Untitled #3

Keheningan malam ini mengantar ku pada cerita kita.
Hanya ada aku, kau, dan harapan.
Harapan dikala langit gelap menjadi terang.
Harapan yang tiada henti menunggu ku untuk mewujudkannya.

Dalam angan yang terselip doa.
Dirimu mengindahkan kalbu.
Tak kunjung henti membuatnya bermakna.
Hingga tiada lain segan untuk bersinggah.

Karya : MLR, 28 Feb 2015

Advertisements

Untitled #2

Menangis tapi tak berair mata.
Mengeluh tapi tak bersuara.
Hanya Kecewa yang tertanam.
Kata-kata tak lagi bermakna.
Dalam diam mencaci,
dalam diam menangis,
dalam diam mengharu.
Angin pun seakan berdiam diri.
Aku pun terhanyut dalam gundah.
Rasa ini pun telah sampai pada puncak nya.
Berada dalam ruang kesakitan.

Karya : MLR, 27 Feb 2015

Untitled #1

Sepi disini tanpa mu, seakan ada yang hilang setelah lambaian tangan mu mengantar ku pergi menjauh.

Beberapa hari itu terasa sangat menyejukan.

Kau yang selalu terlihat

Kau yang selalu ada

Dan perasaan ini yang selalu mengada-ada akan dirimu.

Kekagumanku terhadap mu semakin tak berdasar.

Semakin jauh dari kata rasional.

Sekali lagi …

Kau terlalu mengada-ada di pikiran ku.

Tak ada yang bisa terucap untuk menggambarkan semua.

Hanya kebahagiaan yang terasa.

Kebahagiaan di dalam bisu.

Kebahagiaan di dalam tawa.

kebahagiaan di dalam kecewa.

Kau terlalu mengada-ada …

Karya : MLR, 23 Feb 2015

Sampai Jumpa Nanti Malam

Hujan, hanyutkanlah semua amarahku
Masuk ke parit melewati kerikil

Dingin, uapkanlah semua umpatanku
Mengudara melawan gravitasi

Petir, tegurlah aku dengan perilakumu yang lahir lebih dahulu daripada omonganmu
Tegas

Kalian datang ketika amarahku hanyut
Kalian datang ketika umpatanku mengudara
Kalian datang ketika aku harus tegas

Mengapa kalian harus datang dengan alasan ketiga itu?

Kopi tanpa pemanis dan marijuana tanpa tembakau telah tersaji di hadapanku
Jika kalian ingin datang, tunggu setelah aku menikmati mereka
Ya nanti malam
Jangan kalian jinjing semua alasan itu
Kaitkanlah semuanya dengan nurani kalian
Nanti malam

Hamidi Asfi Hani
Gowongan Lor 204
27 Desember 2014

VI.VI

Wahai kau cintaku
Kulumuri kau dengan madu cintaku
Setiap detik penuh makna

Wahai kau kasihku
Ku selalu berucap dalam doa, “Aku ingin kau menjadi rumah untukku. Tempat aku pulang kembali dan tinggal bersamamu.”

Wahai kau sayangku
Rasa ini selalu membayangiku. Segera aku selesaikan dan kita lekas ke pelaminan

image

VI.VI

Hamidi Asfi Hani
11 November 2014
Kereta Bengawan menuju Jogja via Jakarta – Solo

Nyaman

Taman kecil di depan sebuah rumah kontrakan menawarkan sebuah kenyamanan. Kelelahan terhapus oleh kesendirian yang bertemu taman yang sangat nyaman menjadi sebuah keselarasan yang sulit untuk ditinggalkan.

Susu dalam gelas keramik pun belum terlihat dasarnya. Sepertinya jiwa ini perlu tenggelam lagi di dalam gelas berisi susu. Ya agar hangat tetap menyelimuti.

Manusia-manusia sibuk berlalu lalang dengan beragam mimik wajah yang ditampilkan. Keriangan mereka berbanding lurus dengan kebimbangan hati ini. Ya seimbang seperti kurawa dan pandawa. Keseimbangan harus diperlukan.

Aku hanya melihat mereka dengan hati yang tenggelam di gelas susu. Aku tak ingin beranjak dahulu seperti matahari yang ingin pergi. Alasannya kuat. Nyaman.

Kontrakan Gowongan 204
26 September 2014 – 17:20 WIB