jumat. Kamu bisa mampir ke Bandung dulu kan?
Pulang ke Jakartanya nanti aku antar.

Semua niatan untuk memutuskan hubungan ini sirna sudah. Semua amarah terganti menjadi senyum tak mau usai. Bukan karena sang Ibu yang meminta untuk ke Bandung tapi karena Setya yang mau mengantar pulang.

To : Prasetya ❤
Iya, see you soon :*

***

“Aduh, nanti mau mampir ke Bandung dulu ya, Fi?”
“Iya, Bu. Kan, perginya sama Asfi. Diizinin, kan, Bu?”
“Si Ayu tuh mau ketemu temennya ya disana? Nginep gak?” Terdengar suara Ibu tampak ragu seiring banyaknya pertanyaan yang diutarakannya.
“Kayaknya sih iya, Bu. Biar Ibu nggak khawatir, malemnya suruh nginep di rumah Sanu aja Bu. Ibu hubungin Ceu Edoh aja, Bu.” Asfi memberi saran agar Ibu menghubungi istri dari adik kandungnya yang juga tinggal di Bandung. Dahulu Asfi adalah kakak kelas Sanu di SMP, dikarenakan mereka satu kegiatan ekstrakurikuler yaitu sepakbola, mereka pun akrab. Sanu adalah anak pertama dari Encang Japran dan Ceu Edoh. Encang Japran adalah adik kandung dari ibu.
“Oh iya, bener juga kamu, Fi. Yaudah, Ibu izinin. Hati-hati, ya kalian!”
Ponsel pun diberikan kembali ke Rahayu.
“Bu, aku diizinin kan?”
tanya Rahayu dengan sedih memelas.
“Iya, hati-hati ya.”

***

“Kamu jadi berangkat kapan Fi?”
“Besok abis shubuh, Bun.”
“Kata Bu Rasti, kamu mau mampir ke Bandung dulu ya, Fi?” ucap Bunda di ujung telepon.
“Iya, sekalian nganterin Ayu, Bun.”
“Kok berangkatnya Kamis, apa gak kelamaan di jalan ya?”
“Gak kok Bun, ini udah waktu yang ideal kok” dibarengi Asfi yang tertawa
“Oh yasudah, hati-hati bawa mobilnya.”
Lalu Asfi menutup teleponnya, dibarengi Bunda yang mengelus dada turut merasakan kepedihan yang entah bagaimana tak pernah dirasakan Asfi. Yang bisa Bunda lakukan hanya menggeleng kepala melihat putra bungsunya hobi sekali menghabiskan waktu di luar rumah.

***

16765153848_f6f8672954_z

Sejauh-jauhnya aku melangkahkan kaki
Kamulah jalan terdekat menuju hidup yang aku harapkan
Dan andai kau mau ikut aku berjalan
Ada satu yang harus kau buang jauh
Ragu

Karena mereka akan pergi pagi buta, malam hari sebelumnya, Rahayu menginap di kontrakan Asfi. Semburat oranye masih memenuhi ufuk timur saat Asfi dan Rahayu bersiap untuk perjalanan jauh mereka. Lalu Asfi membantu Rahayu memasukkan Jansport dan Dr.Martens mereka ke jok belakang.
Kamis manis akan segera dimulai. Asfi tersenyum.

Matahari sudah terik dan membuat Rahayu terlonjak. Tadi pagi, saat berangkat dari rumah, warna oranye masih memenuhi langit. Sebuah selimut yang tersampir di tubuh Rahayu membuat keringat keluar dari kedua telapak tangannya. Rahayu merasakan dengan jelas, betapa tangannya telah basah berkeringat. Sebegitu mengantuknya sampai Rahayu lupa kapan dia memakai selimut ini.
“Yu kita makan siang dulu ya.”
Asfi menyadari Rahayu yang baru saja membenarkan posisi duduknya sambil mengucek mata.  Rahayu sama sekali tak ingin makan. Tapi Asfi berkali-kali menawarkan apakah ia lapar dan ingin makan. Tidak ada sahabat yang seperhatian Asfi. Rahayu yakin itu. Apalagi, semua kesamaan yang dimiliki mereka membuat keduanya makin tersambung.
Asfi mengambil CD album kompilasi lagu folk akustik dan membiarkan volumenya terputar pada skala maksimal. Asfi mulai bersenandung. Tak lama terjadilah karaoke dadakan di dalam Datsun SSS itu.
Pacar dan sahabat. Rahayu merasa menjadi orang paling bahagia sedunia.

“Oi, bangun!” Asfi menarik selimut dari dekapan Rahayu. Entah berapa menit setelah karaoke bersama, Rahayu tertidur lagi.
“Hah?” Rahayu terkesiap dan mendapati Asfi tengah bergeleng- geleng menatapnya.
“Ya ampun, dasar Rahayu sleepy head! Maafin aku!” rutuk Rahayu pada dirinya sendiri. Asfi tertawa, lalu menepuk-nepuk puncak kepalanya beberapa kali.
“Enggak apa-apa.”
Sikap Asfi barusan membuat Rahayu mematung. Asfi memanjakannya seperti seekor anak kucing piaraan. Rahayu  merasakan ada yang tidak beres, apalagi dengan hatinya. Tiba-tiba ada debar tak jelas yang berdetak keras di dalam sana. Ia tak mengerti apa artinya. Ia malah merasa takut, dan terus menerus menghadirkan bayangan Setya agar tak sedikit pun berpikiran macam-macam.
Asfi mungkin membaca raut wajah Rahayu yang menegang. Buru-buru ia membetulkan posisi kembali menghadap setir. Matanya menoleh kian kemari ke arah jalan.

***

Rahayu tertidur ketika mereka mulai perjalanan dari Wates. Kebiasaan Rahayu tidur di mobil tidak pernah berubah. Asfi melirik sekali lagi lewat kaca spion depan. Kepala Rahayu yang miring kiri sudah cukup untuk memberikan kesimpulan bahwa ia sedang merajut mimpinya.
Hobi menjelajah tempat-tempat baru dan seringkali tidur di mobil membuat Asfi selalu meninggalkan selimut di jok belakang. Diambilnya selimut itu, lalu disampirkan sebisa mungkin di atas tubuh Rahayu sambil tetap memegang kemudi.
Asfi senang jika Rahayu tertidur. Di saat gadis itu tertidur, ia tidak perlu sembunyi-sembunyi melirik lewat kaca spion untuk menatap Rahayu. Ia bisa menatapnya berlama-lama. Rahayu terbangun. Ada hal yang membuatnya terbangun. Ups, blitz kamera ponsel Asfi lupa dimatikan.
“Yu kita makan siang dulu ya.” Asfi bertanya sok santai sambil berharap Rahayu tidak menyadari kejadian tadi. Butuh beberapa menit sebelum Rahayu benar-benar terbangun. Alisnya bertaut menatap jam yang tertera di smartphonenya.
“Ini masih jam sepuluh, Fi. Belum masuk waktu makan siang.” Benar juga. Asfi malah bersikap bodoh di depan Rahayu. Diam-diam ia membatin, semoga Rahayu tidak berpikiran macam-macam.
Biasanya juga begitu. Suasana yang terlalu hening membuat Asfi menjadi salah tingkah. Buru-buru diraihnya CD akustik folk kompilasi kesukaannya, yang awalnya adalah kesukaan Rahayu.

10784891_568793169931298_493064937_n

Membangunkan Rahayu ternyata susah sekali. Tapi, Asfi menikmatinya. Kira-kira sudah ada belasan foto wajah Rahayu berpose tertidur yang sudah diambilnya pagi ini. Ada energi yang bisa menjadi bahan bakarnya dari wajah berambut sebahu itu. Ada yang hangat yang menjalar di tubuh Asfi jika menatap Rahayu, membuatnya ingin terus berlama-lama berada di dekat gadis itu, yang terkadang membuat akal sehatnya berhenti dan kalah dikuasai sisi egoisme kejantanannya.
Ketika sudah puas menjepret, Asfi lalu mulai membangunkan Rahayu dengan menarik selimutnya. Bersikap seratus delapan puluh derajat berbeda. Jauh lebih dingin dari Asfi yang biasanya.
“Oi, bangun!”
Rahayu langsung terkesiap sambil mengerjapkan mata beberapa kali, dan itu lucu.
“Ya ampun, dasar Rahayu sleepy head! Maafin aku!” Rahayu memarahi dirinya sendiri, yang mungkin secara langsung adalah permintaan maaf kepada Asfi. Tapi Asfi malah merasa pemandangan itu sungguh menggemaskan. Demi Tuhan, impuIs refleks dari otaknya yang membuatnya menepuk-nepuk kepala Rahayu. Ia tahu, ia tidak seharusnya melakukan itu. Ia tahu, tidak seharusnya ia menunjukkan perasaannya. Ia seharusnya sadar, bahwa Rahayu, teman SMA-nya, sekarang sudah dewasa dan dimiliki orang lain.
Asfi melirik pada Rahayu yang masih mematung. Jauh di dalam hati Asfi, ia memberontak dan memaki dirinya sendiri. Perasaan ini memang sejak awal seharusnya dihanguskan. Ia tidak seharusnya mencintai gadis yang sudah cinta mati pada laki-laki lain.

***

Setelah melakukan perjalanan yang jauh dan menyenangkan, mereka tiba di Bandung, keesokan harinya, Juma’at. Terlalu lama waktu yang dihabiskan untuk perjalanan Yogyakarta menuju Bandung. Tapi disitulah hobi Asfi berperan, dia lebih memilih berangkat lebih awal agar tidak dikejar waktu dan barangkali di tengah perjalanan, mereka menemukan tempat bagus untuk sekedar mengagumi ciptaan Yang Maha Esa.

“Setya nunggu di jalan mana?”
Tak ada hal lain yang bisa dilakukan Asfi untuk menghapus rasa bersalah mencintai gadis yang sudah cinta mati pada laki-laki lain, selain menanyakan di mana keberadaan Setya; setidaknya, sebagai tanda bahwa ia masih ingat bahwa Rahayu adalah kekasih orang lain.
Rahayu lalu menelpon Setya. Dan mendengar Rahayu berkomunikasi dengan Setya selalu membuat hati Asfi terasa nyeri.
“Iya, Yang. Aku udah sampai di Jalan Cilaki, yang ada Kantor Pusat Museum Pos Indonesia itu. Deket Gedung Sate”

2pdzt3-l-610x610-shorts-girl-swag-pin-blouse-denim-denim+shorts-dc-dc+martens-doc-martens-boots-tumblr-car-cars-glasses-sun-summer-drmartens-shirt

Tak lama kemudian, sebuah Vespa LXV150 3V muncul di depan Holden Asfi. Setya belum membuka helm saat Rahayu menghampirinya.
Lalu, Rahayu menarik lengan Setya untuk menghampiri Asfi yang sedang menghisap rokok dan sibuk dengan ponselnya.
“Ini yang namanya Asfi, Sayang. Dia sahabat aku dari SMA. Baik banget orangnya.” Ujar Rahayu sumringah sambil melongok lewat jendela mobil.
“Fi, kenalin ini Setya!” Setya menyodorkan tangan ke arah Asfi dengan wajah sangat bersahabat.
Dengan langkah berat, Asfi keluar mobil dan menyambar uluran tangan cowok bertubuh tinggi itu.
“Thanks, ya, udah mau nganterin cewek gue. Maaf ngerepotin.”
Asfi membalasnya dengan senyum yang sama ramahnya.
“Enggak apa-apa….” Asfi yakin ada gelombang besar yang bergejolak di hatinya saat bersikap pura-pura baik kepada Setya. Asfi juga tahu benar saat Rahayu menarik lengan Setya dan bermaksud mengenalkannya pada Asfi. Sedetik kemudian Asfi langsung membakar rokok dan pura-pura sibuk dengan ponselnya
Asfi lalu pamit setelah menyerahkan Rahayu kepada pemiliknya. Rahayu melambaikan tangan dengan gembira pada sahabatnya, sambil sebelah tangannya lagi menggandeng tangan kanan Setya.

Tapi, seperti yang selalu diinginkannya, mencintai saja sudah cukup.
Setelah berpamitan, Asfi lalu berputar balik. Di mobil, ia melihat-lihat ulang foto Rahayu yang tadi diambilnya. Lalu tersenyum- senyum sendiri. Setelah foto terakhir, kemudian muncul foto sebuah hiasan dinding bermelati cantik yang tiga hari lalu dikirimkannya untuk Rahayu. Setidaknya, hiasan dinding itu bisa membuat hubungan mereka akur kembali.
Asfi  tersenyum,  sambil  terus  melaju  mencari  tol  menuju Jakarta.
Aku benar-benar beruntung, batinnya bahagia.

Ini tembakau dan itu abu
Mari berpadu melepas rindu
Kau jauh dari cintaku
Aku mencinta tetap membisu
Sebab hanya dalam bait-bait sajak aku bisa merasakan kehilangan tanpa pernah memiliki saat punggungmu melambai di kejauhan

Belahan Saya

Sudah cukup banyak bercerita tentang orang lain. Kali ini saya mencoba bercerita tentang saya.

Sebelumnya saya perkenalkan saya yang lain ini terlebih dahulu, saya menamai saya yang lain ini adalah dia.
Bukan hanya saya yang mempunyai saya yang lain, anda pun mempunyai anda yang lain yang biasanya bersemayam di dalam hati anda, kadang anda yang lain ini juga tinggal di dalam kepala anda.

Dimulai saat saya sedang bertengkar dengan dia. Kondisi seperti ini begitu tidak menyenangkan bagi saya. Padahal sebelum saya dan saya yang lain bertengkar, saya dan dia sering berbincang. Mulai dari hal konyol dan tabu hingga yang serius. Bahkan hal serius yang semestinya serius, bisa saya dan saya yang lain bawakan dengan santai.

Tetapi saat itu, dia sungguh menyebalkan. Dia membawakan saya hal-hal yang bisa menjadi kendala. Beban-beban itu dia bisikan kepada saya setiap malam. Bahkan saat ini saya yang lain sudah berani melakukannya kapanpun, baik pagi hari, siang ataupun sore. Dia terus menghantui setiap waktu saya.

Tetek Bengek bukan Payudara Asma

“Sebagai suami, Wisnu juga mengurusi tetek bengek di dapur.”

Jika menggunakan makna denotasi maka pada gabungan kata Tetek Bengek adalah Payudara yang Sesak Nafas.
Dan jika mendengar kata payudara, maka tak bisa dipisahkan dengan wanita. Walaupun pria pun memilikinya, namun kata payudara punya kecenderungan untuk melekat pada kaum hawa karena sifatnya yang fungsional yaitu menyusui bayi.
Sedangkan bengek menurut kbbi adalah sesak napas.

Jika mengarah pada makna denotasi, maka kalimat diatas bisa berarti si Wisnu juga mengurusi payudara yang sesak napas.

Dan jika kalimat diatas membentuk makna konotasi, maka makna kias dari tetek bengek adalah hal yang kurang penting atau remeh/sepele. Gabungan kata tersebutlah disebut ungkapan atau idiom.

Untuk sekarang idiom tetek bengek belum bisa diterima sepenuhnya oleh pengguna bahasa indonesia. Baik digunakan dalam media massa, karya tulis ataupun disajikan dalam obrolan di media elektronik.

Namun, walaupun itu hanya ungkapan. Banyak orang yang tidak memahami idiom tersebut dan penggunaanya.
Banyak dari mereka mengartikannya beda, ya Payudara Asma.

Jika Tetek Bengek dibiarkan dan dianggap tabu, maka akan bernasib sama dengan mangkus dan sangkil.

Kentu ngan, 25 Nov 15