Sampai Jumpa Nanti Malam

Hujan, hanyutkanlah semua amarahku
Masuk ke parit melewati kerikil

Dingin, uapkanlah semua umpatanku
Mengudara melawan gravitasi

Petir, tegurlah aku dengan perilakumu yang lahir lebih dahulu daripada omonganmu
Tegas

Kalian datang ketika amarahku hanyut
Kalian datang ketika umpatanku mengudara
Kalian datang ketika aku harus tegas

Mengapa kalian harus datang dengan alasan ketiga itu?

Kopi tanpa pemanis dan marijuana tanpa tembakau telah tersaji di hadapanku
Jika kalian ingin datang, tunggu setelah aku menikmati mereka
Ya nanti malam
Jangan kalian jinjing semua alasan itu
Kaitkanlah semuanya dengan nurani kalian
Nanti malam

Hamidi Asfi Hani
Gowongan Lor 204
27 Desember 2014

Advertisements

VI.VI

Wahai kau cintaku
Kulumuri kau dengan madu cintaku
Setiap detik penuh makna

Wahai kau kasihku
Ku selalu berucap dalam doa, “Aku ingin kau menjadi rumah untukku. Tempat aku pulang kembali dan tinggal bersamamu.”

Wahai kau sayangku
Rasa ini selalu membayangiku. Segera aku selesaikan dan kita lekas ke pelaminan

image

VI.VI

Hamidi Asfi Hani
11 November 2014
Kereta Bengawan menuju Jogja via Jakarta – Solo

Nyaman

Taman kecil di depan sebuah rumah kontrakan menawarkan sebuah kenyamanan. Kelelahan terhapus oleh kesendirian yang bertemu taman yang sangat nyaman menjadi sebuah keselarasan yang sulit untuk ditinggalkan.

Susu dalam gelas keramik pun belum terlihat dasarnya. Sepertinya jiwa ini perlu tenggelam lagi di dalam gelas berisi susu. Ya agar hangat tetap menyelimuti.

Manusia-manusia sibuk berlalu lalang dengan beragam mimik wajah yang ditampilkan. Keriangan mereka berbanding lurus dengan kebimbangan hati ini. Ya seimbang seperti kurawa dan pandawa. Keseimbangan harus diperlukan.

Aku hanya melihat mereka dengan hati yang tenggelam di gelas susu. Aku tak ingin beranjak dahulu seperti matahari yang ingin pergi. Alasannya kuat. Nyaman.

Kontrakan Gowongan 204
26 September 2014 – 17:20 WIB

Siklus

Di teras ruang ini, aku dikunyah gelap. Mataku dirobek, tak lagi bisa terpejam. Bintang menjadi saksi, aku dibunuh sunyi. Kau datang menjinjing petaka. Untuk aku.

Di teras ruang ini, kau tak pernah memberi waktu. Secangkir cokelat panas dan beberapa linting marijuana pun enggan kusentuh. Kau pintar menghasut mereka. Jauh dariku.

Di teras ruang ini, aku belum binasa. Sedangkan kau akan segera binasa ditelan surya. Saat itulah aku bangkit dan menari riang di atas jasad mu. Itulah siklus antara kau dan aku. Malam.

Ruang Imaji – 69
21 Juli 2014 • 01:33

Sewindu Gempa Jogja dan Lumpur Lapindo – 27 Mei 2014

Senja kini berwarna oranye, dengan burung gereja membentuk shaf di kabel listrik yang menggantung. Aku hanya duduk seraya bertanya, apakah mereka nyaman berada di situ? apakah tak ada ranting pohon yang lebih aman untuk dipijaki?

Di kala Jogja terlalu berisik, semakin malam semakin menjerit. Aku mencicipi kopi yang berasal dari pulau Dewata atau Bali dan ditemani selinting ganja di sela-sela jari. Bicara soal alam, Jogja dan manusia, aku teringat atas peristiwa yang tak akan begitu mudah dilupakan. Membawa imajinasiku mengungkit peristiwa sewindu yang lalu. Peristiwa yang tak mungkin begitu mudah berlalu.

Aku bertanya pada diriku sendiri, dalam ruang penuh kegelisahan. Asap dari kendaraan bermotor pun tak henti-hentinya mengoplos udara untuk dikonsumsi makhluk hidup. Nasib alam ini akan na’as. Cuaca dunia ini akan panas. Semua terampas oleh manusia yang tak pernah puas. Akibatnya banyak manusia yang meregang nyawa. Ada juga manusia yang bercoloteh tentang alam yang agar selalu dijaga. Ada pula manusia yang bertindak untuk alam tanpa berbicara. Keberagaman sifat mereka adalah kecerdasan Tuhan untuk membedakan mana sifat manusia dan mana sifat hewan.

Jogja, 27 Mei. Hari ini selasa dan tepat sewindu yang lalu, peristiwa yang membuat air mata tak terbendung terjadi. Gempa Bumi. Gempa yang meluluhlantakkan beberapa wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2006. Banyak korban jiwa dan kerugian materil yang dirasakan warga Jogja. Saat ini Jogja telah bangkit, namun bagaimana dengan Sidoarjo?
Sidoarjo pada sewindu yang lalu pun menemui mimpi buruknya. Tragedi banjir lumpur panas mulai menggenangi areal persawahan, pemukiman penduduk dan kawasan industri. Lama-kelamaan mungkin seluruh wilayah sidoarjo akan tenggelam oleh lumpur jika tak ada peran yang berarti untuk menanggulangi kejadian itu.
Semua peristiwa yang terjadi di nusantara ini adalah tanggung jawab kita semua sebagai makhluk hidup yang dibekali akal pikiran dan perasaan.

Semoga semakin bersahabat dengan alam. Jangan menjadi buta dan tuli terhadap sekitar. Namun tak bisu untuk mengomentari sekitar.

Gowongan, 27 Mei 2014
Hamidi Asfi Hani

Tentang Rasa Syukur

Ini bukan tentang lebih tua, seumuran, atau lebih muda.

Ini tentang yang menyeimbangkan hidup dan yang bisa berjalan beriringan.

Yang memberi kedamaian di hati, kenyamanan di sisi dan kasih sayang tiada henti.

Tentang tertawa bersama, saling mendukung, mendoakan satu sama lain, berbicara lepas tak berbatas tanpa berpikir ini pantas atau tidak.

Ketika dunia begitu kejam, dia menjadi tempatmu untuk selalu pulang.

Yang bisa membuatmu sangat sabar dan berusaha meski sulit.

Menerimamu apa adanya, meskipun kamu cuma seadanya.

Wajah mungkin tak rupawan tapi kebersamaan dengannya itu sesuatu yang kamu yakin harus kamu perjuangkan.

Masa lalunya tidak kamu persoalkan karena tahu itu yang membentuknya sekarang.

Kekurangan masing-masing adalah tugas bersama untuk belajar saling menerima dan memperbaiki agar jadi lebih baik.

Tentang dia yang kamu ikhlas seumur hidup menjadi makmum atau imamnya.

Membuatmu bangga menjadi ibu atau ayah dari anak-anaknya.